TIPS MENCAPAI KESEPAKATAN KELOMPOK

By On Monday, November 25th, 2013 Categories : Psikologi

Faktor yang sangat penting bagi timbulnya konformitas adalah kesepakatan pendapat kelompok. Orang yang dihadapkan pada keputusan kelompok yang sudah bulat akan mendapat tekanan yang kuat untuk menyesuaikan pendapatnya. Namun, bila kelompok tidak bersatu, akan tampak adanya penurunan tingkat konformitas. Bahkan bila satu orang saja tidak sependapat dengan anggota yang lain dalam kelompok tersebut, tingkat konformitas akan turun sekitar seperempat dari tingkat umumnya. Ini terjadi dalam kelompok kecil, dan juga muncul dalam kelompok dengan anggota sampai 15 orang. Salah satu hal yang paling mengesankan mengenai gejala ini adalah bahwa gejala tersebut tidak bergantung pada siapa orang yang tidak sependapat dengan kelompok. Tidak perduli apakah orang tersebut mempunyai jabatan tinggi atau tidak, mempunyai keahlian atau tidak, konformitas cenderung turun sampai tingkat yang sangat rendah (Asch, 1951; Morris 8c Miller, 1975). Dalam suatu penelitian yang dilakukan ketika wilayah Selatan masih dipisah-pisahkan secara ketat berdasarkan garis rasial, seorang kulit hitam mempunyai pendapat berbeda dapat menurunkan tekanan dalam menyesuaikan pendapat di antara orang kulit putih. Malof &: Lott (1962) menempatkan seorang mahasiswa kulit putih dari Selatan dalam situasi standar penelitian Asch di mana mayoritas memberikan tanggapan yang salah. Kemudian, seorang mahasiswa kulit hitam dalam kelompok tersebut melanggar kesepakatan dengan tidak menyetujui pendapat mayoritas. Tingkat konformitas baik untuk subjek yang mempunyai prasangka maupun subjek yang tidak mempunyai prasangka menurun. Kenyataannya, mahasiswa kulit hitam yang tidak sependapat dengan kelompok itu menyebabkan terjadinya penurunan konformitas dalam jumlah yang sama dengan jumlah yang ditimbulkan oleh mahasiswa kulit putih yang tidak sependapat. Tampaknya, kehadiran orang lain yang tidak sependapat dengan mayoritas selalu mempermudah setiap orang untuk menyatakan pendapatnya sendiri, tidak perduli bagaimana perasaannya terhadap orang lain. tersebut. Penurunan konformitas ini juga terjadi dalam kondisi di mana orang yang berbeda pendapat itu memberikan jawaban yang salah. Bila mayoritas menjawab A, orang lain mengatakan C, sedangkan jawaban yang benar adalah B, tekanan yang dirasakan seseorang untuk menyesuaikan pendapat dengan mayoritas akan lebih kecil dibandingkan bila setiap orang menyetujui sebuah jawaban yang salah. Adanya ketidaksepakatan dalam suatu kelompok akan mempermudah untuk tetap bebas meskipun kenyataannya tidak ada seorang pun yang menyetujui pendapatnya.
Dalam penelitian yang, subjek dalam kelompok lima orang dihadapkan pada kelompok yang mayoritas mempunyai kesepakatan, atau tiga orang mayoritas dan satu orang yang tidak sependapat. Orang yang tidak sependapat ini memberikan jawaban yang benar atau jawaban yang malah lebih keliru dibandingkan dengan jawaban mayo-ritas. Kepada mereka diberikan tiga bentuk tugas penilaian yang berbeda penilaian perseptual seperti yang dipergunakan Asch, pertanyaan informatif apakah Hawaii merupakan negara bagian, dan butir soal pendapat di mana tidak ada jawaban yang benar kecuali beberapa jawaban populer. Untuk ketiga tugas tersebut tampak bahwa kehadiran orang yang tidak sependapat akan menurunkan konformitas, bahkan meskipun orang itu memberikan jawaban yang lebih keliru dibandingkan jawaban mayoritas. Efek yang paling tampak pada butir soal perseptual, dan yang paling lemah tampak pada butir soal pendapat. Morris (1975) menunjukkan bahwa saat terjadinya perbedaan pendapat bisa menimbulkan perbedaan. Bila orang menyatakan pendapat yang berbeda setelah mayoritas menyatakan pendapatnya, konformitas akan menurun. Tetapi bila orang yang mempunyai pendapat berbeda itu memberikan jawabannya sebelum mayoritas, mengemukakan jawaban, akan terjadi penurunan konformitas yang lebih besar. Tampaknya, bila subjek mendengar jawaban yang benar sejak awal, bobot pengaruh jawaban mayoritas yang salah akan lebih kecil. Penurunan konformitas yang drastis karena hancurnya kesepakatan disebabkan oleh beberapa faktor yang telah kita bahas. Pertama, tingkat kepercayaan terhadap mayoritas akan menurun bila terjadi perbedaan pendapat, meskipun orang yang berbeda pendapat itu sebenarnya kurang ahli bila dibandingkan anggota lain yang membentuk mayoritas. Tentu saja, ini terjadi dalam situasi di mana subjek yang sebenarnya juga mempunyai pendapat yang berbeda dengan mayoritas. Yaitu, dia memiliki pendapat yang berbeda dengan pendapat mereka, dan dia juga mengetahui adanya orang lain yang berbuat seperti itu. Kenyataan bahwa orang lain juga tidak sependapat dengan kelompok menunjukkan adanya kemungkinan untuk meragukan bahwa masalahnya belum benar-benar jelas, dan bahwa mayoritas mungkin salah. Ini akan mengurangi ketergantungan individu terhadap pendapat kelompok sebagai sumber informasi, dan dengan demikian akan mengurangi konformitas.
Kedua.Jbila anggota kelompok yang lain mempunyai pendapat yang sama, keyakinan individu terhadap pendapatnya sendiri akan semakin kuat. Seperti telah kita ketahui, keyakinan yang kuat akan menurunkan konformitas. Pertimbangan yang ketiga menyangkut keengganan untuk menjadi orang yang menyimpang. Bila orang mempunyai pendapat yang berbeda dengan orang lain dia akan dikucilkan dan dipandang sebagai orang yang menyimpang, baik dalam pandangannya sendiri maupun dalam pandangan orang lain. Bila orang lain juga mempunyai pendapat yang berbeda, dia tidak akan dianggap menyimpang dan tidak akan dikucilkan.
Akibat yang terakhir ini mungkin harus dimanfaatkan sebagai dorongan untuk mengemukakan apa yang ada dalam benak seseorang. Dalam kisah “Baju Baru Kaisar,” misalnya, semua orang melihat kaisar yang telanjang bulat dalam pakaian baru yang dianggapnya indah. Namun, setelah seorang anak berani mengatakan bahwa kaisar itu sebenarnya telanjang bulat, orang lain juga memperoleh keberanian untuk melawan mayoritas. Beberapa saat kemudian mayoritas tersebut berubah menjadi minoritas, dan bahkan mungkin menghilang sama sekali. Tentu saja, ini merupakan argumen yang kuat mengenai kebebasan berbicara, karena antrian, hanya terdapat kecenderungan yang kecil saja bahwa orang akan mengikuti antrian ini. Tetapi bila ada enam orang atau lebih yang membentuk antrian, orang-orang yang baru datang biasanya juga akan ikut dalam antrian itu. Semakin banyak jumlah orang dalam suatu antrian, semakin besar kemungkinan orang lain akan ikut mengantri. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Wilder (1977) memberikan kejelasan bahwa yang menimbulkan perbedaan itu bukan jumlah orang semata-mata. Dalam penelitian ini, subjek mendengarkan pendapat dari orang lain yang jumlahnya berbeda-beda. Perbedaan penting antara penelitian ini dan penelitian sebelumnya adalah bahwa orang- orang lain ini kadang-kadang mengutarakan pendapatnya sebagai orang yang bebas dan kadang-kadang sebagai anggota kelompok. Beberapa subjek mendengarkan pendapat empat orang yang menjadi anggota suatu kelompok, yang lain mendengarkan pendapat empat orang yang menjadi anggota dua kelompok, dan yang lain mendengarkan pendapat empat orang yang berdiri sendiri. Wilder menyimpulkan bahwa pengaruh ukuran kelompok terhadap tingkat konformitas tidak terlalu besar. Jumlah pendapat lepas (independent opinion) dari kelompok yang berbeda atau dari individu, merupakan pengaruh utama. Hal ini dapat menjelaskan mengapa peningkatan ukuran kelompok di atas tiga atau empat orang hanya sedikit mempengaruhi konformitas. Bila kelompok itu bertindak sebagai suatu kesatuan, jumlah individu tambahan dalam kelompok tersebut tidak akan menimbulkan pengaruh. Tetapi tambahan penilaian lepas dari orang di luar kelompok dapat meningkatkan konformitas.

TIPS MENCAPAI KESEPAKATAN KELOMPOK | ok-review | 4.5