SKEMA GARIS BENTUK ALAMIAH

By On Sunday, November 24th, 2013 Categories : Antropologi

Seperti kategori, berbagai skema juga mengikuti garis bentuk alamiah dari informasi yang kita terima. Tetapi skema tidak merupakan pencerminan pasif lingkungan informasi saja. Orang harus menyusun informasi secara aktif menjadi struktur kognitif yang lebih abstrak. Salah satu cara membangkitkan aktivitas kognitif untuk menyusun ini dalam eksperimen ialah dengan memerintahkan para subjek membentuk kesan terpadu (seperti menentang mereka mencoba mengingat bagian-bagian terpisah dari informasi yang mereka terima). Kita berharap bahwa dalam kondisi semacam itu orang akan membentuk kesan teratur yang memancarkan struktur dasar informasi masukan; artinya, mereka akan membentuk skema yang mengikuti garis bentuk alamiah dari informasi yang diberikan.
Hoffman, Mischel, dan Mazze (1981) memperagakan hal ini dengan membedakan secara eksperimental ciri-ciri yang mendasari gambaran pemberi stimulus yang ditampilkan di depan para subjek. Setiap subjek dihadapkan pada 25 rangkaian kejadian perilaku pendek (lebih kurang tiga kalimat tiap orang) berkenaan dengan orang tertentu yang dijadikan sasaran. Setiap rangkaian kejadian dipilih untuk menggambarkan satu di antara lima ciri(seperti sifat curang atau murah hati), sehingga setelah 25 rangkaian kejadian, setiap ciri ditekan menjadi 5 rangkaian kejadian. Satu rangkai kejadian dimaksudkan untuk menggambarkan ciri kecurangan, telah mengakibatkan orang yang jadi sasaran akan mengintip isi dompet temannya dan mencuri beberapa pil amphetamine. Kemudian para subjek diberitahu bahwa mereka harus memberikan kesan sebagai sasaran (“rangkaian kesan”) atau mengulang rincian rangkaian kejadian yang telah dibaca (“rangkaian ingatan”). Terakhir, mereka diminta menyusun rangkaian kejadian itu dikelompokkan.
Subjek pelaku “rangkaian kesan” cenderung menyusun rangkaian kejadian sesuai dengan garis yang mendasari ciri, dan membubuhkan etiket kepada kelompok yang sesuai dengan ciri yang mendasarinya. Dalam contoh ini, subjek perangkai kesan akan mengelompokkan informasi sekitar ciri kecurangan dan membubuhkan etiket pada kelompok yang sesuai. Ringkasnya, jika subjek berusaha menyusun informasi tentang manusia pemberi stimulus menjadi kesan terpadu, ia mulai berpikir secara skematik tentang orang yang jadi sasaran dan oleh karena itu, akan menyusun pemikiran mereka agar sejajar dengan garis dimensi yang mendasari kepribadian sasaran. “rangkaian kesan” mengarahkan para subjek untuk menyusun kesannya di sekitar ciri yang dibentuk menjadi rangkaian kejadian, dan membubuhkan etiket kepada kesan kategorial mereka sesuai dengan ciri yang terbentuk di dalamnya.
Skema kejadian, atau naskah, juga dibentuk sesuai dengan garis bentuk alamiah. Perilaku manusia dianggap terdapat dalam arusyang berkesinambungan dan tidak terputus-putus; memang ia ditunjuk sebagai “arus peri-laku,” tetapi orang tidak ‘menyerap segala sesuatu sekaligus. Mereka cenderung melihat perilaku sebagai potongan tindakan yang diacu dengan titik potong (untuk berhenti) (Newtson, 1976 ). Sebagai contoh, mari kita membayangkan, melihat seorang kiper berlari ketika mendengar suara bola terpukul tongkat pemukul; dia secepat kilat lari ke luar lapangan, meloncat, menangkap bola, mendarat di tanah, bersiap-siap untuk melemparkan bola, kemudian melempar bola kepada penjaga pangkalan ketiga agar orang itu dapat menghentikan lawan yang berlari ke pangkalan. Newtson menyangkal bahwa kita melihat aktifitas semacam itu sebagai bagian perilaku yang terpisah, dan bukan sebagai continum tindakan. Titik potong terdapat di antara berbagai tindakan terpisah dan menandai di mana yang satu berakhir serta yang lain dimulai. Titik potong melekat sepanjang arus berbagai perilaku; jadi tidak dikenakan padanya oleh para pengamat. Untuk mengidentifikasi titik potong ini, Newtson menyuruh subjek menonton film dan menekan tombol untuk menunjukkan kapan menurut mereka suatu bagian berakhir dan kapan yang lain mulai. Metode ini dapat diandalkan: Para pengamat setuju di mana titik potong tertentu dalam film yang menyajikan seseorang yang sedang beraksi, dan mereka melihat titik potong yang serupa lagi ketika menonton film itu kembali lima minggu kemudian. Kelihatannya juga mudah dan menyenangkan bagi para subjek untuk melakukannya. Semua menyangkal bahwa titik potong secara alamiah terdapat bersama arus perilaku dalam suatu adegan tertentu. Bilakah terjadi titik potong? Beberapa riset mendalam menghubungkannya dengan perubahan perilaku, khususnya perubahan di dalam gerakan berbagai bagian tubuh yang berbeda (Newtson, Engquist & Bois, 1977). Titik potong juga ada jika keadaan objek yang diasosiasikan dengan orang itu juga berubah. Contohnya, titik potong akan terlihat jika garis lengkung proyektil baseball tiba-tiba terganggu oleh sarung tangan pemain luar, ketika ia hilang dari pandangan, atau tiba-tiba saja melayang kembali ke lapangan dalam. Titik potong menyampaikan informasi paling banyak tentang urutan perilaku. Ketika saat titik potong film ditampilkan kepada para subjek sebagai gambar mati, secara teratur mereka menyampaikan isi cerita hampir sama sempurna dengan film asli. Kelihatannya orang juga lebih ingat kepada titik dobrak daripada saat-saat lain selama sekuen tersebut. Titik lain yang lebih umum ialah bahwa kita tidak semata-mata menerima perilaku orang lain sepenuhnya ketika membentuk kesan. Melainkan, kita menyerap potongan strukturnya yang memiliki makna. Proses pengelompokan itu sebagian dikenakan atas arus perilaku melalui pengalaman, pengharapan, dan kepentingan pengamat. Dan sebagian lagi mencerminkan perubahan yang sesungguhnya di dalam urutan perilaku.

SKEMA GARIS BENTUK ALAMIAH | ok-review | 4.5