PENGERTIAN TRANSISI DEMOGRAFIS

By On Thursday, October 17th, 2013 Categories : Sosiologi

Transisi demografis, juga dikenal sebagai lingkaran/ siklus demografis (demographic cycle), menggambarkan proses perubahan tingkat kematian dan kelahiran pada suatu masyarakat dari suatu situasi di mana angka keduanya relatif tinggi jika dibandingkan situasi di mana keduanya rendah. Dalam ekonomi-ekonomi atau masyarakat yang sudah maju, angka kematiannya cenderung menurun, dan demikian pula dengan tingkat kesuburan atau angka kelahirannya. Tingkat kesuburan Perancis mulai menurun pada akhir abad kedelapanbelas, dan hal yang sama terjadi di kawasan Eropa Tenggara dan Tengah, demikian juga di negara-negara berbahasa Inggris di luar Eropa pada tiga dekade terakhir dalam abad sembilan belas. Dalam sejarah manusia, tingkat kesuburan dipercayai selalu bergerak seiring menyertai perkembangan tingkat kematian, namun dalam kenyataannya tingkat kesuburan baru menurun setelah menurunnya tingkat kematian pada masa transisi demografis tertentu, dan hal itulah yang telah mengakibatkan pesatnya pertumbuhan penduduk pada ceruk periode tertentu. Di Perancis, situasi seperti itu telah terlampaui pada tahun 1910-an, ketika angka kelahiran dan angka kematian bersaing ketat, dan pada 1930-an hal yang sama terjadi pada negara-negara lainnya sebagaimana yang disebutkan sebelumnya.
Thompson (1929) menggolongkan negara-negara ke dalam tiga kelompok menurut tahapan dari proses tingkat-tingkat ketiga hal tadi. Rumusan proses tersebut kemudian dilanjutkan oleh C.P. Blacker (1947) yang mengemukakan adanya lima tahapan di mana salah satu di antaranya bukan pencapaian suatu kondisi demografis yang hampir-hampir tetap melainkan suatu kondisi penurunan populasi, suatu kemungkinan yang didukung oleh pengalaman banyak negara selama masa Depresi Besar di era 1930-an. Namun demikian, makalah yang diterbitkan oleh Notestein (direktur Pusat Riset Universitas Princeton) pada tahun 1945 yang memperkenalkan istilah transisi demografis. Notestein menggarisbawahi tidak terelakkannya transisi demografi itu di semua masyarakat dan, bersama dengan makalah lainnya yang terbit tujuh tahun kemudian, mulai mengeksplorasi mekanisme-mekanisme yang dapat menjelaskan terjadinya perubahan itu. Notestein berpendapat bahwa turunnya angka kematian disebabkan oleh kemajuan ekonomi dan ilmu pengetahuan, dan secara umum hal itu dianggap positif. Sementara itu, angka kelahiran diyakininya perlu dipertahankan tetap tinggi di berbagai masyarakat yang angka kematiannya masih tinggi, sampai pada akhirnya angka kematian itu dapat ditekan sehingga angka kelahiran yang tinggi tersebut tidak diperlukan lagi. Mekanisme budaya serta agama dikatakannya memainkan peran penting di situ. Ia juga percaya bahwa pertumbuhan populasi perkotaan dan kemajuan pembangunan ekonomi memacu individualisme dan rasionalisme yang selanjutnya mengendurkan keyakinan tradisional akan pentingnya punya banyak anak.
“Teori” transisi demografi sampai sejauh ini lebih tepat dikatakan sebagai kumpulan observasi dan penjelasan, ketimbang teori yang baku. Coaie (1973) telah merangkum riset transisi demografi di Eropa, dan di situ ia mendapati adanya penyebaran perilaku baru dalam pengendalian jumlah anak yang memainkan peran penting dalam transisi tersebut. Caldwell (1976) mengatakan bahwa angka kelahiran tinggi punya motif ekonomi dalam masyarakat pra-transisi karena orang tua bisa memanfaatkan anak-anaknya. Ketika biaya pemeliharaan anak lambat laun melampaui keuntungan yang dibuahkannya. maka angka kelahiran pun berangsur-angsur turun The Chicago Household Economist menekankan pentingnya berbagai perubahan sosial dan ekonomi atas nilai waktu kaum wanita (wanita bekerja akan lebih suka membatasi jumlah anak) dan perubahan miai marginal anak sebagai penyebab penurunan angka kelahiran. Setelah Perang Dunia Kedua. fokus perdebatan bergeser ke soal apakah transisi demografi itu akan terhenti begitu pertumbuhan penduduk konstan. Baby boom di banyak negara industri baru adalah pemicu diskusi baru tersebut. Namun pada dekade 1970-an, fenomena baby boom itu dianggap bersifat sementara yang takkan mengganggu keseluruhan proses transisi demografi universal. Dewasa ini, pendapa: mengenai adanya transisi demografi yang bersirat pasti di seluruh dunia ditunjang oleh kenyataan turunnya angka kelahiran (khususnya berkat keberhasilan program keluarga berencana di sejumlah negara berkembang) di seluruh dunia, kecuali Afrika dan Timur Tengah.
Meskipun transisi demografi merujuk pada penurunan angka kelahiran dan kematian. para ilmuwan sosial lebih senng memakainya untuk merujuk pada penurunan angka kelahiran saja. Karena penurunan angka kelahiran yang mantap di dunia untuk pertama kalinya terjadi di Eropa Barat Laut dan tengah selama paruh kedua abad sembilan belas, maka pakar demografi cenderung memakai istilah “transisi demografi kedua” untuk menyebut penurunan angka kelahiran di tempat lain di masa-masa berikutnya, seperti yang terjadi di Eropa Timur, atau yang berlangsung di Amerika Latin dan Asia pada 1960-an. Istilah ini kemudian diterima untuk menyebut penurunan angka kelahiran setelah terjadinya baby boom di negara-negara maju, dan penurunan yang terjadi di negara-negara yang baru mulai mengalami transisi demografi (selain negara-negara Eropa Barat Laut dan Tengah, serta negara-negara berbahasa Inggris di luar Eropa). Antara pertengahan 1960-an hingga awal 1980-an, angka kelahiran (atau angka kesuburan) di berbagai negara turun sekitar 30-50 persen. Angka ini masih lebih rendah ketimbang pada transisi demografi yang pertama. Philippe Aries tentang dua motif utama turunnya tingkat kelahiran di Eropa Barat”. Yang pertama adalah motif peningkatan peluang anak- anak untuk mendapatkan pekerjaan dan status sosial yang lebih baik, dan yang kedua adalah turunnya pengutamaan anak-anak (istilahnya adalah child-king) karena para orang tua mulai merasa perlu menyisihkan perhatian lebih besar untuk diri mereka sendiri. Para ibu tidak mau lagi menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk melahirkan dan membesarkan anak-anaknya. Aries dan rekan-rekannya berpendapat dalam dunia yang kian cepat berubah ini para orang tua makin merasa perlu membuat rencana masa depan, termasuk jumlah anak yang hendak mereka miliki. Kecenderungan wanita bekerja, hidup lajang, serta teknologi pembatasan kelahiran (pil, IUD, bahkan sterilisasi) terus berlangsung, dan semua itu turut menyebabkan turunnya angka kelahiran. Pendapat senada juga dapat kita temukan dalam Second Contraceptive Revolution karya Henri Leridon (1981), Demographic Transition tulisan Ron Lesthaege dan Dirk van der Kaa (1986), serta Second Demographic Transition karya van der Kaa (1987).

PENGERTIAN TRANSISI DEMOGRAFIS | ok-review | 4.5