PENGERTIAN TEORI DISTRIBUSI PENDAPATAN

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Ekonomi

Meskipun para ekonom tidak selalu mengutamakan pembahasan distribusi, akan tetapi teori distribusi pendapatan hampir tidak pernah tidak menjadi fokus sentral dalam analisis sistem-sistem perekonomian. Teori tersebut tidak cuma membahas masalah distribusi fungsional dari pendapatan melainkan juga besarnya angka distribusi pendapatan. Teori-teori ekonomi ortodoks menjadikan masalah-masalah di seputar distribusi pendapatan sebagai bagian tak terpisahkan dari analisis neo-klasik mengenai harga, output dan alokasi sumber daya. Secara ringkas, setiap perusahaan kompetitif harus memasang harga setinggi mungkin atas outputnya dan harga yang ia bayar untuk inputnya adalah sesuai dengan harga pasar. Perusahaan harus memilih output dan menyesuaikan permintaan input-inputnya sedemikian rupa sehingga memaksimalkan laba pada tingkat harga- harga yang berlaku. Demikian pula setiap rumah tangga, meskipun mereka harus menerima begitu saja harga-harga untuk barang-barang dan jasa (misalnya jasa buruh yang dipasok oleh para anggota rumah tangga), rumah tangga dapat menyesuaikan kuantitas barang dan jasa yang diminta atau dipasok ke pasar sedemikian rupa sehingga memaksimalkan kepuasan dalam batas-batas yang dimungkinkan anggaran rumah tangga itu. Semua harga ini dijadikan patokan sehingga menjadi kliring pasar: pasokan agregat paling tidak setara dengan permintaan agregat untuk setiap barang dan jasa. Imbalan bagi setiap faktor produksi — baik itu tenaga kerja tertentu, sumber daya alam, atau jasa peralatan modal, ditentukan oleh harga kliring pasar. Jika terjadi perubahan teknologi, atau perubahan stok sumber-sumber daya alam, atau pergeseran pola-pola preferensi rumah tangga, hal hal itu akan menggeser juga pola pasokan dan/atau permintaan pada satu jenis pasar atau lebih, dan harga-harga barang dan faktor-faktor produksi pada umumnya akan berubah sesuai dengan kliring pasar yang baru.
Distribusi fungsional dari pemasukan dengan demikian tampaknya secara otomatis ditentukan oleh mekanisme pasar. Lebih jauh lagi, rincian distribusi pendapatan antara orang-orang atau antar-rumah tangga bisa segera bekerja dalam kerangka ini: pola waktu konsumsi dan tabungan oleh rumah tangga, dan investasi pendidikan yang dilakukan seseorang untuk diri mereka sendiri maupun anak-anak mereka masing- masing berperan signifikan dalam menentukan ukuran distribusi pendapatan yang ada, bisa dianalisis sebagai kasus khusus dari optimalisasi rumah tangga. Ada satu jenis informasi lagi diperlukan untuk melengkapi teori distribusi pendapatan seperti ini, yakni: sistem hak milik yang berlaku dalam komunitas itu. Pentingnya hal ini terhadap ukuran distribusi pendapatan sudah cukup jelas: pertanyaan siapa memiliki sumber-sumber alam. siapa memiliki perangkat-perangkat modal dan siapa berhak atas saham keuntungan dari sebuah perusahaan, merupakan hal-hal pokok yang menentukan pendapatan setiap rumah tangga. Anggaran masing-masing rumah tangga ditentukan bersama oleh hak-hak milik ini dan harga pasar, serta bisa berubah secara dramatis jika pola kepemilikan berubah, atau sistem kepemilikan bergeser (misalnya dari sistem kepemilikan pribadi menjadi sistem kepemilikan negara). Namun sistem kepemilikan ini juga mempengaruhi harga-harga pasar serta distribusi pendapatan fungsional. Andaikata hak-hak milik masing-masing rumah tangga berubah, konsekuensi perubahannya akan mengubah pola permintaan barang-barang dan jasa, dan dengan demikian pasar akan mengubah pula harga-harga aneka barang konsumsi, tenaga kerja dan lain-lain. Jadi teori ortodoks dikritik karena mengelakkan diri dari masalah-malasah pokok dalam penentuan pendapatan, dengan menyerahkan begitu saja pertanyaan mengenai hak milik kepada para sejarawan dan filsuf. Sosok ortodoks aliran neo-klasik telah ditentang tidak saja lantaran main potong kompas begitu, namun juga karena asumsi-asumsinya yang kelewat ketat mengenai proses-proses ekonomi yang terlibat di sana. Karena asumsi-asumsi ini dipasang tepat di jantung teori, bukannya sebagai penyederhaan yang memang diperlukan untuk mempermudah pemahaman, maka banyak ekonom yang kemudian mempersoalkan relevansi dari berbagai aspek dalam standar penghitungan distribusi pendapatan. Kita mungkin bisa menyebut tiga contoh guna membantu kita menyusun teori alternatif. Pertama, perlu diingat bahwa teori ortodoks tidak menyukai adanya penghambat-penghambat kompetisi dan bahwasanya dalam pasar yang kompetitif penerapan kekuatan monopoli tidak terlalu dipersoalkan dan keberadaannya dianggap hanya sementara. Dikatakan bahwa hambatan persaingan  dalam bentuk segmentasi pasar tenaga kerja dan diskriminasi merupakan hal yang penting dalam menganalisis bagian terendah dari distribusi pendapatan; dan kekuatan monopoli bisa jadi amat penting di bagian atasnya, misalnya, dalam menentukan besarnya gaji untuk berbagai profesi yang memasang hambatan bagi pendatang baru. Penentuan harga secara monopolistik oleh perusahaan juga dipandang sebagai faktor penting dalam distribusi pemasukan fungsional. Kekuatan monopoli dianggap faktor penting dalam konsep Marxis mengenai eksploitasi dan teori-teori distribusi yang didasarkan pada pertarungan antara kelas-kelas yang mewakili berbagai faktor produksi. Asumsi adanya persaingan sempurna tampaknya juga tidak memadai lagi dalam menganalisis perekonomian-perekonomian yang sektor publiknya cukup besar. Sisi-kedua dari pendekatan ortodok yang dianggap tidak memuaskan oleh banyak teorisi adalah digunakannya “asumsi tersedianya informasi sempurna bagi masing-masing individu maupun perusahaan. Bahkan dikatakan juga bahwa ketidakpastian dengan sendirinya merupakan kakuatan potensial yang menghasilkan ketidaksetaraan pendapatan, di mana yang kaya bukan hanya lebih sanggup untuk menanggung resiko melainkan juga lebih unggul dalam memperoleh informasi yang bisa dimanfaatkannya dalam bursa saham dan pasar tenaga kerja. Lebih jauh lagi, perusahaan-perusahaan bisa saja membuat hambatan bagi pendatang baru demi menghadapi ketidakpastian demikian. Kini telah berkembang minat yang cukup besar untuk membahas implikasi teori-teori output, tenaga kerja dan struktur upah terhadap masalah distribusi pendapatan, yang secara lugas memasukkan asumsi ketidaksempurnaan informasi. Masalah ketiga muncul dari masalah yang kedua tadi: keinginan yang begitu dominan dalam teori distribusi pendapatan neo-klasik ortodoks untuk menggambarkan proses pencapaian ekuilibrium kliring pasar dianggap oleh sejumlah penulis tidak memadai lagi untuk sebuah teori distribusi pendapatan fungsional. Sebagai tanggapan, ekonom-ekonom yang amat dipengaruhi oleh pendekatan makroekonomi J. M. Keynes kemudian mengembangkan teori-teori distribusi pendapatan fungsional alternatif dengan menggunakan komponen-komponen sistem Keynesian, misalnya Kaldor (1956) dan Pasinetti (1961). Pokok- pokok teori alternatif itu adalah penyederhanaan proses pembuatan keputusan menabung dari pemilik modal dan pekerja serta teknik yang ketat dalam mengkombinasikan tenaga kerja dan modal untuk menghasilkan output.

PENGERTIAN TEORI DISTRIBUSI PENDAPATAN | ok-review | 4.5