TIPS MELAKUKAN PENDEKATAN KOGNITIF

By On Wednesday, November 20th, 2013 Categories : Psikologi

Persepsi manusia yang didominasi dua asumsi, yakni: (1) Etos pembentukan kesan dianggap, agak bersifat mekanis dan cenderung-hanya memantulkan sifat manusia yang memberi stimulus. (2) Proses itu berada di bawah dominasi perasaan atau evaluasi, dan bukan oleh pikiran atau kognitif. Kedua asumsi tersebut berakar pada pendekatan teori belajar. Pembentukan kesan tersebut secara mekanis memantulkan terkumpulnya informasi tentang pemberi stimulus yang serupa dengan analisis teori belajar sederhana mengenai tikus putih yang belajar berbelok ke kanan dan bukan ke kiri dalam jaringan jalan T. Jika tikus tadi diberi butir makanan di sebelah kanan dan mendapat kejutan jika berbelok ke kiri, maka dia akan belajar berbelok ke kanan tanpa analisis besar atau pemutarbalikan kenyataan situasi. Teori penyamarataan juga mengasumsi bahwa proses pembentukan kesan bersifat sangat evaluatif. Segala informasi langsung diringkas menjadi evaluasi. “Ramah” hanya mendapat +5, “kuat” +3, dan “membosankan” hanya 3. Ini juga serupa dengan teori belajar, di mana lingkungan dianggap terdiri dari hadiah dan hukuman saja. Kita belajar menyukai serta mendekati hal-hal yang baik serta membenci dan menjauhi hal-hal yang buruk.
Meskipun banyak terdapat nilai dalam kedua asumsi di atas, tetapi keduanya sangat menyederhanakan proses. Kita tidak begitu saja menerima tiruan lingkungan secara harafiah. Kita tidak memandang manusia hanya terdiri dari penggalan daging, pakaian, dan gerakan serta suara, meski secara harfiah penggalan tadilah yang membentuk mereka. Kita merupakan pengamat yang aktif dan terorganisasi. Kita menerima informasi secara selektif lalu mengorganisasinya menjadi gestalt yang mempunyai makna dari masukan penuh tadi. Setiap informasi dipandang sebagai aspek perpaduan menyeluruh, dan bukan sebagai unsur lain yang terisolasi yang jiarus dipukuLrata menjadi kesan menyeluruh. ImplikasPpokok dari pembentukan kesan adalah bahwa pemrosesannya tidak mekanis, melainkan melibatkan usaha untuk melihat arti yang melekat pada objek pemberi stimulus.
Jadi, manusia dianggap berupaya untuk mengembangkan kesan bermakna dari semua informasi yang mereka punyai atas orang lain (atau kejadian, atau apa saja), dan bukannya membuat pukul rata atas setiap unsur terpisah. Inilah yang dalam ungkapan lama dikatakan sebagai “keseluruhan lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya.” Pengamat tidak hanya mempertimbangkan setiap penggal informasi terpisah, melainkan berupaya untuk menyimpulkan kesan tentang seseorang sebagai suatu keseluruhan. Hal ini memiliki beberapa implikasi tertentu.

TIPS MELAKUKAN PENDEKATAN KOGNITIF | ok-review | 4.5