RINDU AKAN DUNIA YANG ADIL

By On Saturday, November 23rd, 2013 Categories : Psikologi

Ilusi kendali menunjukkan bahwa manusia memiliki kendali lebih besar atas nasibnya ketimbang tindak nyata mereka sendiri. Salah satu konsekuensi ilusi ini ialah kecenderungan menyalahkan korbannya. Seseorang yang mengalami kecelakaan lalu lintas pasti telah mengendarai kendaraannya secara ceroboh. Korban pencurian dipandang bersalah karena tidak membuat persiapan keamanan yang cukup memadai (Tyler & Devinitz, 1981). Wanita yang telah diperkosa pasti telah melakukan tindakan provokatif sehingga mencelakakan dirinya sendiri. Contohnya, banyak korban perkosaan yang menyalahkan diri mereka sendiri sehingga sampai diperkosa; mereka beranggapan bahwa mereka telah berperilaku dengan salah, seperti menumpang mobil orang atau membiarkan jendela kamarnya tidak terkunci (Janoff- Bulman, 1979). Golongan minoritas yang didiskriminasikan seringkah dianggap terlalu memaksakan kehendaknya, tidak mempunyai motivasi, atau pasif dan merenggangkan jarak antara manusia dengan kebutuhan-kebutuhannya; oleh karena itu, mereka dianggap pantas menerima nasibnya. Korban gempa bumi, angin topan, badai, dan banjir sering dipandang kurang mempersiapkan diri guna menghadapi bencana. Para korban bencana dan kecelakaan yang masih hidup, atau anggota kekrarga yang ditinggal mati sering mempunyai rasa bersalah. Mereka kerap kali berkhayal dengan membawa diri kembali kepada saat-saat sebelum terjadinya bencana, dan menghayalkan cara menghindarkan diri dari peristiwa tersebut.
Dengan putus asa mereka membayangkan cara-cara di mana mereka dapat mengendalikan hal-hal yang biasanya tidak dapat dikendalikan (Wortman, 1976). Singkatnya, manusia dianggap dapat mengendalikan lingkungannya dan dipandang memperoleh apa yang pantas mereka peroleh, serta pantas memperoleh apa yang mereka dapatkan. Guna menjelaskan pengamatan semacam itu, Lerner (1965) mengajukan gagasan yang kita yakini dengan sebuah dunia yang adil; Orang baik mendapat hasil yang baik, dan hal-hal yang buruk akan menimpa orang jahat. Gagasan pokoknya adalah bahwa pengamat mengatribusikan peristiwa kebetulan kepada disposisi moral sang korban, yakni bahwa orang membuat atribusi terhadap perilaku dan sikap moral sang korban dan bukan membuat atribusi kepada keberuntungan, nasib atau aspek situasi lainnya. Oleh karena itu, saya akan menuduh Anda sebagai supir yang ceroboh karena Anda telah menabrak seseorang di perempatan jalan menuju kampus dengan melanggar lampu merah. Untuk menguji gagasan ini, Lerner telah melakukan berbagai eksperimen di mana korbannya dipilih secara acak dan diberikan kejutan listrik. Para subjek cenderung mengejek mereka seakan-akan para korban bertanggung jawab secara moral atas kemalangan yang mereka alami. Lerner menginterpretasikan petunjuk bagi kepercayaan akan dunia yang adil ini yang mencerminkan keperluan untuk percaya bahwa kita dapat mengendalikan peristiwa, yang mirip dengan ilusi kendali. Guna melindungi kesadaran dalam mengendalikan ini, kita menjatuhkan hukuman kepada mereka yang mengalami kemalangan. Jika manusia pada umumnya bertanggung jawab atas setiap bencana yang mereka alami, mungkin kita dapat menghindari bencana pribadi dengan bertindak sesuai dengan yang seharusnya. Salah satu konsekuensi yang negatif dari kecenderungan untuk melihat dunia sebagai dunia yang adil seperti telah ditunjukkan oleh Lerner (1980), Ryan (1971) dan lain-lainnya, ialah bahwa pandangan tersebut membenarkan tekanan yang mempersalahkan orang yang menjadi korban dalam masyarakat. Dengan gagasan seperti itu, jika masyarakat bertanggung jawab atas kenyataan bahwa mereka sakit, melarat, atau cacat, maka kita semua tidak perlu membantu mereka.

RINDU AKAN DUNIA YANG ADIL | ok-review | 4.5