PENGUNGKAPAN EMOSI SECARA UNIVERSAL

By On Wednesday, November 20th, 2013 Categories : Psikologi

Mengapa orang dapat cukup akurat dalam menilai emosi orang lain? Salah satu sebabnya barangkali karena semua orang menunjukkan ekspresi wajah yang sama untuk mengekspresikan emosi yang didasari hal tertentu. Mungkin kita semua tersenyum jika merasa gembira, mengerutkan dahi jika merasa cemas, dan selanjutnya. Di tahun 1872, berdasar teori evolusinya, Charles Darwin menyatakan bahwa ekspresi wajah secara universal menyampaikan keadaan emosi yang serupa. Pertanda universal semacam itu akan mempunyai nilai kelangsungan hidup yang lama bagi Homo Sapiens. Argumentasi yang diajukan Darwin ialah bahwa ekspresi universal telah berevolusi karena hal itu memungkinkan kita mengkomunikasikan emosi kita dan dengan demikian mengendalikan perilaku orang lain. Contohnya, jika seekor binatang menunjukkan wajah marah atau mengancam, yang lain akan berperilaku lebih tidak melawan, sehingga memungkinkan binatang pertama memenangkan pertemuan tanpa risiko melakukan perkelahian yang sebenarnya.
Dalam kenyataan, pada hakikatnya semua jenis kera dari Dunia Baholak ternyata menggunakan gerakan wajah untuk menunjukkan dominasi atau sikap menyerah. Letak alis mata yang berbeda kelihatannya penting: khususnya, alis mata akan diturunkan pada individu yang dominan atau mengancam dan akan dinaikkan pada individu yang menyerah atau pasrah. Argumentasi evolusionernya ialah bahwa mungkin terdapat hubungan antara ekspresi wajah yang dipergunakan primata setengah-manusia untuk berkomunikasi serta mengendalikan anggota jenisnya, dan yang dipergunakan manusia untuk tujuan yang serupa. Jika benar, mungkin mata-rantai serupa antara emosi dan ekspresi wajah terdapat di antara manusia di segala (hampir semua) kebudayaan.
Apakah terdapat sifat universal semacam itu pada manusia? Apakah kita mempunyai ekspresi wajah atau postur tubuh tertentu bagi setiap emosi? Apakah setiap orang yang merasakan suatu emosi tertentu memiliki ekspresi wajah yang serupa? Atau mungkinkah ekspresi rasa muak seseorang juga sama dengan orang lain? Hubungan antara ekspresi alis-diturunkan dan dominasi pada primata nonmanusia merupakan kemungkinan hubungan serupa pada manusia. Untuk mengujinya, Keating et al. (1981) telah menyuruh orang-orang dari sejumlah negara di Eropa, Afrika, Amerika Utara dan Selatan, serta Asia agar berpose dengan alis mata dinaikkan lalu sekali lagi dengan alis mata diturunkan. Para ahli riset juga menguji mata-rantai antara persepsi senyum dengan kegembiraan karena sejumlah telaah menunjukkan adanya mata-rantai antara senyum lebar primata (seringai) dengan mengkomunikasikan sikap menyerah. Sebaliknya, terdapat beberapa petunjuk bahwa di antara manusia, senyum dihubungkan dengan kegembiraan. Jadi mereka menyuruh orang berpose dengan tersenyum atau dengan mulut santai. Satu-satunya perbedaan antara berbagai pose tersebut ialah posisi alis mata atau mulut. Para subjek disuguhi gambar-gambar model dari negeri mereka sendiri dan diminta dalam bahasa negerinya untuk menilai pose dominan dan kegembiraan. Keating menemukan bahwa pose tidak-tertawa dan alis-diturunkan umumnya diasosiasikan dengan sikap dominan, khususnya di antara orang-orang yang paling kebarat-baratan. Senyum diidentifikasikan dengan kebahagiaan.
Penemuan ini sesuai dengan penemuan telaah-telaah lain di Barat di mana alis yang diturunkan diidentifikasikan dengan kemarahan, perilaku keras, melakukan pekerjaan yang penuh persaingan, atau sikap dominan. Alis yang dinaikkan diasosiasikan dengan penghormatan sosial memakai berbagai cara: yakni anak-anak akan lari, jika terjadi perselisihan, dengan persepsi rasa takut atau heran, dan sebagai tanda mengundang kontak sosial. Senyum biasanya diasosiasikan dengan sambutan, perilaku mencari-dukungan, dan kebahagiaan atau kegembiraan. Terdapat kemungkinan bahwa yang menyerupai senyum manusia itu adalah seringai primata yang menyerah. Jika seekor kera menyeringai, hal itu berarti bahwa dia menyerah. Mungkin terdapat hubungan evolusioner pada kecenderungan manusia untuk mengekspresikan sikap sosial dan sikap pasrah dengan cara yang sama.
Cobalah menguji dengan le&ih keras sifat universal ekspresi emosi tertentu dari orang-orang di daerah terpencil di Papua Niugini yang belum pernah tinggal di pemukiman barat atau kota pemerintahan, belum pernah menonton film, tidak mengerti bahasa Inggris. Pengekspresian emosi melalui wajah, tetapi melengkapi bukti universal tentang adanya perembesan batas kebudayaan. Khususnya, rasa bahagia, rasa sedih, rasa marah, dan rasa muak dapat diketahui melalui perjanjian tingkat tinggi baik di dalam maupun di luar kebudayaan. Rasa takut dan heran kerapkali dicampuradukkan.
atau Inggris pasaran, dan belum pernah bekerja untuk orang dari Kaukasia. Dapat diperkirakan bahwa orang-orang ini tidak mempunyai kontak visual dengan ekspresi wajah orang Barat sebagai ungkapan emosi. Masing-masing orang diberi cerita ringkas yang menggambarkan sebuah emosi, seperti “rasa sedih.” “Anaknya meninggal, dan dia merasa sangat sedih.” Lalu partisipan itu diberi sebuah potret tentang pengamat Barat yang sangat cocok menggambarkan emosi tadi, serta dua gambar yang menggambarkan emosi lain. Pada umumnya, baik anak-anak maupun orang dewasa memilih gambar yang “benar” lebih dari 80 persen setiap kalinya.

PENGUNGKAPAN EMOSI SECARA UNIVERSAL | ok-review | 4.5