TEORI KESEIMBANGAN DAN KONSISTENSI KOGNITIF

By On Saturday, November 23rd, 2013 Categories : Psikologi

Kerangka utama lain untuk mempelajari sikap menekankan konsistensi kognitif. Pendekatan konsistensi kognitif berkembang dari pandangan kognitif; pendekatan ini meng-gambarkan orang sebagai makhluk yang menemukan makna dan hubungan dalam struktur kognitifnya. Pendekatan ini meliputi sejumlah teori yang agak serupa. Mereka berbeda dalam beberapa hal penting, tetapi gagasan dasar yang melatarbelakanginya sama. Semua teori itu berasumsi bahwa orang mencari konsistensi di antara kognisi mereka. Individu yang memiliki keyakinan atau nilai yang tidak konsisten satu dengan lainnya berusaha untuk membuat keyakinan atau nilai itu menjadi lebih konsisten. Demikian juga, jika kognisinya konsisten dan dia dihadapkan pada kognisi baru yang akan menimbulkan ketidakkonsistenan, dia akan berusaha untuk meminimalkan ketidakkonsistenan itu. Berusaha mempertahankan atau memperbaiki konsistensi kognitif adalah motif yang utama.
Ada tiga pokok yang berbeda dalam gagasan konsistensi kognitif. Yang pertama adalah teori kese-imbangan, yang meliputi tekanan konsistensi di antara sistem kognitif yang sederhana (Heider, 1958). Sistem seperti ini terdiri dari dua objek (seringkali salah satu di antaranya adalah orang lain), hubungan di antara kedua objek itu, dan penilaian individu tentang objek-objek tersebut. Ada tiga penilaian: penilaian individu tentang setiap objek dan tentang hubungan objek satu sama lain. Dengan kata lain, perasaan seseorang (P, untuk orang) tentang orang lain (0, untuk yang lain) dan perasaan-perasaan mereka tentang objek (X, untuk sesuatu). Sebagai contoh, pertimbangkanlah sikap seorang murid terhadap seorang guru dan perasaan mereka bersama tentang abortus. Bila kita batasi diri kita sendiri pada perasaan positif-negatif yang sederhana, terdapat beberapa gabungan unsur-unsur ini.
Pengertian tentang gaya keseimbangan muncul dari teori Gestalt mengenai organisasi perseptual. “Seperti yang telah kita ketahui orang berusaha untuk memperoleh “bentuk yang bagus” dalam persepsi mereka tentang; orang lain, seperti juga mereka berusaha memperoleh “bentuk yang bagus” atau “tigu. yang bagus” dalam persepsi mereka tentang benda mati. Hubungan yang seimbang di an tara dua orang bersifat “cocok”; hubungan itu “sepadan,” membuat gambaran yang pantas, masuk akal, penuh arti. Motif utama yang mendorong orang ke arah keseimbangan adalah usaha untuk memperoleh pandangan-tentang hubungan sosial yang selaras, sederhana, logis, dan penuh arti. Jadi, sistem yang seimbang adalah sistem di mana Anda sependapat dengan, orang yang Anda sukai atau tidak se pendapat dengan orang yang tidak Anda su kai. Ketidakseimbangan terjadi bila Anda tidak sependapat dengan orang yang Anda sukai atau sependapat dengan orang yang tidak menyukai Anda. Dengan kata lain, sistem hanya seimbang bila satu atau tiga hubungan di antara hubungan-hubungan ini bersifat positif. Terdapat empat kemungkinan situasi yang seimbang situasi di mana hubungan di antara unsur-unsurnya konsisten satu sama lain. Bila murid menyukai guru dan keduanya mendukung abortus, sistem ini seimbang. Tentu saja hal itu konsisten bila dua orang yang menyukai satu sama lain menyukai hal yang sama; hubungan mereka selaras karena keduanya sepaham. Jika murid itu menyukai gurunya dan keduanya tidak .menyukai abortus, keseimbangan (keselarasan) juga muncul. Tidak satu pun mendukung, abortus, dan mereka bersatu dalam perlawanan terhadap abortus. Terakhir, jika murid dan guru tidak menyetujui abortus, tetapi murid itu tidak suka dan tidak ingin melakukan apa pun bersama gurunya, maka tidak ada konflik. Sistem yang tidak seimbang memiliki sejumlah hubungan negatif yang aheh. Hal ini terjadi bila murid dan guru menyukai satu sama lain tetapi tidak sepaham, atau tidak menyukai satu sama lain dan sepaham tentang abortus. Ketidakkonsistenan ittr terletak pada kenyataan bahwa kita mengharapkan mereka yang kita sukai memiliki rasa suka atau tidak suka yang serupa dengan kita dan mereka yang tidak kita sukai memiliki rasa suka dan tidak suka yang berbeda.
Kedua model keseimbangan itu mengasumsikan bahwa susunan yang tidak seimbang cenderung berubah menjadi susunan yang seimbang. Asumsi ini memberikan makna penting pada model itu. Sistem yang tidak seimbang menimbulkan tekanan terhadap perubahan sikap dan tekanan berlanjut sampai sistem tersebut seimbang. Ini berarti bahwa, sistem-sistem yang terdapat di sisi kanan gambar akan berubah menjadi sistem seperti tergambar di sisi kiri. Perubahan dapat terjadi melalui berbagai cara. Teori keseimbangan menggunakan prinsip usaha terkecil untuk memprediksi arah perubahan. Orang akan mengubah hubungan afeksi sesedikit, mungkin dan tetap menghasilkan sistem yang seimbang. Beberapa hubungan bisa diubah untuk menghasilkan keseimbangan. Sebagai contoh, jika murid menyetujui abortus tetapi guru tidak, dan murid menyukai gurunya, keseimbangan dapat dihasilkan melalui beberapa cara. Murid itu dapat memutuskan bahwa dia benar-benar tidak menyukai gurunya atau bahwa dia sebenarnya tidak menyukai abortus. Kemungkinan lain, dia mungkin mengubah realitas melalui persepsi yang salah bahwa gurunya benar-benar mendukung abortus. Mekanisme mana yang dipilih bergantung pada kemudahan penggunaannya dan pada individu yang melakukan perubahan. Yang penting: ada berbagai kemungkinan. Penelitian tentang teori keseimbangan biasanya mendukung prediksi ini. Orang mengadakan perubahan sistem yang tidak seimbang ke arah sistem yang seimbang, dan ini dilakukannya dengan cara mengurangi sedapat mungkin jumlah perubahan yang harus diadakan. Tetapi nampaknya, tekanan keseimbang-Qan jauh lebih lemah bila Anda tidak menyukai orang lain ketimbang bila anda menyukainya. Newcomb (1968) menyebut situasi ini “non-balanced” ketimbang “in balanced.” Gagasannya adalah bahwa kita sama sekali tidak memperhatikan apakah kita sependapat atau tidak dengan seseorang yang tidak kita sukai; kita hanya memutuskan hubungan dan melupakan semua itu. Di samping itu, penelitian ini mempunyai’ nilai utama, yakni bahwa penelitian tersebut menggambarkan gagasan konsistensi kognitif dengan istilah yang sangat sederhana dan memberikan cara yang tepat untuk menyusun konsep sikap. Model keseimbangan memperjelas pendapat bahwa dalam situasi tertentu terdapat berbagai cara untuk memperbaiki sikap-sikap yang tidak konsisten. Hal ini memfokuskan perhatian kita pada salah satu aspek terpenting dari perubahan sikap faktor-faktor yang menentukan cara pemecahan apa yang akan diambil.

TEORI KESEIMBANGAN DAN KONSISTENSI KOGNITIF | ok-review | 4.5