PENOLAKAN TERSELUBUNG DALAM PROSES KOMUNIKASI

By On Thursday, November 28th, 2013 Categories : Psikologi

Komunikasi yang senjang tidak konsisten dengan sikap seseorang sebelumnya, sehingga cara pemecahan yang paling primitif (dan mungkin yang paling umum) adalah dengan menolak komunikasi. Bukannya menyangkal argumen berdasarkan logika atau melemahkan argumen dengan menyerang sumbernya, melainkan individu menolak argumen tersebut begitu saja tanpa alasan yang nyata dan jelas. Respons khas para perokok terhadap serangan yang cukup logik dan beralasan kuat tentang merokok akan mengatakan bahwa argumen tersebut tidak cukup kuat untuk menghentikannya mengisap rokok. Dia tidak menjawab argumen itu, hanya semata-mata tidak menerimanya. Bila orang yang mendukung hukuman mati melihat banyak bukti bahwa hukuman tersebut tidak mengurangi pembu-nuhan, dia cenderung tidak mempercayai bukti-bukti tersebut. Dia meremehkan bukti-bukti itu, mengatakan bahwa dia tidak mempercayainya, dan tetap mempertahankan dukungannya. Oleh sebab itu, untuk meyakinkan orang seringkali diperlukan lebih daripada sekedar argumen yang baik.
Dengan patokan berpikir ini, kita dapat beralih pada pemikiran tentang variabel-variabel bebas yang meningkatkan atau menurunkan jumlah perubahan sikap yang ditimbulkan oleh komunikasi persuasif. Menurut model, faktor-faktor ini dibagi dalam beberapa golongan yang meliputi komunikator, komunikasi itu sendiri, lingkungan sekitar yang asing bagi komunikasi dan para partisipan, dan karakteristik target.” Anda memulai pembicaraan dengan seorang sekretaris di kantor Departemen Psikologi. Dia memberitahu Anda bahwa mesin pemroses istilah yang telah digunakan departemen itu selama satu dua tahun, selalu rusak dan sudah terlalu sering direparasi. Mekanik Anda mengatakan bahwa Anda beruntung membeli mobil, karena model mobil yang sama dengan model-model tahun sebelumnya benar-benar tidak memuaskan, dan banyak kerusakan yang tidak dapat diperbaiki sampai tahun berikutnya. Petugas keamanan kampus menyarankan Anda untuk tidak berjalan-jalan di gang tertentu pada tengah malam, karena ada laporan gangguan terhadap para mahasiswi di daerah itu. Dalam kasus-kasus tersebut, Anda cenderung mempercayai pengamatan mereka, karena Anda yakin orang-orang ini mempunyai banyak pengetahuan tentang masalah-masalah tersebut. Salah satu kesimpulan yang paling nyata dan dapat dipercaya adalah bahwa semakin baik penilaian seseorang terhadap komunikator, semakin mudah orang itu mengubah sikapnya. Hal ini sesuai dengan model konsjs- tensi kognitjf. Bila guru agama mengatakan bahwa abortus merupakan tindakan, amoral tetapi seorang siswi menganggap tindakan abortus sebagai hak asasi wanita, maka sistem tersebut menjadi tidak seimbang. Dia dapat mengurangi ketidakseimbangan itu dengan mengubah sikapnya terhadap abortus dan menyetujui nasehat gurunya. Sebaliknya, bila seseorang yang tidak disukainya memiliki sikap yang berbeda dengan .dirinya, tidak terjadi ketidakseimbangan dan tidak ada tekanan untuk melakukan perubahan.
Jadi, semakin baik penilaian seseorang terhadap sumber komunikasi yang senjang, semakin besar kemungkinan orang itu akan mengubah sikapnya. Tetapi ada beberapa cara di mana komunikator dapat dinilai baik, dan tidak semuanya memberikan hasil yang tepat sama. Penelitian tentang gejala ini dimulai dengan “efek wibawa” (the prestige effect). Ini digambarkan dalam penelitian Lorge mengenai alih perasaan. Penelitian itu membandingkan efektivitas tokoh yang dinilai baik, seperti jefferson, dengan efektivitas tokoh yang dinilai tidak baik, seperti Lenin, secara global tanpa berusaha memerinci karakteristik tertentu yang menimbulkan “wibawa.” Penelitian selanjutnya membatasi konsep ini pada kredibilitas, yang terutama terdiri dari dua faktor: keahlian (expertness) dan keterandalan (trust worthiness) (Hovland dan Weis, 1952). Namun, mekanisme pengaruh kedua faktor ini terhadap perubahan sikap agak berbeda. Oleh sebab itu, pentinglah membedakan keduanya.

PENOLAKAN TERSELUBUNG DALAM PROSES KOMUNIKASI | ok-review | 4.5