PERAN SOSIAL DAN KEKOMPAKAN KELOMPOK

By On Monday, November 25th, 2013 Categories : Psikologi

Bila sejumlah orang ditempatkan bersama dalam suatu kelompok, mereka tidak akan tetap tidak dapat dibedakan sama sekali. Mereka mengembangkan pola-pola perilaku, membagi tugas, mengambil peran yang berbeda-beda, dan sebagainya. Sebagai contoh, Merei (1949) mengamati bahwa setelah tiga kali pertemuan atau lebih, sekelompok anak-anak membentuk tradisi: Mereka memutuskan di mana setiap anak akan duduk di ruangan itu, siapa yang akan memainkan suatu mainan, rangkaian kegiatan apa yang akan diikuti, dan sebagainya. Dalam kelompok informal seperti ini, pola-pola perilaku yang berbeda akan muncul sejalan dengan waktu sebagai hasil interaksi kelompok. Namun, seringkah, struktur dasar suatu kelompok telah ditetapkan sebelumnya. Pelajar yang memasuki sekolah, pegawai yang memegang jabatan baru, orang yang bergabung dengan perkumpulan catur, dihadapkan pada struktur sosial yang telah ada sebelumnya. Sebagai contoh, dalam sebuah perusahaan kecil yang mempro-duksi perangkat lunak komputer, mungkin akan terdapat empat posisi yang berbeda: pemilik yang mendirikan perusahaan, pemrogram yang mengembangkan paket perangkat lunak baru, seorang penjual, dan seorang sekretaris. Di hampir semua sistem sosial, posisi-posisi itu menimbulkan status sosial (martabat) yang berbeda. Dalam perusahaan perangkat lunak tersebut, pemilik perusahaan mempunyai status yang paling tinggi dan pendapatan yang paling besar; mungkin sekretaris memiliki status dan pendapatan yang paling rendah. Yang berkaitan dengan setiap posisi adalah peranan sosial, seperangkat aturan dan pemaKaman tentang tindakan apa yang di-harapkan dari or aitg yang menempati suatu posisi, apa “tanggung jawabnya, dan sebagainya. Dalam suatu kelompok, peranan memberikan batas pembagian kerja. Dalam beberapa kelompok, seperti perusahaan perangkat lunak di atas, posisi, peranan dan status dinyatakan secara eksplisit dan mungkin dipaparkan dalam bagan organisasi formal. Individu harus menyesuaikan diri terhadap persyaratan posisi mereka dan kelompok, meskipun mungkin mereka mencoba merumuskan kembali atau merundingkan kembali pola-pola yang telah ada.
Pada beberapa kelompok, ikatan di antara anggota-anggota kuat dan menetap. Pada kelompok lain, ikatan tersebut kendur, dengan hilangnya rasa “berkelompok” dan semakin lama anggota-anggotanya cenderung memisahkan diri. Kekompakan mengacu pada kekuatan, baik positif maupun negatif, yang menyebabkan para anggota menetap dalam suatu kelompok (Festinger, 1950). Kekompakan merupakan karakteristik kelompok sebagai suatu kesatuan. Ini bergantung pada tingkat keterikatan individual yang dimiliki setiap anggota kelompok. Dengan demikian, pembahasan kita tentang keterikatan dalam Bab 9 relevan untuk memahami kekompakan kelompok. Daya tarik antarpribadi yang terdapat di antara anggota kelompok merupakan kekuatan pokok yang positif (Ridgeway, 1983). Bila anggota kelompok saling menyukai satu sama lain dan dieratkan dengan ikatan persahabatan, kekompakan kelompok itu akan tinggi. Memang, para peneliti .sering mengukur kekompakan melalui pengukuran tingkat rasa suka satu sama lain di antara anggota kelompok. Yang keduat motivasi orang untuk tetap tinggal dalam suatu kelompok juga dipengaruhi oleh tujuan ins-trumental kelompok itu. Kita sering berperan serta dalam kelompok sebagai sarana untuk mencapai tujuan, sebagai cara untuk memperoleh pendapatan, untuk melakukan olah raga yang kita sukai, untuk melakukan pekerjaan yang berguna. Jadi, ketertarikan kita terhadap suatu’kelompok bergantung pada kesesuaian antara kebutuhan dan tujuan kita sendiri dengan kegiatan dan tujuan kelompok. Faktor yang ketiga adalah sampai sejauh mana suatu kelompok berinteraksi secara efektif dan selaras. Tak diragukan lagi, kita akan lebih suka masuk ke dalam tim yang bekerja secara efisien, daripada tim yang menghabiskan waktu dan menyalahgunakan keterampilan kita. Pada umumnya, segala sesuatu yang meningkat-kan kepuasan dan semangat kelompok akan meningkatkan kekompakan.
Kekompakan kelompok juga dipengaruhi kekuatan negatif yang menyebabkan para anggotanya tidak berani meninggalkan kelompok itu, bahkan meskipun mereka merasa tidak puas. Kadang-kadang orang tetap tinggal dalam suatu kelompok karena kerugian yang akan ditanggungnya bila dia meninggalkan kelompok itu sangat tinggi atau karena tidak tersedianya pilihan lain. Mungkin kita menganggap bodoh rekan sekerja kita di pabrik, tetapi kita tetap tinggal karena tidak ada jabatan lowong lagi di kota ini. Mungkin kita tidak menyukai guru kita, tetapi tetap tinggal di kelas itu karena kita tidak mempunyai pilihan lain.

PERAN SOSIAL DAN KEKOMPAKAN KELOMPOK | ok-review | 4.5