UKURAN KELOMPOK DAN KETERIKATAN TERHADAP NONKONFORMITAS

By On Monday, November 25th, 2013 Categories : Psikologi

Tipe keterikatan yang agak berbeda menyangkut perilaku konformitas itu sendiri. Orang yang, karena satu dan lain hal, tidak menyesuaikan diri pada percobaan-percobaan awal cenderung terikat pada perilaku konformitas ini. Orang yang sejak awal menyesuaikan diri akan tetap terikat pada perilaku itu. Individu dapat didorong untuk menyesuaikan diri sejak awal melalui pemberian tugas membuat penilaian yang sangat sulit. Bila setelah itu diberi masalah yang lebih mudah, dia akan cenderung terus menyesuaikan diri. Bila pada mulanya orang itu diberi tugas yang mudah dan tidak mau menyesuaikan diri terhadap jawaban orang lain yang jelas-jelas salah, dia akan tetap memberikan penilaian lepas dalam masalah-masalah yang lebih sulit. Hal ini terutama terjadi bila tanggapan dikemukakan secara terbuka. Bila orang lain mengetahui tanggapan subjek, mereka akan mengetahui apakah orang itu menunjukkan konformitas atau tidak. Ini akan meningkatkan keterikatan pada konformitas atau pada kemandirian. Dalam situasi tatap muka, orang yang menunjukkan konformitas pada percobaan-percobaan awal akan mempertahankannya, dan orang yang tidak menunjukkan konformitas pada menyatakan bahwa suara satu orang yang menyimpang dapat memberikan pengaruh yang penting selama ada orang lain yang berbeda pendapat dengan mayoritas tetapi takut mengutarakannya. Gejala ini juga dapat menjelaskan mengapa di dalam negara totaliter dan beberapa agama ortodoks tidak diperkenankan ada orang yang berbeda pendapat. Bahkan satu suara lemah yang tidak sependapat dapat mendorong lain untuk menirunya. Setelah beberapa saat, rejim itu akan terancam bahaya. Kesimpulan bahwa orang yang menyimpang akan menyebabkan penurunan konformitas meru-pakan aspek yang paling penting dalam konformitas.
Misalkan ada dua, orang dalam sebuah ruangan dan salah seorang dari mereka mengatakan bahwa udara di dalam sangat panas. Bila ruangan itu sebenarnya sangat dingin, mungkin orang yang kedua tidak akan sependapat dengan yang pertama. Dia merasa kedinginan dan menganggap orang yang pertama itu keliru atau sedang demam. Bila dipaksakan untuk mengemukakan pendapat tentang suhu di dalam ruangan itu, mungkin kita akan mengatakan bahwa ruangan itu agak dingin. Bila ruangan itu berisi lima orang dan empat di antaranya menyatakan bahwa ruangan tersebut hangat, situasinya akan berbeda. Meskipun yang seorang merasa kedinginan, mungkin dia akan meragukan persepsinya sendiri Tidak mungkin keempat orang itu semuanya keliru atau sedang demam. Bila orang itu ditanyakan apa yang dia rasakan, mungkin dia akan merasa tidak cukup yakin untuk menyetujui pendapat yang lain. Mungkin saja dia akan mengatakan bahwa ruangan itu hangat dan kemudian bertanya-tanya sendiri apa yang salah pada dirinya. Bila seseorang tidak sependapat dengan Anda, mungkin dia sedang demam; bila ada empat orang yang tidak sependapat dengan Anda, mungkin Anda yang sakit. Empat orang akan tampak lebih meyakinkan daripada satu orang, baik dipandang dari sudut kejujuran maupun ke terandalan pendapat mereka; lebih sulit untuk tidak mempercayai kelompok diban-dingkan untuk tidak mempercayai satu orang. Serangkaian eksperimen menunjukkan bahwa konformitas akan meningkat bila ukuran mayoritas yang sependapat juga meningkat, setidak-tidaknya sampai tingkat tertentu. Dalam beberapa eksperimen awalnya Asch (1951) mengubah-ubah ukuran mayoritas dari dua sampai enam belas. Dia menemukan bahwa dua orang menghasilkan tekanan yang lebih kuat daripada satu orang, tiga orang memberikan tekanan yang lebih besar daripada dua orang, dan empat orang kurang lebih sama dengan tiga orang. Yang agak mengejutkan, dia menemukan bahwa penambahan jumlah anggota mayoritas sehingga lebih dari empat orang tidak meningkatkan konformitas, setidak-tidaknya sampai enam belas orang. Dia menyimpulkan bahwa untuk menghasilkan tingkat konformitas yang paling tinggi, ukuran kelompok yang optimal adalah tiga atau empat orang. Dengan menggunakan prosedur pengukuran yang sangat berbeda, Milgram dengan kawan-kawan (1969) menunjukkan hasil yang sangat berbeda. Situasinya amat sederhana. Dijalan yang sibuk di New York, sejumlah orang memainkan permainan yang sudah usang, yaitu dengan memandang sesuatu untuk melihat apakah orang lain juga akan memandangnya atau tidak. Kali ini permainan tersebut dilakukan secara sengaja sebagai eksperimen, dan terhadap para pejalan kaki itu dilakukan observasi secara teliti. Beberapa rekan peneliti berdiri dan meng-arahkan pandangannya pada jendela tingkat enam sebuah gedung perkantoran di seberang jalan. Berturut-turut satu, dua, tiga, lima, sepuluh, dan lima belas orang rekan peneliti itu berdiri di sekitar tempat tersebut dan melihat ke arah jendela. Ukuran utamanya adalah berapa persen pejalan kaki yang berhenti dan juga melihat ke arah jendela. Bila hanya satu orang yang mengarahkan pandangan ke jendela, hanya 4 persen pejalan kaki yang juga memandang jendela itu; bila ada lima orang, persentasenya naik menjadi 16, bila sepuluh orang, 22 persen; dan bila lima belas orang, 40 persen. Peningkatan konformitas yang sama terjadi bila ukuran kelompok meningkat, ditemukan oleh Mann (1977) dalam penelitian mengenai antrian di Jerusalem, Israel. Bila dua atau empat orang membentuk umumnya akan tetap mandiri. Dalam situasi bukan tatap muka efek ini tidak terlalu kuat. Kenyataannya, terdapat kecenderungan umum bagi sebagian besar subjek untuk lebih menyesuaikan diri pada percobaan-percobaan selanjutnya. Karena itu keterikatan dapat ditampilkan terhadap tanggapan tertentu (A adalah jawaban yang benar) atau terhadap bentuk perilaku tertentu (menyesuaikan perilaku).

UKURAN KELOMPOK DAN KETERIKATAN TERHADAP NONKONFORMITAS | ok-review | 4.5