PERAN PENTING KELUARGA DAN RUMAH TANGGA

By On Tuesday, October 22nd, 2013 Categories : Antropologi

Ketika industrialisasi berlangsung di abad 19 dan 20, pola keluarga di masyarakat Barat tampaknya kian seragam dan terprediksi, antara lain ditandai oleh pembagian tugas/tanggung jawab menurut gender, meningkatnya komitmen terhadap pasangan tetap (suami/istri) dan anak-anak yang dibarengi oleh susutnya komitmen terhadap anggota lain dari keluarga besar (keponakan, sepupu dan sebagainya) (Harris, 1983). Pada pertengahan abad 20. antropologi dan sosiologi mencurahkan banyak waktu dan energi untuk memperdebatkan universalitas keluarga, khususnya fungsi-fungsinya, dan mengembangkan analisis komparatif atas berbagai sistem keluarga. Dewasa ini, kecenderungan itu mulai meredup, sekalipun diskusi tentang ukuran moral dan politik keluarga masih berlangsung. Semua masyarakat mementingkan fungsi reproduksi biologi dan sosial, namun organisasi sosial dan ekonominya sangatlah relatif. Sesungguhnya konsep keluarga bisa dipandang sebagai konstruksi modernitas, atau bahkan konstruksi industrialisasi. Hal ini mewarnai debat tentang dampak industrialisasi terhadap sistem keluarga dominan, yang disimplifikasikan sebagai pergeseran dari pola keluarga besar ke keluarga inti (orang tua dan anak).Dalam kondisi ini, makna keluarga pun bergeser, meskipun hal itu tak kentara pada masyarakat yang reproduksi sosialnya terorganisir secara berbeda. Konsepsi keluarga memang kompleks dan berubah-ubah, baik itu dalam konteks akademis maupun kehidupan sehari-hari.
Ada dua makna pokok yang sering dipakai. Pertama adalah makna keluarga sebagai ikatan kekerabatan antar-individu. Jadi keluarga dalam pengertian ini merujuk pada mereka yang punya hubungan darah dan pernikahan. Kedua, sebagai sinonim bagi istilah “rumah tangga”. Dalam makna ini, ikatan kekerabatan tetap penting, namun yang ditekankan adalah adanya kesatuan hunian dan ekonomi. Faktor lain dalam mengartikan keluarga adalah batas-batas yang menentukan siapa yang termasuk anggota keluarga, dan siapa yang bukan. Kian erat hubungan darah. kian besar kemungkinan seseorang dianggap anggota keluarga, meskipun hubungan darah bukan satu-satunya faktor. Hal lain yang berpengaruh adalah hubungan-hubungan sosial dan hakikat kewajiban yang harus dipikul anggota keluarga. Kehidupan keluarga kian kompleks di akhir abad 20 ini. Dahulu ada standar dan seragam tertentu, namun kini peran standar itu sebagai penciri keluarga kian dipertanyakan. Di Barat, demografi kehidupan keluarga tengah mengalami pergeseran. Batasan keluarga dan kewajiban tiap anggotanya kian longgar. Meskipun para ilmuwan masih memakai istilah “siklus keluarga” (struktur baku tanggung jawab dan kesempatan-kesempatan dalam keluarga) yang lalu memunculkan istilah famili course (fase-fase baku munculnya tuntutan identifikasi setiap anggota keluarga), faktanya kian langka. Ini ditandai oleh meningkatnya jumlah kasus perceraian, ibu tak bersuami dan variasi tatanan atau pola hidup keluarga. Perubahan serupa juga melanda jaringan hubungan keluarga yang kini kian kompleks dan beragam sehingga seperti apa bentuk ideal keluarga dan hubungan-hubungan yang ada di dalamnya kian tidak jelas. Kian banyaknya perceraian dan perkawinan-ulang (dengan orang lain) berarti semakin banyak pula para mantan istri/suami, kasus pengabaian pengasuhan anak, orang tua tiri, anak tiri, saudara tiri, dan seterusnya. Karakter baku keluarga kian kabur, dan pola hubungannya (antara saudara tiri, orang tua tiri, pola orang tua tunggal dan sebagainya) kian rumit dan kurang melembaga. Jelas bahwa pergeseran ini juga mempengaruhi hubungan-hubungan dengan keluarga besar (paman, sepupu, keponakan, nenek, cucu, dan lain-lain). Batasan-batasan konstruksi keluarga berubah-ubah dan, sekurang-kurangnya di masyarakat Barat, satu-satunya elemen yang masih bertahan mungkin hanya kedudukannya sebagai institusi privat. Karena itulah yang kini berkembang pesat adalah teori-teori privatisasi keluarga yang sering dikaitkan dengan perkembangan industrialisasi. Yang dicakup lebih dari sekedar gagasan tetang pergeseran bentuk- bentuk keluarga inti, namun menyentuh pula kajian tentang pengelolaan keluarga (dalam pengertian rummah tangga) yang mengarah pada konstruksi fisik dan simboliknya. Privasi dianggap penting oleh keluarga di semua kelas sehingga perbaikan kondisi materi dalam kehidupan rumah tangga mendorong kemandirian kehidupan masing-masing keluarga dan mengurangi hubungan antar-tetangga. Namun di sisi lain, pemerintah kian terlibat dalam kehidupan keluarga melalui pengadaan berbagai program kesejahteraan yang memberi mereka wewenang untuk mengadakan penentuan dan pemantauan standar perilaku keluarga yang dianggap layak. Ini terutama berlaku dalam pengasuhan anak, di mana fungsinya melibatkan para tenaga profesional di bidang kesejahteraan, mulai dari pemeriksa kesehatan, pekerja sosial, para guru. dokter, dan sebagainya yang semuanya ikut mengatur keluarga khususnya yang dianggap memiliki masalah dalam hal pengasuhan anak. Sebagian dari riset yang paling menarik mengenai keluarga terfokus pada masalah reproduksi, dengan penekanan lebih pada aspek sosial dan ekonominya ketimbang pada aspek biologisnya. Pembagian kerja di lingkungan rumah tangga, perubahan-perubahan serta dampaknya terhadap kesenjangan gender telah dianalisis secara panjang lebar. Beberapa hal yang paling sering dipelajari adalah banyaknya kegiatan ekonomi, emosional, dan supportif yang tidak pernah mendapat imbalan langsung karena semuanya dianggap sebagai kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap anggota keluarga. Jadi produksi standar hidup tertentu bagi sebuah rumah tangga dan transformasi upah dalam analisis kesejahteraan pada riset-riset itu dipandang sama dengan kegiatan-kegiatan pada sektor hidup yang lain. Hubungan sosial dan ekonomi dalam kegiatan-kegiatan tersebut dianggap sebagai suatu hal yang alamiah selama masih dilakukan dalam ruang lingkup keluarga, meskipun sesungguhnya hakikat Kegiatan itu akan meluas ke distribusi sosial kekuasaan dan ketimpangan di berbagai bidang. Disamping itu keluarga-keluarga ternyata memainkan peran yang sangat penting dalam reproduksi materi dan kultural antar-generasi. Peran itu terutama berlangsung melalui perubahan-perubahan pola mobilitas sosial, pewarisan kekayaan keluarga, dan transmisi “warisan modal dan kultural”. Sejumlah studi telah mengungkap adanya hubungan berkesinambungan antara kualitas kesehatan dan pendidikan dengan kondisi-kondisi materi yang melingkupi kehidupan suatu keluarga. Singkatnya, lingkungan keluarga acapkali dibentuk oleh parameter-parameter struktural yang berakar pada hal-hal yang ada di luar keluarga itu sendiri, yang senantiasa memberikan dampak penting terhadap kondisi sosial dan ekonomi keluarga yang bersangkutan. Karena itu dan juga karena alasan-alasan lain, kesejahteraan keluarga tetap merupakan persoalan politik dan moral di seluruh dunia Barat. Berbagai persoalan seperti kekerasan dalam rumah-tangga dan penganiayaan anak, dampak pengangguran dan kemiskinan terhadap keharmonisan keluarga, berbagai persoalan yang bersumber dari pola orang tua tunggal, terutama yang berusia muda. para wanita miskin yang harus mengasuh anak-anaknya sendiri, serta meningkatnya pola keluarga tiri, telah meningkatkan kesadaran betapa institusi keluarga telah mengalami perubahan-perubahan mendasar Dalam konteks inilah kita perlu meningkatkan pemahaman bahwa keluarga memiliki konstruksi sosialnya sendiri. Kehidupan keluarga tidak pernah statis dan bentuk-bentuk maupun peran atau fungsinya senantiasa dipengaruhi oleh berbagai struktur sosio-ekonomi di mana ia berada. Perubahan-perubahan mencolok telah melanda pola-pola keluarga pada akhir abad 20, dan semua ini perlu penafsiran ulang dengan mengaitkannya pada kerangka sosial yang lebih luas.

PERAN PENTING KELUARGA DAN RUMAH TANGGA | ok-review | 4.5