TERLAMPAU MEREMEHKAN INFORMASI YANG BERDASARKAN KONSENSUS

By On Saturday, November 23rd, 2013 Categories : Psikologi

Salah satu pelindung terhadap kekeliruan atribusi fundamental seharusnya adalah informasi atas dasar konsensus. Dengan konsensus tinggi, kita harus membuat atribusi situasional. Jika kita tahu bahwa hampir setiap orang memberikan respons yang sama kepada suatu kesatuan tertentu dalam konteks tertentu, maka atribusi berdasarkan disposisi akan menjadi tidak tepat. Contohnya, jika kita tahu bahwa hampir setiap orang berpikir bahwa ilmu hitung itu sukar, maka kita tidak akan mengatribusikan kesulitan Karman dalam ilmu hitung dengan kemampuan atau usaha yang kurang. Kita pasti akan mengatribusikannya kepada situasi yang sulit. Akan tetapi, orang cenderung meremehkan penggunaan informasi yang berdasarkan konsensus. Kovariasi Kelley mengasumsikan bahwa konsensus, kejelasan, dan konsistensi terhadap informasi selalu dipergunakan secara sama. Dari ketiganya, tidak ada yang dipandang lebih informatif dari yang lain. Eksperimen yang memperbandingkan ketiganya, menemukan bahwa orang tidak juga menggu-nakan informasi sebagai hasil konsensus itu. Sebagai contoh, dalam usaha menjelaskan mengapa Susi mentertawakan pelawak, para pengamat umumnya kurang memperhatikan apakah orang-orang lain mentertawakannya juga atau tidak. Sebaliknya, mereka memberikan respons kepada pelawak itu semata-mata sesuai dengan riwayat hidup Susi sendiri, yaitu apakah dia selalu mentertawakan pelawak ini atau tidak, dan apakah Susi mentertawakan semua pelawak atau tidak. Konsistensi dan kejelasan informasi memang dipergunakan, tetapi orang cenderung mengabaikan informasi sebagai hasil konsensus.
Orang bukan saja sering mengabaikan informasi yang dapat diperoleh tentang perilaku orang lain, melainkan mereka juga membayangkan bahwa semua orang akan memberikan respons yang sama dengan mereka. Mereka cenderung melihat perilaku mereka sendiri sebagai sesuatu yang khusus. Dalam peragaan sebelumnya tentang apa yang dinamakan pengaruh konsensus palsu, para mahasiswa diminta berjalan mengelilingi kampus selama 30 menit sambil mengalungkan papan besar yang bertuliskan “Makanlah di restoran milik Joe.” Beberapa mahasiswa menyetujuinya, yang lain menolak. Namun kedua kelompok tersebut mensinyalir bahwa lebih kurang dua pertiga mahasiswa yang lain di kampus akan melakukan pilihan yang serupa dengan pilihan mereka sendiri. Jelas bahwa kedua kelompok itu keliru. Bilakah orang paling cenderung mengabaikan informasi tentang orang lain dalam membentuk atribusi sebab-akibat? Artinya, bilakah mereka paling cenderung mengabaikan informasi yang berdasarkan konsensus? Jika orang mempunyai pengalaman pribadi langsung dengan objek yang dipermasalahkan, mereka cenderung lebih mempercayai pengalaman mereka sendiri daripada laporan mengenai pengalaman orang lain. Feldman dan rekan-rekan (1976) memutarkan video kepada para subjek tentang seseorang yang sedang memilih beberapa daftar gambar kesayangannya. Tidak lama setelah memilih, empat orang yang terdekat dengan kamera ditanyai apakah mereka menyukai objeknya atau tidak. Mereka semua menjawab secara positif bahwa memang mereka suka (konsensus tinggi) atau secara negatif (konsensus rendah). Kemudian para subjek diminta menjelaskan pilihan orisinal orang tadi.
Dari contoh Kelley, konsesus tinggi akan menjurus kepada atribusi dari sasaran yang memberi stimulus: Jika setiap orang menyukai komputer Apple, pasti mereka merupakan komputer yang hebat. Konsensus rendah akan menjurus kepada atribusi manusia: Jika hanya satu orang yang menyukai gado-gado, pastilah makan gado-gado telah menjadi kebiasaannya. Feldman et al. juga memvariasikan apakah subjek juga disuruh menonton film yang sama tentang objek seperti yang diperlihatkan kepada sang aktor atau tidak. Hasilnya menunjukkan bahwa informasi yang berdasarkan konsensus berpengaruh sedikit saja jika subjek memperoleh informasi langsung tentang objek yang dipermasalahkan. Orang juga cenderung mengabaikan informasi baru yang berdasarkan konsensus jika mereka sudah memiliki banyak pengalaman mengenai perasaan dan perilaku orang lain. Mungkin mereka bergantung kepada naluri mereka sendiri tentang perasaan orang lain, dan bukan menerima laporan konsensus sosial dari seorang pembuat eksperimen. Higgins dan rekan-rekannya (1982) memutarkan video kepada anak-anak tentang anak lain yang memilih gambar-gambar binatang, mobil, karakter kartun, dan warna. Hal ini melengkapi informasi konsensus tentang pilihan orang lain. Tetapi, informasi berdasar konsensus ini tidak begitu berpengaruh kepada atribusi anak anak jika hal itu berasal dari anak-anak yang sebaya dengan mereka dibandingkan dengan anak yang tidak sebaya. Mungkin, alasannya adalah karena para subjek sudah memiliki pikiran lebih jelas tentang reaksi teman sebayanya terhadap objek ini. Maka mereka cenderung mengabaikan informasi minimal yang diberikan berdasar film video. Tetapi mereka kurang mengetahui reaksi anak-anak yang tidak sebaya dengan mereka, sehingga mereka menggunakan bantuan film video di situ. Yang terakhir, dalam beberapa situasi setiap orang cenderung melakukan hal yang serupa, karena nilai pribadi kebiasaan seseorang tidaklah begitu relevan. Hampir semua orang lebih menyukai mobil Mercedes 450SL baru dibandingkan Ford Pinto yang sudah 10 tahun umurnya. Tetapi, dalam situasi lain, nilai kebiasaan seseorang akan menjadi lebih penting. Apakah Anda lebih senang menonton konser atau menonton pertandingan tinju mungkin lebih bergantung kepada selera masing-masing orang daripada kemashuran dirigennya atau keterampilan petinju. Dan tidak mengherankan bahwa informasi yang berdasarkan konsensus terbukti lebih kecil pengaruhnya ketimbang selera pribadi. Dalam telaah Gilovich (1983), para mahasiswa mengabaikan informasi (yang berdasarkan— konsensus tentang apakah mereka lebih suka menonton pertandingan senam atau atletik, karena mereka mengasumsikan pilihan semacam itu sebagai kebiasaan pribadi. Mereka lebih serius menanggapi konsensus dalam menyeleksi antara membeli saham di IBM atau Exxon, karena karakteristik objektifnya mungkin akan menentukan sekali keputusan orang. Apakah orang bersikap “tidak rasional” bila mengabaikan informasi konsensus dalam situasi semacam itu? Nampaknya mereka membuang informasi yang bagus jika mereka mengabaikan konsensus semata-mata karena mereka pernah melihat gambar dari objek yang dipermasalahkan, seperti dalam telaah Feldman et al. (1976). Boleh jadi objek yang menonjol tadi membuat penilaian lainnya dikesampingkan. Akan tetapi, dengan mengetahui cara orang lain melihat objek tadi telah menunjukkan perasaannya bahwa tindakan tersebut sudah merupakan informasi. Tidaklah masuk akal jika kita mengesampingkan laporan teman-teman kita yang pernah melihat film tertentu, dan malahan justru sebaliknya bahwa penerimaan laporan seperti itu akan mempermudah untuk membuat keputusan tentangnya secara singkat. Lain daripada itu, nampaknya cukup masuk akal bahwa anak berusia 4 tahun memiliki pikiran yang cukup tajam dalam menilai cara anak seusia mereka bersikap, dan karena itu akan mengabaikan film video dari teman sebayanya. Dan cukup masuk akal bila kemudian mengesampingkan konsensus tentang selera pribadi. Jadi, seperti telah dikatakan sebelumnya, kovariasi Kelley merupakan contoh titik tolak yang baik untuk menentukan apakah orang sampai kepada atribusi yang masuk akal atau tidak. Tetapi, hal ini bukan merupakan bukti yang pasti.

TERLAMPAU MEREMEHKAN INFORMASI YANG BERDASARKAN KONSENSUS | ok-review | 4.5