RASA TAKUT TERHADAP PENYIMPANGAN RASA

By On Monday, November 25th, 2013 Categories : Psikologi

Takut dipandang sebagai orang yang menyimpang merupakan faktor dasar hampir dalam semua situasi sosial. Kita tidak mau dilihat sebagai orang yang lain dari yang lain, kita tidak ingin tampak seperti orang lain. Kita ingin agar kelompok tempat kita berada menyukai kita, memperlakukan kita dengan baik, dan bersedia menerima kita. Kita khawatir bahwa bila berselisih paham dengan mereka, mereka tidak akan menyukai kita dan menganggap kita sebagai orang yang tidak ada artinya. Kita cenderung menyesuaikan diri untuk menghindari akibat-akibat semacam itu. Rasa takut akan dipandang sebagai orang yang menyimpang ini diperkuat oleh tang- gapan kelompok terhadap perilaku menyimpang.Orang yang tidak mau mengikuti apa yang berlaku di dalam kelompok akan menanggung risiko mengalami akibat yang tidak menyenangkan. Bila seseorang berselisih paham tentang sesuatu dengan anggota kelompok yang lain, akan muncul berbagai usaha untuk membuat orang itu menyesuaikan pendapatnya. Cara yang paling langsung adalah dengan mencoba meyakinkan individu tersebut bahwa dia keliru dan kelompoklah yang benar. Hal ini tampak dalam penelitian yang di-lakukan oleh Schachter (1951), di mana dilibatkan tiga orang di dalam suatu kelompok. Salah satu di antara mereka terus menerus berperan sebagai orang yang menyimpang dari apa yang dianut kelompok. Anggota kelompok yang lain berusaha mengubah posisi kedua rekan peneliti yang menyimpang tersebut. Mereka, mendebat, mengemukakan berbagai alasan untuk memperkuat posisi kelompok, membujuk, dan melakukan apa saja untuk mengubah pendirian kedua orang itu agar menyetujui pendapat kelompok.
Menjadi objek dari kampanye yang berapi-api seperti itu tidaklah menyenangkan. Individu mengalami tekanan yang sangat besar untuk mengubah posisinya dalam usaha menghentikan serangan itu. Individu yang mengubah posisinya akan diterima dan diperlukan seperti anggota kelompok yang lain. Sedangkan individu yang tetap bertahan pada posisi yang menyimpang pada akhirnya tidak akan diperdulikan. Dalam penelitian tersebut, tampak bahwa ternyata kelompok kurang menyukai orang semacam ini dan cenderung menolaknya. Bila pada suatu saat mereka harus mengerjakan suatu tugas, orang yang menyimpang itu tidak akan pernah terpilih untuk menduduki posisi-posisi puncak, dia tidak akan pernah dipilih menjadi pemimpin. Malahan, dia akan diserahi tugas yang paling tidak menyenangkan. Akibat-akibat negatif yang lama karena menjadi orang yang menyimpang, juga tampak dalam penelitian tentang agresi yang dilakukan oleh Freedman dan Doob (1968). Sekelompok orang yang belum pernah saling bertemu dikumpulkan dan diberikan informasi tentang setiap pribadi anggota kelompok. Salah satu di antaranya digambarkan sebagai orang yang berbeda dari yang lain, tetapi tidak dijelaskan sejauh mana perbedaan itu. Yang diketahui oleh semua anggota kelompok adalah bahwa dalam beberapa hal kepribadian orang tersebut berbeda dengan kepribadian mereka.
Kemudian kelompok itu diminta untuk memilih salah seorang anggota yang akan diikutsertakan dalam penelitian mengenai proses belajar. Orang yang dipilih mempunyai tugas memberikan tanggapan. Bila subjek memberikan tanggapan yang salah, dia akan menerima shock listrik. Jelas bahwa kedudukan ini sangat tidak menyenangkan. Kelompok itu memilih orang yang menyimpang untuk melaksanakan tugas menerima shock listrik ini, atau untuk menderita. Dalam situasi yang lain, kelompok harus memilih seseorang yang akan menerima ganjaran beberapa ribu rupiah karena ikut serta dalam penelitian tentang proses belajar yang sederhana. Untuk posisi yang menyenangkan ini, mereka memilih anggota yang tidak menyimpang. Dengan kata lain, mereka yang menyimpang dipilih untuk tugas yang menyakitkan, yang buruk, dan bukan untuk tugas yang menguntungkan, yang baik. Kelompok juga dapat memberikan hukuman secara langsung. Suatu penelitian klasik dilakukan di Hawthorne, tepatnya di Western Electric Company (Homans, 1965). Obeservasi dilakukan terhadap sejumlah pegawai yang upahnya bergantung pada produktivitas kerja mereka. Dengan bekerja lebih keras dan menghasilkan lebih banyak, setiap pegawai akan mendapat upah yang lebih banyak pula. Namun, para pegawai itu telah menetapkan standar mereka sendiri tentang jumlah pekerjaaan yang harus diselesaikan dalam satu hari. Setiap hari, setelah jumlah tersebut tercapai, mereka mengendurkan kecepatan kerja mereka. Dengan demikian mereka memperoleh jumlah uang yang memadai dan tidak perlu bekerja keras. Setiap orang yang bekerja keras akan membuat hasil pekerja lain tampak buruk dan menyebabkan pihak pengelola meningkatkan harapannya tentang hasil yang harus dicapai. Kelompok itu memberikan tekanan yang keras terhadap anggota-anggotanya agar mereka tidak melanggar aturan yang ada. Mula-mula kelompok tersebut menentukan kode perilaku. Orang tidak boleh bekerja keras, atau bila mereka melakukannya, mereka akan disebut “pengacau.”‘ Mereka juga tidak boleh bekerja terlalu ringan yang akan menyebabkan mereka disebut “penipu.” Selain itu, kelompok juga menetapkan suatu metode agar kode ini dapat dipertahankan. Setiap orang yang bekerja terlalu keras atau terlalu ringan akan “dipukul.” Pukulan yang keras itu diberikan pada lengan bagian atas. Pukulan ini tidak hanya menyakitkan, tetapi juga merupakan hukuman simbolik karena telah berani menentang kelompok. Setiap anggota kelompok boleh memberikan hukuman ini dan orang yang dihukum tidak boleh melawan. Hukuman itu harus diterima dan di dalamnya terkandung adanya tanda-tanda penolakan. Pukulan merupakan contoh bentuk tekanan dramatis yang terdapat dalam semua kelompok, yang menyebabkan anggotanya menyesuaikan diri terhadap pendapat, nilai, dan perilaku yang diterima. Melalui persuasi, ancaman, pengasingan, hukuman langsung, dan ganjaran, kelompok menekan anggotanya agar menyesuaikan diri. Kekuatan hasrat untuk menjadi orang yang tidak menyimpang menunjukkan keragaman di antara orang yang satu dengan orang yang lain dan di antara situasi yang satu dengan situasi yang lain. Mungkin beberapa orang tidak merasakannya sama sekali atau bahkan memilih untuk .menjadi orang yang menyimpang; dalam situasi tertentu mungkin kebanyakan orang akan lebih senang menjadi orang yang menyimpang, tetapi, pada umumnya, ada kecenderungan untuk menghindari penyimpangan.
Tentu saja, situasi konformitas dirancang secara sempurna guna meningkatkan rasa takut individu untuk menjadi orang yang menyimpang. Setiap orang menduduki suatu posisi dan dia menyadari bahwa posisi itu tidak tepat. Berarti dia telah menjadi orang yang menyimpang dalam pikirannya sendiri, yang cukup menggelisahkan: Mengapa dia mengambil langkah yang salah? Apakah ada sesuatu yang salah pada dirinya? Setelah itu muncul pernyataan dari kelompok: Semua anggota kelompok telah sepakat dan dia harus keluar dari kelompok bila tidak mau mengikuti mereka. Dengan mengikuti kelompok, setidak-tidaknya dia dapat menghindari perbedaan dengan orang lain. Efek yang saling berkaitan antara kurangnya kepercayaan terhadap pendapat sendiri dan rasa takut menjadi orang yang menyimpang membuat orang menyesuaikan diri. Kekuatan kedua motif ini berubah-ubah sesuai dengan situasi, dan setiap faktor yang kita bahas dapat dipahami berdasarkan pengaruhnya terhadap pertimbangan-pertimbangan yang mendasar ini.

RASA TAKUT TERHADAP PENYIMPANGAN RASA | ok-review | 4.5