PENGERTIAN ULAR KOBRA

By On Sunday, April 20th, 2014 Categories : Review

PENGERTIAN ULAR KOBRA – Suatu kelompok ular berbisa. Ular ini me­miliki 17-25 baris sisik yang melingkari punggung bagian tengah. Warna perutnya abu-abu mengkilat ke­hitaman; punggungnya cokelat kehitaman; sedangkan leher, bibir, dan moncongnya keputihan. Panjangnya dapat mencapai 1,5-2 meter. Dalam keadaan teran­cam, kobra menegakkan kepala dan memipihkan lehernya sehingga berkembang ke samping mirip cen- tong nasi atau sendok. Karena itu, kobra disebut juga ular sendok. Dalam keadaan demikian, ular bersuara mendesis-desis, siap mematuk dan menyemprotkan ludah beracun. Ular ini satu-satunya yang dapat menyemprotkan bisa. Jarak menyemprotnya dapat men­capai 2 meter, bergantung pada ukuran dan tingkat ke­takutannya. Semprotan ludah berbisa ini ditujukan ke mata musuhnya dan dapat mengakibatkan kebutaan sementara, antara 15 menit sampai satu jam. Apabila semprotan bisanya mengenai mata, dianjurkan agar mata tidak digosok-gosok, karena dapat mengaki­batkan luka. Hal ini dapat membutakan selama-lama­nya. Bisa akan segera hilang dengan dicuci atau di- rambang air bersih secara berulang-ulang sampai rasa pegalnya hilang.
Ular umumnya, termasuk kobra, akan menghindar jika bertemu dengan manusia. Ular ini mematuk ha­nya untuk mempertahankan diri. Patukan kobra me­ngeluarkan bisa yang sangat kuat. Bisa kobra terma­suk dalam golongan bisa neurotoksin yang merusak jaringan saraf, terutama sistem saraf pada pusat pema­pasan. Gejala keracunan ular berbisa dapat ringan sampai berat dan mulai tampak setengah sampai dua jam setelah orang terpatuk. Gejala dikatakan ringan apabila korban merasa pusing, muntah, dihinggapi pe­rasaan tidak enak, dan lukanya membengkak setelah 1 – 2 jam. Pada tahap ini korban tidak akan mati mes­kipun tidak memperoleh perawatan, kecuali kalau ge­jala itu disusul gejala keracunan yang berat. Gejala yang berat, antara lain demam, menurunnya kesadar­an, napas menjadi terengah-engah, sulit meng­gerakkan anggota badan, sulit menelan, berbicara ku­rang jelas, pupil membesar, dan kelopak mata tertutup. Korban yang sudah mengalami keracunan berat harus segera memperoleh suntikan antivenom. Jika tidak, korban dapat meninggal. Waktu ber­kembangnya gejala ringan menjadi gejala berat ber­gantung pada beberapa faktor, antara lain kualitas dan kuantitas bisa yang dimasukkan, daya tahan korban, lokasi patukan, dan cara pertolongan pertama. Perto­longan pertama pada korban patukan ular pada pokoknya adalah meringankan rasa sakit, menenang­kan pasien, dan berusaha agar bisa tidak terlalu cepat menyebar ke seluruh tubuh sebelum membawa kor­ban ke rumah sakit. Kecemasan dan rasa takut menye­babkan peredaran darah menjadi cepat, dan hal ini akan mempercepat penyebaran bisa ke seluruh tubuh. Untuk mencegah kepanikan, korban hendaklah diya­kinkan bahwa kematian akibat terpatuk ular jarang terjadi sebelum enam jam. Korban yang panik dapat meninggal 1 – 2 jam setelah dipatuk. Jika terpatuk ular, sebelum mendapat perawatan, bagian yang mengapit luka hendaknya dibalut kencang dengan kain agar bisa tak menyebar. Bagian yang terpatuk ha­rus diistirahatkan total dan selanjutnya korban harus secepatnya dibawa ke rumah sakit untuk mendapat anti venom. Jika terpaksa dapat pula dilakukan upaya perawatan dengan menoreh luka dan mengeluarkan darah yang bercampur bisa sebanyak-banyaknya.
Habitat ular kobra sangat luas, dari semak-semak hutan sampai sawah, dan pekarangan rumah. Ke­sukaannya bersarang di dalam lubang bekas tikus. Telurnya yang berukuran sebesar telur burung merpa­ti mencapai jumlah 20 – 30 butir. Telur tersebut ber­lekatan satu dengan lainnya dan ditunggui induknya sampai menetas. Ular ini aktif pada siang hari. Mang­sanya tikus, kadal, katak, burung, dan ular jenis lain. Daerah sebarannya meliputi Jawa, Sumatra, Kaliman­tan, Sumbawa, Flores, dan Alor.
Di India, ular ini sering diadu dengan garangan (Herperstes javanicus), musuh utama ular berbisa, se­bagai pertunjukan yang sangat menarik meskipun ta­ring-taring bisa kobra telah dihilangkan. Pertarungan antara keduanya dapat berlangsung 3-6 menit. Ga­rangan dapat dengan tangkas mengelilingi ular kobra dan menyerang dari atas kemudian menggigit leher belakang ular kobra. Karena ketangkasan, reaksi yang cepat, dan bulu yang tebal, garangan dapat melin­dungi diri terhadap bisa ular. Pertarungan ini sering berakhir dengan tertangkapnya tubuh ular oleh ga­rangan untuk kemudian ditekan ke tanah dan digigit kepalanya. Karena itu garangan merupakan pahlawan pelindung manusia terhadap serangan kobra.
King Kobra bercirikan-kepala yang tampak lebih pi­pih dan moncong yang pendek. Di atas tengkuk terda­pat sepasang sisik yang lebih besar dibandingkan de­ngan sisik lainnya. Barisan sisik yang melingkari bagian tengah badannya berjumlah 15 buah. Warna tubuhnya hitam gelap, hitam keabu-abuan, dan coke­lat, atau cokelat kekuningan bila masih muda. Ka­dang-kadang terdapat gelang-gelang putih di bagian depan tubuhnya. Panjangnya dapat mencapai 6 meter. King kobra adalah ular berbisa terbesar dan terpan­jang di dunia. Kepalanya dapat ditegakkan seperti ko­bra, bahkan lebih tinggi sampai mencapai 1,5 meter lebih. Ular ini tak dapat menyemprotkan bisa. Hidup­nya di gua-gifa atau rongga-rongga tanah pada semak- semak hutan. Selain kadal, tokek, katak, bunglon, dan biawak, king kobra memangsa hampir semua jenis ular. Makanannya dicari pada siang hari, terutama so­re hari. Daerah sebarannya di Indonesia meliputi Ja­wa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Nias.

PENGERTIAN ULAR KOBRA | ok-review | 4.5