TATA CARA PEMBUATAN KEPUTUSAN

By On Thursday, October 17th, 2013 Categories : Sosiologi

Studi tentang pembuatan keputusan merupakan bagian penting dari ilmu sosial, di mana hampir semua disiplinnya memberikan sumbangan kepada pengetahuan mengenai bagaimana suatu keputusan dibuat, atau bagaimana suatu keputusan seharusnya dibuat. Sepanjang abad 20, hal ini telah dipelajari melalui suatu disiplin tunggal yang dinamakan teori keputusan. Banyak sumbangan penting yang telah diberikan oleh para ahli matematika, filsafat, ekonomi dan psikologi bagi pengembangannya. Karena sifat interdisipliner itu pula maka subyek ini tidak menemukan suatu tempat berpijak yang baku dalam sistem pendidikan universitas. Amerika Utara merupakan suatu pengecualian terhadap hai itu, sekalipun ada kecenderungan departemen-departemen universitas di kawasan itu memusatkan kajian atas subyek ini sebagai satu cabang ilmu riset operasi (operational research). Interpretasi terhadap teori keputusan itu berasal dari banyak sumber mulai dan teori permainan (game theory), teori pemilihan rasional (keputusan dihasilkan dari persaingan ide-ide), dan ilmu perilaku organisasi serta sosiologi yang semuanya punya akses pada kumpulan teori yang hendak memahami logika tindakan-tindakan (yang didasari atau tanpa alasan) dalam pergaulan manusia. Analisis matematis dan kualitatif terhadap perumusan kebijakan menekankan beragam aspek yang berbeda dari perumusan kebijakan. Tiga di antaranya paling sering dibahas. Pertama, aspek perumusan model yang memadai untuk menggambarkan resiko dan ketidakpastian. Kedua, aspek evaluasi pilihan keputusan berdasarkan kriteria-kriteria berbeda yang mungkin tak dapat diukur dengan standar yang sama. Ketiga, aspek hakikat (dan kebenaran) asumsi bahwa manusia merupakan makhluk rasional. Isu keempat muncul dari praktek dan kesenjangan antara perencanaan (perumusan kebijakan rasional) dan penerapan rencana dalam organisasi. Kita akan segera membahasnya. Kalangan teoretisi kebijakan sangat tertarik dengan soal bagaimana para pembuat keputusan menghadapi ketidakpastian. Teori kemungkinan memang menyediakan alat-alat analisis yang penting, namun cara menginterpretasi konsepnya berbeda-beda, dan masing-masing memiliki pendukung maupun penentangnya. Pengukuran sering-tidaknya suatu hal terjadi (rasio perbandingan kesuksesan terhadap frekuensi upaya yang dilakukan) mempunyai sejarah panjang sekali-pun teori penama yang dilontarkan Laplace hanya membahas probabilitas terjadinya suatu peristiwa serupa (teori ini sangat dihargai karena saat itu belum ada alasan yang memadai untuk membuat penjelasan lain, Weatherford, 1982). Mengenai apa yang harus dilakukan seandainya derajat frekuensi relatif tidak ada, tidak ditentukan, atau tidak diketahui, Laplace menjawab bahwa kita dapat menghitung probabilitas peluang dan pilihan-pilihan manusia terhadap beberapa situasi yang tidak dapat diperkirakan secara pasti. Kemampuan untuk menyimpulkan peluang konsisten yang memenuhi ketentuan dasar hukum probabilitas, tergantung pada kebenaran dari asumsi-asumsinya mengenai hal-hal yang lebih disukai dan diyakini. Literatur eksperimental berhasil menunjukkan bahwa prosedur perumusan keputusan yang umum selalu diabaikan (Baron 1988; Kahneman dan Tversky 1979). Salah satu percobaan klasik (Ellsberg 1961) untuk menunjukkan bagaimana dan kapan interpretasi subyektif terhadap probabilitas dapat gagal, juga terkait langsung dengan konsep ketidakpastian, dengan melawankannya dengan resiko. Jika terminologi resiko dimaksudkan untuk situasi di mana probabilitas dapat dikaitkan dengan berbagai keadaan dunia yang berbeda, maka menjadi jelas bahwa ada banyak situasi (bervariasi dari penerimaan terhadap beberapa penemuan baru sampai kepada evaluasi dari kebijakan lingkungan) yang membuat sifat kualitatif permasalahan dalam pembuatan keputusan sulit dipahami, dan menjadikan konsep probabilitas sukar diterapkan. Tidak ada kesepakatan mengenai cara untuk mengandaikan ketidakpastian, yang dilawankan dengan resiko, sekalipun ide-ide dalam bab keenam buku Keynes (1921) telah menarik banyak perhatian berkenaan dengan hal itu. Kegagalan percobaan memang tidak berkait dengan klaim normatif (perilaku yang harus dilakukan oleh manusia sebagai makhluk rasional) namun ternyata banyak argumen filosofis yang memang tidak sahih.
Beralih ke masalah kedua, mengenai pertimbangan terhadap berbagai aspek berbeda yang berkait dengan pilihan, metode-metode umum evaluasi yang digunakan dalam dunia ekonomi dan keuangan cenderung menggunakan analisis untung-rugi yang memerlukan penyatuan kon-septual. Setiap sarana pembuatan keputusan harus mengatasi keadaan di mana setiap pertimbangan yang berbeda harus saling diperbandingkan sekalipun perumusan keputusan itu sendiri menolak kemungkinan kompromi. Suatu alternatif yang menghindari penggunaan atribut ekonomi dapat dijumpai dalam teori manfaat bersegi banyak “multi-attribute utility theory” (MAUT), yang memungkinkan pembuat kepu-tusan mengukur pilihan berdasarkan sejumlah kriteria. Teori itu akhirnya menjadi alat yang berguna. Namun kita seringkah tidak mungkin memberikan ukuran kriteria baku atas sejumlah tindakan sehingga diperlukan analisa yang lebih tajam: prosedur yang memakan waktu namun dapat memberikan sumbangan terhadap pemahaman kita mengenai dilema dan konflik dalam pembuatan keputusan. Ada beberapa penemuan tak terduga dari penggunaan alat-alat tersebut, seperti bahwa konsensus dan komitmen yang sulit diukur itu mau tidak mau harus selalu diperhitungkan, termasuk dalam sistem perencanaan yang paling canggih sekalipun. Asumsi bahwa manusia merupakan makhluk rasional sering mengundang dialog berkepanjangan. Hal itu dapat dihindarkan jika ada kejelasan mengenai arti asumsi. Daftar definisi berikut ini memang hanya beberapa, namun ini adalah yang paling sering muncul. Pandangan filosofis yang lebih tua menyatakan bahwa rasionalitas mengidentifikasi hal-hal yang seharusnya kita wujudkan, ini menandai bang.Kitnya sistem kenegaraan yang menerapkan perbedaan budaya sehingga membuat pandangan sarat falsafah itu kurang relevan. Suatu alternatif yang lebih diterima adalah pandangan “instrumental yang menilai rasionalitas sebagai pemilihan sarana yang sesuai dengan tujuan, apa pun tujuan itu. Kemungkinan ketiga, oleh Herbert Simon (1955), didasarkan pada pendapat bahwa manusia memiliki keterbatasan sehingga hanya dapat memenuhi keinginan sebatas harapan. Pandangan lain yang menilai manusia sebagai makhluk rasional menawarkan konsep “kecenderungan transitif” yang berarti bahwa jika anda lebih menyukai a dibanding b, dan lebih suka b dibanding c, maka anda lebih menyukai a daripada c. Pandangan ini lebih laku sebagai teori ekonomi. Pandangan-pandangan lain mengenai konsep rasional dapat ditemukan dalam teori permainan (game theory). Singkatnya, tidak ada kesatuan arti terminologi rasionalitas dan bahwa dugaan irasionalitas dalam pembuatan keputusan itu sesungguhnya muncul karena tidak dipahaminya logika yang mendasari tindakan tertentu. Suatu disiplin baru, yang disebut kajian resiko (risk studies), tengah tumbuh. Jika kajian itu benar-benar mapan, teori keputusan akan kian berkembang, sekalipun kesenjangan antara analisis matematis dan institusionalnya akan tetap ada. Banyak aspek dari praktek pembuatan keputusan yang belum diungkap oleh teori keputusan, seperti perilaku kreatif yang sangat dibutuhkan untuk menemukan pilihan. Nampak nyata bahwa komunikasi mengenai resiko diperlukan untuk menjelaskan terjadinya berbagai masalah serius seperti tumpahan minyak di laut dan operasi plastik payudara sekalipun belum ada satu teori pun yang memadai untuk melakukannya. Suatu pelajaran yang dapat ditarik adalah bahwa teori, sekalipun tidak terbukti, dapat memberikan sumbangan pemikiran yang positif.

TATA CARA PEMBUATAN KEPUTUSAN | ok-review | 4.5