SEJARAH JAWA TIMUR

By On Friday, April 4th, 2014 Categories : Budaya

SEJARAH JAWA TIMUR – Dari hasil penelitian geologi dan antropo­logi, pada Jaman Pleistosen akhir, di Jawa Timur te­lah hidup manusia purba dari genus Pithecanthropus tertua, yang bernama Pithecanthropus mojokertensis. Pada tahun 1936, sisa-sisa fosilnya ditemukan di Desa Kepuhlagen (Mojokerto), Kedungbrubus (Madiun), Trinil (Ngawi), dan Desa Wajak (Tulungagung) oleh Andoyo. Pithecanthropus lebih muda yang hidup pa­da jaman Pleistosen bernama Pithecanthropus erectus. Sisa fosilnya ditemukan di Desa Kedungbrubus dan Trinil oleh E. Dubois. Pada Jaman Pleistosen akhir, ditemukan fosil manusia purba genus Homo yang bernama Homo wajakensis.
Sumber tertulis (prasasti) yang menjadi sumber se­jarah Jawa Timur paling tua ditemukan di daerah Dinoyo, Malang. Prasasti Dinoyo ini dalam sejarah Indonesia merupakan prasasti pertama yang mema­kai huruf Jawa Kuno dan bertarikh candrasengkala Nayana-Vayu-Rase atau tahun 682 Saka (760). Dari Prasastri Dinoyo dapat diketahui bahwa pada tahun 760 di Jawa Timur terdapat kerajaan yang bernama Kanjuruhan dengan rajanya Gajayana.
Dari banyak prasasti yang ditemukan di Jawa Ti­mur, diketahui bahwa di daerah ini dahulu terdapat banyak kerajaan yang terkenal, seperti Jenggala dan Panjalu (sekarang Kediri). Raja Panjalu yang pertama Jayawarsa, yang terkenal Jayabaya, dan yang terakhir Kertajaya (1190-1222); raja Kerajaan Singosari yang terkenal adalah Ken Arok; Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawar- dhana. Kerajaan ini merupakan kerajaan besar. Wi­layah kekuasaannya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1389) dan mahapatihnya, Gajah Mada, meliputi Sumatra, Jawa, Madura, Sunda Kecil, Kali­mantan, Sulawesi, Maluku, Ambon, Semenanjung Melayu, dan Irian.
Hingga sekarang, belum diketahui kapan masuk­nya Islam pertama kali di Jawa Timur. Bahan arkeo­logi tentang adanya Islam ditemukan di Desa Laren (Gresik), berupa batu nisan yang bertahun 495 Hijriah (1102). Dulu, di Jawa Timur terdapat tokoh penye­bar agama Islam yang terkenal, yaitu Raden Rachmad (Sunan Ampel) yang mendirikan pondok pesantren di kampung Ampel-Denta Surabaya. Pondok pesantren ini menghasilkan banyak tokoh agama terkenal, se­perti Sunan Giri, Sunan Bonang, Raden Patah (raja pertama kerajaan Islam di Demak), dan Sunan Drajat.
Masuknya bangsa Barat berawal saat Islam telah meluas di kalangan masyarakat Jawa Timur. Saat itu, terdapat beberapa kerajaan kecil seperti Pasuruan, Pa­narukan, dengan pusat kerajaannya di Blambangan, yang belum masuk Islam. Karena ancaman kekuatan Islam, Blambangan mencari bantuan dari luar, yakni orang Portugis yang sudah menduduki Malaka sejak tahun 1511. Dengan mendatangkan tentara Portugis serta persenjataannya, Kerajaan Blambangan dapat bertahan hingga datangnya serangan Sultan Agung dan Amangkurat I pada abad ke-17. Masuknya Belanda di Jawa Timur terjadi setelah di­tandatanganinya perjanjian Jepara, tanggal 25 Maret 1677, antara Mataram (masa pemerintahan Amang­kurat I) dan VOC untuk menghadapi serangan Trunojoyo dan Raden Kajoran. Menurut perjanjian itu, antara lain, VOC membantu Sunan menumpas per­lawanan Trunojoyo. Sebaliknya Sunan memberi sub­sidi biaya perang dengan membiarkan VOC tiap ta­hun menarik penghasilan semua bandar pantai dari Karawang sampai ujung Jawa Timur. Berdasarkan perjanjian itu, Cornelis Speelman dengan pasukannya menyerang benteng Trunojoyo di Surabaya. Karena kurangnya persenjataan, Surabaya jatuh ke tangan Be­landa (13 Mei 1677). Pasukan Trunojoyo – Raden Ka­joran mengundurkan diri ke Kediri. Tanggal 25 No­vember 1678, Kediri jatuh ke tangan Belanda dan Tru­nojoyo melarikan diri ke Bangil. Sebelum itu, Juni 1677, pasukan Trunojoyo dan Raden Kajoran berha­sil merebut Pleret, ibu kota Mataram.
Tahun 1810-1816 Indonesia dijajah Inggris di ba­wah pimpinan Thomas Stamford Raffles. Dalam pe­merintahan Raffles, untuk pertama kali pemerintahan di Jawa dibagi atas 16 keresidenan. Sistem residensi ini kemudian dilanjutkan oleh Komisaris Jenderal Ba­ron Van Der Capellen dan berlangsung hingga tahun 1964 (ketika bentuk keresidenan dihapus oleh Peme­rintah RI).
Dengan adanya Konvensi London, Indonesia di­kembalikan Inggris kepada Belanda pada tahun 1916. Indonesia kembali dijajah Belanda dengan bentuk pe­merintahan yang disebut Nederlandsch Indie atau Hin­dia Belanda (1816-1842). Gubernur Jendral pertama­nya, Baron Van der Capellen, membagi Jawa atas 20 keresidenan. Pada masa penjajahan Jepang (1942- 1945), Pulau Jawa dibagi menjadi 17 keresidenan, tu­juh di antaranya terdapat di Jawa Timur.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, dibentuk Propinsi Jawa Timur dengan gubernur pertamanya R.M.T. Surjo. Pada tanggal 10 November tahun itu juga, terjadilah perang besar. Perang ini terjadi di kota Surabaya antara bangsa Indonesia melawan tentara Sekutu (Inggris-NICA) di bawah pimpinan Brigjen A.W.S. Mallaby. Dalam pertempuran itu banyak rakyat gugur, tetapi perlawanan rakyat berhasil me­nunjukkan kepada dunia luar bahwa Republik Indo­nesia itu ada. Di kemudian hari, tanggal 10 Novem­ber diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Inggris menyerahkan Surabaya kepada Belanda pa­da bulan Mei 1946. Belanda di Jawa Timur memben­tuk negara-negara bagian, seperti Negara Madura (20 Februari 1948) dengan Tjakraningrat sebagai kepala negaranya. Wilayahnya meliputi Pulau Madura be­serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Negara Jawa Ti­mur (26 November 1848) dengan kepala daerahnya Kusumonegoro. Wilayahnya meliputi Keresiden Be­suki, sebagian Keresidenan Malang, dan Surabaya.
Sejak diakuinya kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Belanda, 27 Desember 1949, RIS memiliki negara-negara bagian yang meliputi Negara Re­publik Indonesia dengan pusatnya di Yogyakarta, Ne­gara Indonesia Timur, Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, Negara Madura, Negara Sumatra Timur dan Negara Sumatra Selatan. Setelah adanya pengakuan tersebut, rakyat Jawa Timur dan Madura menuntut dibubarkannya Negara Jawa Timur dan Negara Madura untuk bersatu de­ngan Republik Indonesia yang berpusat di Yogya­karta. Tanggal 25 Februari 1950, Negara JawaTimUr resmi menjadi daerah Republik Indonesia, dan tang­gal 7 Maret 1950, Negara Madura memberikan per­nyataan serupa.

SEJARAH JAWA TIMUR | ok-review | 4.5