TIGA TEORI PENDIDIKAN : NATIVISME, EMPIRISME DAN KONVERGENSI

By On Thursday, October 31st, 2013 Categories : Antropologi

Tiga teori pendidikan yang diperkenalkan oleh para ahli pendidikan seperti teori nativisme, empirisme dan konvergensi dapat dikatakan bahwa secara umum pendidikan bisa dilaksanakan terhadap peserta didik. Dalam adat Minang, ada suatu keyakinan bahwa jika seorang anak melakukan suatu kesalahan, maka respon pertama yang diberikan oleh masyarakat adalah “anak siapa itu” atau “siapa bapaknya”. Pertanyaan ini memang bermakna ganda, yang pertama berarti tidak diketahui siapa orang tua dari anak tersebut, dan yang kedua ada makna konotasi, seolah-olah pertanyaan tersebut sudah mengandung jawaban di dalamnya, yang mana orang tua anak tersebut memang dikenal berakhlak buruk. Pepatah adat juga mengatakan: Kuriak induknyo, bintiak anaknyo Kalau karuah aia di hulu, sampai ka muaro karuah juo Orang Minang banyak tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke manca negara yang pada umumnya melakukan kegiatan ekonomi (berdagang) yang disebut marantau. Marantau yang merupakan perpindahan spontanitas ini sebagai suatu usaha untuk merobah nasib ke arah yang lebih baik, sebagaimana disebutkan dalam mamangan adat berikut ini yang mendorong orang Minang untuk mencari ilmu dan pengalaman. Karatau madang di ulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun (Keratau madang di hulu, berbuah berbunga belum, merantau anak dahulu, di rumah berguna belum). Pepatah di atas menyuruh bahwa setiap orang Minang harus meningkatkan diri atau mengembangkan intelektualnya, artinya seseorang bisa berkembang melalui kegiatan pendidikan. Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa seseorang dapat saja mewarisi bakat dan sifat orang tuanya, dan di balik itu diyakini bahwa dengan menuntut ilmu, intelektual seseorang dapat berkembang. Oleh karena itu adat meyakini bahwa adanya bakat atau turunan (hereditas) dari orang tua, di samping juga terdapat pengaruh lingkungan pendidikan. Rekonsiliasi kaum adat dan Kaum Padri membuahkan suatu prinsip dasar adat yaitu adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Oleh karenanya dasar dan tujuan pendidikan adat Minang adalah juga dasar dan tujuan pendidikan agama Islam. Di samping itu adat menitik beratkan kepada ajaran belajar kepada alam sebagai mana dinyatakan dalam ajaran adat berikut “Alam takambang jadi guru\ Alam terkembang jadi guru merupakan ajaran rasional dan ajaran budi yang berpangkal kepada keluhuran hati nurani. Selain mendasarkan ajarannya kepada Islam, adat Minang mendasarkan ajarannya kepada alam.
Pandangan hidup orang Minang ini memberi arti: Pertama, hukum kausalitas (sebab akibat), dampak dari hukum ini adalah membentuk cara berfikir orang Minang menjadi rasional yaitu mengutamakan alasan-alasan yang dilandasi dengan akai sehat. Kedua, ajaran budi atau akhlak yang mendasarkan kepada rasa dan perasaan atau simpati dan empati (raso jopareso). Hal ini terkait dengan keutamaan dan kehalusan budi pada masyarakat Minang yang berdampak pada masyarakat dan individu, sehingga pendekatan atau sikap orang Minang selalu menyeimbangkan antara rasio dan rasa. Ajaran budi ini berasal dari analog sumbangan alam kepada manusia; alam menyediakan diri untuk kebutuhan hidup manusia, namun alam tidak pernah menuntut balik atas kebaikan yang telah diberikannya. Kebaikan alam demikian disebut ajaran budi atau akhlak. Ajaran tersebut memberi pengertian dan inspirasi kepada masyarakat Minang bahwa suatu kebaikan yang dilakukan untuk orang lain hendaklah atas dasar ketulusan dan keikhlasan hati, sebaliknya bukan atas dasar untung rugi.

TIGA TEORI PENDIDIKAN : NATIVISME, EMPIRISME DAN KONVERGENSI | ok-review | 4.5