SITUASI DAN DISTRAKSI

By On Monday, November 25th, 2013 Categories : Psikologi

Sejauh ini, faktor-faktor yang telah dijelaskan menyangkut komunikator, pesan dan target. Sekalipun demikian, komunikasi massa biasanya berada dalam konteks yang lebih luas di mana hal-hal lain terjadi, dan ternyata hal ini juga sering mempunyai efek yang menentukan keberhasilan usaha persuasi. Bila kita melihat iklan televisi seorang calon politik dalam, suatu kampanye pemilihan, kita tahu bahwa dia mencalonkan diri untuk pemilihan itu; pernyataannya tidak merupakan pernyataan yang berdasarkan teori dan bukan tidak memihak. Sebagian besar orang menyaksikan warta berita televisi di tengah- tengah segala kebisingan anggota keluarga yang baru pulang ke rumah, yang berbicara satu sama lain, yang memasak makan malam, anak-anak berteriak dan menjerit, dan seterusnya. Kita melihat iklan mobil baru selama istirahat setengah main pertandingan bola, pada saat kita bangkit berdiri untuk mengambil minuman lagi, pergi ke kamar mandi, dan melontarkan komentar tajam tentang iklan tersebut bersama teman kita. Situasi-situasi ini mungkin mempengaruhi keberhasilan usaha persuasi. Sekarang, marilah kita meninjau beberapa variabel situasi yang paling penting dalam perubahan sikap.
Dalam sebagian pembahasan kita, kami telah menggambarkan individu sebagai makhluk yang secara aktif menentang pesan persuasif. Orang yang opininya diserang biasanya berusaha menolak perubahan terutama bila mereka terikat pada sikap mereka. Mereka mengemukakan argumen sanggahan, menghina komunikator dan biasanya menyusun seluruh kekuatannya untuk mempertahankan pendapat mereka. Salah satu implikasi penting dari hal ini adalah bahwa kemampuan untuk menentang persuasi diperlemah oleh segala sesuatu yang menyulitkan perlawanan terhadap komunikasi yang senjang. Terutama, pengalihan perhatian seseorang dari usaha perlawanan memungkinkan masuknya pesan persuasif. Penelitian yang dilakukan oleh Festinger dan Maccoby (1964) menunjukkan efek distraksi (pengalihan perhatian) ini. Sambil menonton film, subjek mendengar pembicaraan yang menentang kelompoknya. Bagi beberapa subjek, film itu memperlihatkan orang yang mengadakan pembicaraan tersebut. Bagi subjek lain, filmnya adalah “The Day of the Painter,” sebuah film yang lucu, semacam sindiran yang agak lucu terhadap seni modern. Nampaknya, mereka yang menonton film yang tidak relevan itu lebih teralihkan perhatiannya dari pembicaraan antikelompok, dibandingkan mereka yang menonton si pembicara. Dalam kondisi distraksi, subjek yang memang sejak semula tidak menyetujui pembicaraan itu (yang setuju dengan kelompok) lebih terpengaruh, dibandingkan dalam kondisi nondistraksi. Pengalihan pikiran subjek dari pembicaraan itu akan meningkatkan efektivitasnya. Peningkatan persuasi melalui sedikit distraksi merupakan penemuan yang dapat diandalkan. Petty dan Brock (1981) meninjau kembali 22 penelitian terpisah tentang suatu topik dan menemukan adanya peningkatan persuasi melalui distraksi dalam seluruh penelitian itu, kecuali dalam dua penelitian di antaranya. Hampir semua penelitian ini diarahkan oleh pendekatan respons kognitif. Oleli sebab itu, seperti yang diduga, distraksi tidak selalu memudahkan perubahan sikap. Distraksi hanya akan meningkatkan persuasi bila distraksi itu mengganggu proses terbentuknya argumen sanggahan yang efektif. Petty, Wells, dan Brock (1976) telah memperlihatkan bahwa distraksi akan lebih membantu terjadinya perubahan sikap bila suatu pesan mudah menimbulkan banyak argumen sanggahan. Jadi, distraksi akan dapat membantu persuasi secara lebih baik pada masalah yang sudah lazim di mana kita mengetahui argumen kita (terhadap orang yang menganjurkan pemisahan sekolah berdasarkan ras), dibandingkan pada masalah di mana kita tidak siap dengan argumen (pada beberapa persoalan tek¬nik). Nampaknya distraksi berfungsi dengan sangat baik bila komunikasinya memiliki kesenjangan yang besar dan pada pokok persoalan yang melibatkan subjek, karena keadaan ini mengilhami munculnya argumen sanggahan yang sangat kuat. Dan akan berfungsi dengan sangat baik juga bila sumber memiliki kredibilitas tinggi, karena mereka sangat mengancam sehingga memicu timbulnya argumen sanggahan yang terbaik (Petty & Brock, 1981). Dalam setiap kasus, efek itu sangat tergantung pada jumlah distraksi yang tepat. Biasanya, terjadi pertentangan antara membiarkan pesan berlalu dan membiarkan pesan itu diterima. Jelas, distraksi yang terlalu banyak akan menghalangi pesan persuasif untuk didengarkan semua dan menurunkan efektivitasnya ke titik nol. Bila orang benar-benar terfokus pada sesuatu yang lain, tidak ada satu pesan pun yang dapat melintas masuk. Tujuannya adalah untuk memasukkan pendapat tetapi mencegah timbulnya argumen sanggahan. Para pemasang iklan mungkin ingin mengalihkan perhatian pemirsa televisi dari maksud utama iklan dengan menyajikan gambar dan pertunjukan yang tidak relevan. Namun, mereka tidak ingin penyimpangan ini sedemikian mempesona sehingga pesan itu menjadi hilang. Menempatkan seorang wanita cantik sebagai latar belakang iklan sabun mungkin dapat membantu penjualan sabun, menempatkannya di latar depan mungkin juga membantu, tetapi menempatkannya di latar depan sambil menyanyi keras, sehingga iklan hampir tidak dapat didengar, pasti akan menurunkan efektivitas iklan tersebut. Distraksi dapat berfungsi dalam berbagai kondisi, tetapi yang penting adalah bahwa distraksi tidak terlalu besar, atau efeknya akan terbalik.

SITUASI DAN DISTRAKSI | ok-review | 4.5