PENGERTIAN TRANSISI KESEHATAN

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Kesehatan

Transisi kesehatan adalah perubahan-perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu dalam kesehatan masyarakat, yang diukur oleh angka kematian dan penyakit, dan determinan-determinan perubahan tersebut, khususnya yang bersifat kultural, sosial atau behavioral. Istilah yang terkait erat dengannya adalah transisi mortalitas dan transisi epidemiologis. Transisi mortalitas adalah bagian dari peristilahan dalam teori transisi demografik, yakni suatu perubahan dalam masyarakat dari tingkat kelahiran dan kematian yang tinggi menuju ke yang rendah, sebuah fenomena yang terdiri dari transisi kesuburan dan mortalitas yang saling terpisah kendati mungkin ada saling berhubungan. Transisi terakhir ini kini menjadi fenomena dunia, bermula dari Inggris sejak abad tujuhbelas. Transisi epidemiologi ditemukan oleh Omran (1971) dan tidak hanya mengacu pada menurunnya mortalitas melainkan juga perubahan dalam keseimbangan penyakit dan penyebab kematian ketika angka kematian menurun. Masih diperdebatkan apakah tingkat kesakitan (morbiditas) turun seiring dengan menurunnya angka kematian. Kebanyakan peneliti menolak anggapan itu (misalnya Riley 1990). Istilah transisi kesehatan muncul pada pertemuan Rockefeller Foundation di Beliagio Conference Center pada 1987, yang bertujuan membahas mortalitas, morbiditas, serta menunjukkan bahwa fokus perhatian terpenting adalah meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan, bukan hanya sebatas apa yang disebut sebagai pengurangan penyakit. Diniatkan juga agar bidang ini seyogyanya menyentuh determinan-determinan penurunan morbiditas dan mortalitas, agar muncul pengakuan bahwa hal itu tidak sekedar ditentukan oleh syarat pelayanan kesehatan modern dan peningkatan kesejahteraan materi (sebagaimana ditandai oleh kenaikan tingkat penghasilan, pemenuhan nutrisi, kebutuhan perumahan, dan lain-lain) namun juga faktor-faktor budaya, sosial dan behavioral.
Istilah ini telah memenuhi kebutuhan tersebut, sebagaimana terlihat dari makin meningkatnya penggunaan dan makin diterimanya istilah ini oleh para wartawan dan penerbit. Termasuk di sini adalah munculnya judul kesehatan terkemuka yang khusus menyoroti bidang baru ini, yakni Health Transition Review (CadweW dan Santow, mulai 1991). Selain itu telah muncul sejumlah kumpulan makalah dari para iluwan di bidang ini (Cadwell etall. 1990; Chen etall. 1993; Halstead et al. 1985). Kebutuhan untuk memberi penekanan lebih besar pada determinan-determinan sosial semakin terasakan pada 1970-an. Di negara-negara maju semakin ditekankan mengenai gaya hidup atau tingkah laku sehat. Aneka upaya mengurangi mortalitas orang dewasa juga telah dilakukan. Program-program internasional survey penduduk. seperti World Fertility Surveys pada 1970 dan Health Surveys pada 1980, telah menunjukkan bahwa kelangsungan hidup anak-anak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan orang tua, khususnya ibu. Cadwell (1979) menunjukkan bahwa pengaruh pendidikan orang tua tidak hanya tercermin pada tingkat pendapatannya saja, namun juga sikapnya terhadap kesehatan, dan hal ini cocok dengan laporan tentang pembangunan kesehatan di negara-negara Dunia Ketiga oleh Hobcraft et al. (1984) serta Cleland dan van Ginnaken (1988). Mench et al. (1985), dari sebuah studi di lima belas negara berkembang, menyatakan bahwa efek langsung dari pendidikan wanita adalah penurunan 3,4 persen mortalitas anak- anak untuk tiap satu tahun tambahan masa pendidikan. Ada bukti lain yang sifatnya berlawanan berkenaan dengan pentingnya faktor-faktor sosial dalam menentukan penurunan mortalitas. Harapan hidup di Dunia Ketiga tidak memiliki hubungan yang besar dengan tingkat pendapatan. Misalnya. Srilangka dan salah satu negara bagian India, Kerala, selama 1980-an mencapai angka harapan hidup 70 tahun, tidak berbeda jauh dengan negara-negara industri maju, sementara tingkat pendapatan per kapitanya hanya seperempat-puluh negara-negara maju dan tingkat pembelajaan kesehatan mereka sama kecilnya dengan negara-negara miskin lain. Sebaliknya, sederetan negara Timur Tengah dan Afrika Utara, di mana pendidikan wanitanya rendah dan otonominya pun terbatas, menghasilkan mortalitas yang amat tinggi. Caldwell (1986) menghubungkan keberhasilan transisi kesehatan di Srilangka dan Kerala dengan tradisi pemeliharaan kesehatan yang radikal dan tingginya otonomi wanita dalam kultur mereka berkaitan dengan anak-anak serta diri mereka sendiri. Ia menunjukkan bahwa faktor- faktor sosial semacam itu dan mulai tersedianya layanan kesehatan yang modern telah berinteraksi sedemikian rupa sehingga menghasilkan mortalitas yang rendah (ini didukung bukti bahwa Srilangka tidak mencapai keberhasilan tersebut sebelum layanan-layanan itu tidak tersedia).
Layanan kesehatan yang paling berhasil adalah yang paling demokratis, yang memberikan prioritas utama untuk menyediakan jasa bagi semua sektor masyarakat dengan biaya murah dan mudah, termasuk dalam pengadaan peralatan medis modern. Mensch et al. (1985) memperlihatkan bahwa kelangsungan hidup anak-anak di Dunia Ketiga amat dipengaruhi oleh pendidikan ibu, pendidikan ayah dan etnisitas. la menunjukkan bahwa dalam delapan masyarakat plural yang ditelitinya terdapat perbedaan yang besar dalam mortalitas anak-anak di antara kelompok-kelompok etnisnya, kendati tingkat pendapatan dan akses ke layanan kesehatan telah dikontrol. Mereka percaya bahwa penekanan pada “teknik” seperti praktek-praktek perawatan anak dan kesehatan pribadi relatif lebih penting ketimbang unsur- unsur material murni dan input-input moneter yang tercermin dari variabel-variabel seperti tingkat pendapatan, fasilitas perumahan dan kualitas tempat tinggal di daerah perkotaan. Akan tetapi, mungkin perlu dicatat bahwa belum ada bukti yang pasti mengenai apakah faktor-faktor sosial yang terlibat dalam mencapai mortalitas anak-anak yang rendah itu beroperasi lewat mekanisme umum seperti perawatan, khususnya dalam menjamin bahwa anak-anak tidak menderita kesakitan atau kecelakaan, atau apakah pengaruh tersebut terutama terjadi melalui efisiensi interaksi dengan sistem medis bilamana perawatan diperlukan. Dalam serangkaian publikasi, Preston dan rekan-rekannya menganalisis data-data kesehatan AS pada awal abad duapuluh (misalnya Preston dan Haines 1991) dan mereka memperlihatkan bahwa pengaruh yang kuat dari pendidikan ibu terhadap mortalitas anak-anak sebagaimana yang terlihat di negara-negara berkembang ternyata tidak ditemui di AS. Caldwell (1991) berpendapat bahwa hal itu dikarenakan perawatan efektif tidak hanya membutuhkan obat-obat modern melainkan juga keyakinan terhadapnya, dan dipercayanya pandangan ilmiah yang mendorong seseorang untuk menerima layanan kesehatan tersebut. Perilaku yang mempercayai fasilitas kesehatan itu bukan merupakan bagian dari masyarakat Barat di awal abad duapuluh, meskipun sebagian besar fasilitas kesehatan itu diimpor masuk ke Dunia Ketiga melalui sistem pendidikan barat. Oleh karena itu, efektivitas sistem kesehatan merupakan suatu fungsi dari lamanya masa pendidikan orang tua dan anak itu sendiri. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengembangkan metode analisis yang cocok untuk menggali masalah transisi kesehatan (misalnya Cleland dan Hill 1991). Selain komitmen untuk memandang penting masalah kesehatan dan penyakit, yang sama pentingnya dengan soal hidup dan mati, hampir semua analisis transisi kesehatan masih mendukung kesimpulan mereka dengan memakai statistik mortalitas. Hal ini bukan hanya dikarenakan sifat final dari kematian dan karena kematian adalah bukti tertinggi bahwa intervensi medis telah gagal, tapi juga karena ia bisa secara jelas didefinisikan sebagai lawan dari keadaan sakit yang acapkali samar-samar, apalagi kalau penelitian itu adalah produk dari laporan-laporan restropektif dari responden yang didatangi dari rumah ke rumah mengenai keadaan anak-anak atau mereka sendiri. Ukuran-ukuran sosial, kultural, dan behavioral bahkan bisa lebih kabur lagi, kendati beberapa ukuran mengenai pendidikan masih bisa diterima, sehingga hal itu bisa mengacaukan penggambaran tentang otonomi wanita atau tingkat radikalisme atau egalitarianisme dalam suatu masyarakat.

PENGERTIAN TRANSISI KESEHATAN | ok-review | 4.5