SECERAH HARI: TELAAH ASCH TENTANG KONFORMITAS

By On Monday, November 25th, 2013 Categories : Psikologi

Pada tahun 1950-an, para mahasiswa Amerika selalu bercukur rapih dan berambut pendek. Kebanyakan bergaya tentara. Hanya para petani yang mengenakan celana ‘jeans’ sebagai pakaian sehari-hari. Para mahasiswi juga memotong rambut mereka pendek-pendek, mengenakan kemeja dan rok, dengan panjang rok sampai di bawah lutut. Di akhir tahun 1960-an dan awal 1970- an, para mahasiswa mulai berambut panjang. Kebanyakan juga berjanggut dan berkumis. Para mahasiswinya pun jarang mengenakan gaun atau rok (kecuali bila sedang mengunjungi orang tua mereka). Rambut sebahu merupakan hal yang biasa, demikian juga sandal atau bahkan kaki yang dibiarkan tanpa alas sama sekali. Baju kaos, celana panjang atau celana pendek untuk berolah raga, pakaian dari bahan ‘jeans’ atau baju tanpa lengan, tidak dikenal di lingkungan kampus. Dapatkah Anda menggambarkan bagaimana pakaian para mahasiswa di kampus dewasa ini? Bagaimana model pakaian yang terbaru? Pemimpin pemerintahan yang totaliter selalu mencoba mengendalikan orang lain agar mereka menampilkan perilaku tertentu, terutama yang bertentangan dengan keinginan mereka sendiri. Pertanyaan mengenai ketaatan dan kerelaan/penyerahan merupakan hal yang relevan dalam setiap fase kehidupan sosial. Kita selalu dituntut untuk melakukan tindakan tertentu, dan kita juga sering melakukan hal yang sama pada orang lain. Kita dituntut untuk mengerjakan pekerjaan rumah, mentaati hukum, membayar pajak, mengendarai kendaraan dengan hati-hati, memberikan sumbangan, bertindak sopan, mendukung gerakan-gerakan dan kandidat-kandidat politik, dan memeriksa kesehatan gigi. Proses sosialisasi anak sebagian besar meliputi usaha untuk membuat mereka menampilkan perilaku yang sesuai dengan kebutuhan, hukum, aturan, dan tuntutan masyarakat. Seringkah, orang atau organisasi berusaha agar pihak lain menampilkan tindakan tertentu pada saat pihak lain tersebut tidak ingin melakukannya. Bila seseorang menampilkan perilaku tertentu karena setiap orang lain menampilkan perilaku tersebut, kita menyebutnya konformitas. Bila orang menampilkan perilaku tertentu karena ada tuntutan meskipun mereka lebih suka tidak menampilkannya kita menyebutnya ketaatan atau kepatuhan. Kita dapat memandang konformitas sebagai bentuk khusus dari ketaatan dilakukan karena ada tekanan kelompok tetapi sebenarnya konformitas merupakan gejala penting yang harus kita pandang secara terpisah. Faktor-faktor apa yang menentukan bentuk perilaku yang akan ditampilkan? Mari kita mencoba membahas konformitas terlebih dahulu. Karena merupakan gejala yang sangat kuat, konformitas relatif mudah diteliti di laboratorium. Kita akan mengawali pembahasan ini dengan dua penelitian klasik yang menggambarkan berlangsungnya konformitas. diperlihatkan sebuah titik cahaya. Kemudian diberitahukan bahwa objek itu bergerak dan subjek diminta untuk menentukan berapa jauh jarak perpindahannya. Dalam penelitian klasik ini, Muzafer Sherif (1935) mengambil manfaat dari sebuah ilusi persep- tual yang disebut gejala otokinetis suatu titik cahaya yang terlihat dalam kegelapan akan tampak bergerak meskipun sebenarnya tidak demikian. Hampir setiap orang melihatnya seperti itu, dan sangat sulit bagi seseorang untuk memperhatikan cahaya tersebut untuk memperkirakan jarak pergerakannya. Biasanya cahaya itu tampak bergerak dengan kecepatan dan arah yang berbeda-beda. Dengan demikian subjek-subjek yang berada dalam situasi ini tidak akan dapat menuntun posisi mereka sendiri. Karena itu, tidak mengherankan bila perkiraan jarak tersebut sangat bervariasi antara subjek yang satu dengan subjek yang lain: menurut beberapa orang titik cahaya itu hanya bergerak sejauh 1 atau 2 inci, sedangkan yang lain berpendapat bahwa titik cahaya itu bergerak sejauh 80 kaki. (Tampaknya orang ini merasa berada di dalam sebuah gedung olah raga, padahal hanya dalam sebuah ruangan kecil.) Meskipun beberapa subjek memiliki pendapat tertentu tentang jarak perpindahan itu, mereka merasa amat tidak yakin karena tidak ada pedoman, tidak ada latar belakang sebagai acuan perkiraan mereka. Kemudian, situasi semacam ini disajikan kepada orang kedua, juga seorang subjek yang akan memberikan penilaian tentang jarak perpindahan cahaya itu. Orang ini sebenarnya adalah rekan peneliti yang telah diperintahkan untuk memberikan perkiraan lebih rendah atau lebih tinggi dari yang diberikan oleh subjek sebenarnya. Prosedur yang sama kemudian diulangi sampai beberapa kali. Dalam situasi ini, segera tampak bahwa subjek mengajukan perkiraan yang semakin mendekati perkiraan rekan peneliti tersebut. Misalnya, jika subjek mula-mula memperkirakan jarak 10—15 inci dan rekan peneliti mengatakan bahwa cahaya itu hanya bergerak sejauh 2 inci, pada kesempatan kedua subjek akan menurunkan penilaiannya; pada kesempatan ketiga dia akan lebih menurunkannya. Di akhir percobaan, perkiraan subjek akan sangat mendekati perkiraan peneliti.
Gejala otokinetis menciptakan situasi yang amat membingungkan. Individu memiliki sedikit sekali informasi untuk mengerjakan sesuatu hanya persepsi yang serba tidak pasti dalam situasi yang sama sekali baru dan asing. Sebaliknya, rekan peneliti tampak sangat yakin pada dirinya sendiri, memberikan perkiraan jarak yang sama terus menerus selama percobaan berlangsung meskipun jelas bahwa dia tidak memiliki informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan yang dimiliki subjek. Ini merupakan demonstrasi yang sangat jelas tentang persekongkolan dalam ketiadaan alasan yang realistik, tetapi dapat dikemukakan bahwa yang terjadi sebenarnya tidak irasional sama sekali. Kita mengetahui bahwa kemampuan perseptual individu sangat bervariasi, dan mungkin subjek berpikir bahwa kemampuan orang lain untuk memperkirakan jarak perpindahan cahaya dalam ruang gelap lebih baik dibandingkan dengan kemampuannya. Jadi masuk akal bila dia mengikuti pendapat orang lain tersebut atau paling tidak menggunakan perkiraan orang lain itu sebagai acuan bagi perkiraannya sendiri. Dengan kata lain, subjek itu merasa memiliki alasan untuk menyesuaikan tindakannya. Diduga, konformitas hanya terjadi dalam situasi yang ambigu, yaitu bila orang merasa amat tidak pasti mengenai apa standar perilaku yang benar. Inilah yang merupakan dasar pemikiran Solomon Asch (1951). Menurut Asch, bila situasi rangsang sudah jelas, konformitas hanya akan muncul sedikit saja atau tidak muncul sama sekali. Bila seseorang mampu melihat suatu realitas dengan gamblang, dia akan mempercayai persepsinya sendiri dan tetap teguh pada pendiriannya meskipun anggota kelompok yang lain menentangnya. Karena itu Asch merancang sebuah eksperimen untuk menguji dugaan ini (Asch, 1951). Lima orang mahasiswa dilibatkan dalam penelitian tentang persepsi. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja dan diberitahukan bahwa tugas mereka adalah memperkirakan panjang suatu garis. Kemudian diperlihatkan sebuah kartu berwarna putih di mana tergambar tiga buah garis dengan panjang yang berbeda-beda, dan kartu kedua yang membuat sebuah garis. Mereka diminta memilih sebuah garis pada kartu pertama yang panjangnya paling mirip dengan garis yang terdapat dalam kartu kedua. Salah satu garis panjangnya jelas persis sama dengan garis acuan tersebut, sedangkan dua garis yang lain sangat berbeda. Pada saat garis-garis itu diperlihatkan, setiap subjek memberikan jawaban dengan suara keras secara berturut-turut sesuai dengan letak tempat duduk mereka. Subjek yang pertama memberikan jawabannya dan yang lain mengikutinya sesuai dengan gilirannya. Karena tugas ini mudah, tidak terjadi perbedaan pendapat. Setelah semuanya memberikan jawaban, diperlihatkan perangkat garis yang kedua, tanggapan diberikan, dan kemudian diperlihatkan perangkat yang ketiga. Sampai di sini, tampaknya eksperimen itu merupakan pekerjaan yang bodoh dan tanpa tujuan. Namun, pada percobaan ketiga, subjek yang pertama memperhatikan garis- garis itu dengan teliti seperti sebelumnya dan kemudian memberikan jawaban yang jelas keliru. Jelas baginya bahwa orang lain telah memberikan jawaban yang keliru. Dia mengetahui bahwa B lah garis yang paling mirip dengan X, Tetapi yang lain menjawab A.
Dalam situasi ini, biasanya orang yang menjadi subjek kelima memberikan jawaban yang keliru dia setuju saja dengan yang lain meskipun dia mengetahui bahwajawaban itu salah. Ternyata, di antara para mahasiswa yang memiliki kondisi mata yang baik dan pikiran yang tajam, jawaban yang keliru diberikan kira-kira sebanyak 35 persen. Beberapa subjek tidak pernah memberikan jawaban keliru, yang lain selalu memberikan jawaban keliru; tetapi rata-rata mereka memberikan satu jawaban keliru di antara tiga jawaban. Tentu saja, dalam penelitian klasik yang dilakukan Solomon Asch (1951) ini, situasi itu telah diatur. Keempat subjek pertama adalah rekan peneliti dan mereka memberikan tanggapan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh peneliti. Tetapi subjek yang sebenarnya tidak mengetahui persekongkolan ini dan merasa lebih baik memberikan jawaban yang keliru daripada bertentangan dengan yang lain. Kita harus mengingat ketidakambiguan dari situasi ini bila kita ingin memahami gejala tersebut. Ada kecenderungan untuk berpikir bahwa subjek yang menyesuaikan pendapatnya merasa tidak yakin tentang jawaban yang benar sehingga terpengaruh oleh mayoritas. Sebenarnya bukan ini yang terjadi. Mereka mengetahui dengan pasti mana jawaban yang benar dan, di dalam kelompok pengendali di mana tidak ada tekanan kelompok, selalu memberikan jawaban yang-benar. Bila mereka menyesuaikan diri, mereka melakukan itu bukan karena tidak mengetahui jawaban yang benar. Beberapa penelitian lainnya menyelidiki konfdrmitas dengan menggunakan stimulus fisik yang lain, pernyataan opini, pernyataan tentang fakta, dan silogisme logis. Subjek sependapat bahwa di Amerika Serikat tidak terdapat’ masalah populasi karena ada-nya dataran sepanjang 6.000 mil yang membentang di antara San Francisco dan New York; bahwa pada umumnya pria lebih tinggi 8 sampai 9 inci dibandingkan wanita; dan bahwa bayi laki-laki hanya memiliki harapan hidup sampai 25 tahun. Dengan kata lain, tanpa memperhatikan jenis stimulus dan sejauh mana kejelasan pilihan yang benar, bila individu dihadapkan pada pendapat yang telah disepakati oleh anggota-anggota lainnya, tekanan yang dihasilkan oleh pihak mayoritas akan mampu menimbulkan konformitas. Hasil penelitian ini sangat jelas. Orang benar-benar menyesuaikan diri bahkan meskipun dengan melakukan itu dia menentang persepsinya sendiri. Mereka tidak selalu mau menerima apa yang dikatakan orang lain, seringkah mereka tetap yakin bahwa penilaian mereka benar. Namun, bila diminta untuk memberikan jawaban secara terbuka, mereka memberikan jawaban keliru yang sama dengan jawaban yang diberikan oleh orang lain. Inilah yang kita maksudkan sebagai konformitas.

SECERAH HARI: TELAAH ASCH TENTANG KONFORMITAS | ok-review | 4.5