PENGERTIAN TATA RUANG GEOGRAFI

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Antropologi

Jika para ahli geologi fisik memusatkan diri pada apa yang disebut sebagai lingkungan ‘alamiah’, maka perhatian utama bagi para ahli geografi manusia adalah penempatan dan penggunaan lahan oleh manusia. Penggunaan lahan telah sekian dekade menjadi salah satu topik perhatian, dalam berbagai skala (yakni perbedaan skala penggunaan lahan antara daerah perkotaan dan pedesaan). Kebanyakan karya ilmiah di bidang ini sifatnya deskriptif, yakni menyusun secara kronologis apa yang terjadi di suatu tempat; tanpa banyak usaha untuk menjelaskan hubungannya dengan faktor-faktor lain, selain dari dengan lingkungan fisiknya. Pada pengujung 1950-an, pengaruh dari kepeloporan studi geografi di Skandinavia dan studi-studi yang berorientasi pada keruangan yang dilakukan ahli ekonomi dan sosiologi telah mendorong munculnya perspektif lain dalam geografi manusia, yang berfokus pada cara pengorganisasian ruang dalam aktivitas manusia di permukaan bumi ini. Tujuannya adalah menata-ulang sisi ilmiah pada disiplin ilmu ini, yang maksudnya adalah mempelajari hukum-hukum yang mengatur tingkah laku keruangan secara individual maupun pola-pola keruangan dalam penyebaran artefak-artefaknya. Jarak adalah rintangan bagi tingkah laku manusia, karena dibutuhkan uang dan waktu untuk memindah-mindahkan barang, orang maupun gagasan dari satu tempat ke lain tempat. Demi mengurangi ongkos tersebut, pola-pola interkasi pun diatur sedemikian rupa untuk meminimalkan jarak, mengorganisasikan pemakaian ruang (misalnya pola kediaman di suatu wilayah) yang menjamin solusi paling mudah. Dengan demikian, geografi manusia tampil sebagai ilmu mengenai jarak’, di mana jarak adalah konsep kunci yang membedakannya dengan ilmu sosial lain; konsep-konsep ruang ditampilkan sebagai landasan teoretis dari disiplin ilmu ini (Jonhston 1991). Berbagai upaya telah dilakukan pada 1960- an dan 1970-an untuk mengkodifikasikan pendekatan ini ke dalam disiplin geografi manusia dan menjadikannya sebagai bagian dari pokok- pokok bahasannya, dan untuk meletakkan konsep-konsep dasarnya. Upaya yang paling sukses dan banyak dikutip adalah karya dari Haggett, yang membagi pokok bahasan disiplin ilmu ini menjadi: pola-pola titik (seperti bangunan-bangunan peternakan di daerah pertanian); pola-pola garis (khususnya jaringan transportasi); pola-pola pergerakan (seperti aliran di antara berbagai jaringan itu, baik orang, barang maupun informasi); variasi bentuk permukaan dalam suatu fenomena yang berkesinambungan (misalnya peta kepadatan penduduk dan peta harga tanah di suatu daerah perkotaan); dan penyebaran dalam tata ruang (seperti penyebaran penyakit dalam suatu jaringan, pelintasan permukaan wilayah, dan/atau menurut hirarki tertentu). Bisa juga ditambahkan mengenai teritori, pembagian dari suatu ruang menjadi pecahan-pecahan terpisah baik berupa negara, ghetto, atau pembagian ruang untuk perseorangan di suatu kantor. Ada juga yang berusaha mencari konsep-konsep dasar dalam disiplin keruangan ini: bagi Nystuen (1963) dasar- dasar itu adalah konsep tentang arah, jarak, hubungan satu sama lain, dan mungkin juga mengenai batas-batasnya. Sasarannya adalah mempelajari hukum-hukum keruangan, yang memiliki metodologi ilmiah tertentu yang didasarkan pada evaluasi kuantitatif atas hipotesis-hipotesisnya. Jadi, baik para ahli geografi fisik maupun geografi manusia menggeser analisis berdasarkan pola kartografi menjadi pola berdasarkan statistik dan (dalam cakupan lebih sempit) mengembangkan model matematiknya. Disiplin ini berkembang dengan sifat kuantitatif yang amat kuat sejak 1970-an, dengan harapan untuk meraih penghargaan ilmiah lewat metode dan generalitas temuan-temuannya (Harvey 1969). Geografi bani ini pada 1960-andan 1970-an. dan mulai diperkenalkan di saat terjadinya perkembangan dramatis studi geografi di berbagai universitas, khususnya di negara-negara berbahasa Inggris. “Para pendobrak kuantitatif dan teoretis ini dengan demikian dapat menyebarluaskan pandangan mereka mengenai disiplin ini dengan bertambahnya jumlah posisi staf yang tersedia dan riset-riset kemahasiswaan yang memungkinkan mereka ‘mengambil-alih disiplin ini dan mempengaruhinya secara substansial, sekaligus mengembangkan pandangan khusus mereka mengenai apa dan bagaimana itu geografi. Perkembangan cepat sebuah disiplin ilmu, yang memiliki banyak praktisi yang bertekad bulat menjunjung etos riset dari universitas modern, membuat gagasan-gagasan baru ini diterapkan dalam banyak pokok bahasan. Sebelum 1960-an, geografi manusia memiliki beberapa sub-bidang yang penting (seperti geografi sejarah), namun sampai titik tertentu pembagiannya dilakukan berdasarkan wilayah dan bukan pokok bahasan (artinya ilmu ini dibagi berdasarkan minat para praktisi’ di belahan dunia tertentu dalam ilmu geografi). Ini berubah dengan cepat, dan pembagian sektoral segera menjadi praktek yang lazim dalam disiplin ilmu ini. Sub-sub disiplin itu saling berpotongan dengan berbagai cara. Ada empat subdisiplin yang paling banyak berpotongan mencerminkan hubungannya dengan ilmu sosial lain: geografi ekonomi yang berpotongan dengan ilmu ekonomi; geografi sosial yang berpotongan dengan sosiologi; geografi politik yang banyak bersinggungan dengan ilmu politik, dan geografi kultural yang berpotongan dengan antropologi. Para praktisi dari dua subdivisi pertama paling banyak jumlahnya pada 1960-an dan 1970-an, sedangkan sub-bidang lain lebih lambat pertumbuhannya, dan belakangan, jalinan dengan antropologi lebih kuat terjadi di AS ketimbang di lain negara. Ada juga pembagian dari sub-sub divisi itu, khususnya pembagian spesialisasi dalam geografi ekonomi seperti geografi industri, geografi pertanian, geografi transportasi, geografi ekonomi retail/eceran, dan geografi industri-industri jasa. Pembagian sub-divisi yang kedua adalah berkenaan dengan pemisahan geografi perkotaan dengan geografi pedesaan (di mana geografi pedesaan juga berbeda dengan geografi agrikultural). Geografi perkotaan lebih dipusatkan pada karya kualitatif dan teoretik yang lama, dan sangat diminati pada 1960-an dan 1970-an. la memiliki sub-sub divisi sendiri: misalnya, ahli-ahli geografi sosial perkotaan mempelajari segregasi pemukiman di kota-kota, terpisah dari mereka yang mempelajari aspek-aspek ekonomi dari daerah-daerah urban itu (seperti sekelompok ahli yang terpengaruh oleh gagasan yang disebut teori daerah pusat’, yakni organisasi ruang dari pusat-pusat perbelanjaan dan tingkah laku keruangan para individu yang mengunjunginya). Menjelang pertengahan 1970-an, para ahli geografi manusia yang berminat mempelajari organisasi ruang dibagi menjadi sejumlah sub-sub kelompok yang relatif berdiri sendiri, masing-masing memiliki ikatan kuat dengan disiplin ilmu lain. Pengelompokan mereka dalam geografi ditentukan oleh prosedur-prosedur yang mereka gunakan ketimbang subyek yang mereka pelajari, serta dari penitikberatan mereka pada konsep ruang. (Ada juga sub-sub disiplin yang lebih kecil, seperti geografi medis). Perkembangan ini terus berlanjut, dan kekuatan dari sub-sub divisi ini ditandai dengan penyebaran jurnal- jurnal akademis yang berkonsentrasi pada bagian-bagian khusus geografi itu (Johnston 1994). Selama 1970-an, ketidaknyamanan atas pemecahan disiplin ilmu ini kian meningkat dan sejumlah ahli geografi, sebagian besar karena persuasi pendekatan Marxis, berpendapat bahwa masyarakat atau pun kewilayahan seyogyanya dipelajari secara keseluruhan dan utuh. Pembedaan wilayah merupakan akibat dari proses perkembangan yang tidak seimbang yang melibatkan faktor-faktor sosial, politik, dan kultural sebagaimana juga faktor ekonomi. Arti penting karya teoretis Harvey (1982) dan lain-lain terletak pada terpromosikannya studi organisasi ruang sebagai akibat maupun sebagai pagar- pagar pembatas bagi proses pembangunan kapitalis dan keterbelakangan. Hal ini kemudian merangsang berkembangnya suatu orientasi studi keruangan yang amat berlainan, dan kebanyakan perdebatan terpusat mengenai apakah pola-pola ruang merupakan akibat dari proses-proses sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain, ataukah justru jarak yang menjadi salah satu penentu tingkah laku manusia, sebagaimana yang diyakini oleh
mereka yang memakai pendekatan ‘geografi sebagai disiplin ilmu mengenai jarak’. Karya dalam pendekatan Marxis dan realis lebih dimaksudkan untuk menegaskan proses-proses umum ketidakseimbangan pembangunan daripada untuk melakukan analisis statistik terhadap pola-pola pembangunan dan tingkah laku keruangan di dalamnya. Hal ini selanjutnya juga menimbulkan konflik metodologi dan epistemologi. Meningkatnya minat terhadap apa yang secara berbeda-beda diistilahkan sebagai pendekatan ekonomi politik, pendekatan struktural, dan pendekatan realis terhadap ketidakseimbangan pembangunan, dalam berbagai bentuk dan berbagai skala ruang, terjadi sepanjang periode pembahan yang amat cepat pada masyarakat-masyarakat yang diteliti. Khususnya sepanjang 1980-an, terjadi restrukturasi ekonomi yang amat substansial, sehingga peta ketidakseimbangan pembangunan hams ditinjau kembali; juga terdapat pergeseran-pergeseran budaya dari ‘masyarakat-masyarakat bisnis’ dan meningkatnya serangan teoretis terhadap bentuk-bentuk kemakmuran; dan nasionalisme tumbuh sebagai jawaban atas berbagai bentuk hegemoni politik di berbagai belahan dunia. Perubahan latar yang berlangsung amat cepat ini menarik perhatian banyak ahli geografi.
Tempat. Sebagaimana telah disebutkan di atas, geografi muncul sebagai disiplin akademis yang mempelajari mengenai tempat-tempat; di dalamnya terdapat kegiatan mengumpulkan, membanding-bandingkan serta menampilkan informasi mengenai berbagai bagian dunia. Setelah berkembang cukup jauh, para praktisi memandang perlu untuk lebih mempercanggih metodologi kerja ketimbang sekedar mengumpulkan informasi, memetakan dan membuai katalog: mereka menginginkan kerangka intelektual yang memungkinkan mereka untuk meningkatkan pengetahuan, di samping menyusun informasi. Berbagai usaha dilakukan untuk menyusun semacam kerangka ilmiah yang baku. Sokongan yang cukup kuat terhadap upaya-upaya determinisme lingkungan ini muncul pada dekade awal abad duapuluh, di mana argumen dasarnya adalah bahwa karakter fisik permukaan bumi menentukan bagaimana manusia menempati dan melakukan kegiatan di sana. Argumen ini ditentang habis pada 1930-an, dan digantikan oieh geografi regional, di mana landasannya adalah sifat-sifat khusus masing-masing kawasan (yang didefinisikan sebagai wilayah permukaan bumi. yang dibatasi oleh kriteria-kriteria tertentu). Dengan demikian, tiap ahli geografi menjadi ahli geografi regional untuk wilayah-wilayah tertentu biasanya dalam skala benua atau sub-benua dan kegiatan publikasi yang utama dari mereka adalah menguraikan wilayah-wilayah itu secara rinci, acapkali dalam teks-teks yang agak bersifat kawasan. Geografi regional secara metodologis lemah, misalnya, dalam mendefinisikan kriteria, cara- cara menentukan batas-batas regional, dan protokol-protokol deksriptifnya. Sebagian besar dikarenakan pengaruh paradigma determinisme lingkungan, hampir semua ahli geografi kawas-an berangkat dari deskripsi-deskripsi lingkungan fisik kewilayahan, sebagai konteks atau malah sebagai determinan terhadap pola-pola kediaman manusia di sana. Bagi sementara orang, geografi kawasan adalah seni dalam bentuk lanjut, yang tujuannya mendeskripsikan secara akurat sifat-sifat wilayah itu. Pendekatan ini semakin ditentang pada 1960- an oleh para ahli geografi yang terikat pada paradigma ilmu keruangan, yakni ‘geografi sebagai disiplin tentang jarak’. Pendekatan ini dituduh sebagai sekedar metode pengumpul dan penyusun fakta dengan kerangka-kerangka yang kurang jelas sehingga tidak ilmiah dan tidak berharga sebagai sebuah disiplin ilmu. Pendekatan ini makin goyah dengan terus bertambahnya jumlah ahli geografi yang berpaling ke lain pendekatan, dan hal ini terus berlangsung kendati sejumlah ahli menyatakan diri sebagai ahli geografi kawasan dan melihat tugas disiplin ilmu mereka sebagai pengurai dan penganalisis mosaik dunia yang kompleks ini kepada khalayak ramai. (Khalayak ini adalah mahasiswa-mahasiswa yang diajar oleh para lulusan universitas dari berbagai fakultas. Kini tidak banyak lulusan geografi yang menjadi guru, dan sedikit saja silabus sekolah yang menekankan pengajaran geografi kawasan). Oleh sebab itu, studi mengenai tempat telah banyak berkurang dari geografi, Namun pada tahun 1970-an, minat terhadapnya bangkit kembali kendati dalam bentuk lain. Minat baru itu pada awalnya dibangkitkan kembali oleh mereka yang telah bebas dari paradigma-paradigma ilmu keruangan kebanyakan dari mereka adalah ahli geografi sejarah dan kultural dan mereka berusaha mempelajari hukum-hukum pola tingkah laku. Menurut mereka, hukum hukum tersebut mengatasi kehendak individu dan dengan demikian dapat mengalahkan individualitas, kebudayaan dan pengambilan-keputusan manusia. Kecaman-kecaman yang tak jauh berbeda dialamatkan terhadap beberapa karya Marxis awal tentang pembangunan yang tidak seimbang, yang mengisyaratkan bahwa proses kapitalisme merupakan determinan struktural yang amat membatasi kebebasan individu untuk bertindak. Tak ada pendekatan baik ilmu keruangan maupun strukturalisme Marxis yang berkaitan dengan persepsi ahli geografi tentang dunia empiris yang mengandung banyak sekali variasi budaya, sosial, dan politik yang tentu saja tidak dapat dipukul-rata begitu saja menjadi determinan ekonomi, seberapa pun pentingnya masalah materi sebagai pendorong tingkah laku manusia. Pandangan alternatif, yang kemudian dikaitkan dengan munculnya nuansa kultural dalam ilmu-ilmu sosial lain pada 1980-an, memiliki hubungan dengan sejumlah perkembangan intelektual mutakhir. Meningkatnya feminisme, misalkan, tidak saja menunjukkan betapa peran wanita telah ditindas hampir di semua masyarakat dan berlanjutnya dominasi lelaki dalam memberi bentuk terhadap disiplin akademis seperti geografi (Rose 1992), namun juga menunjukkan bahwa berbagai kelompok dalam masyarakat sesung-guhnya memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai hal ini: tak ada satu pun pandangan yang dominan, kendati bisa saja salah satu pandangan itu memberi pengaruh akademik atau warna diskursus lainnya. Demikian juga reaksi-reaksi terhadap imperialisme  baik yang bersifat kultural, ekonomi maupun politik menunjukkan betapa peta dunia dan konstruksi pemahaman mengenai berbagai bagiannya telah dibentuk oleh tujuan-tujuan ideologis dari kelompok-kelompok hegemonis. Pertumbuhan gerakan ekologi dan lingkungan mengangkat penafsiran-penafsiran yang berbeda mengenai hubungan antara manusia dan lingkungannya, serta memperluas konsepsi alternatif mengenai bagaimana seharusnya masyarakat diorganisir. Dengan demikian dalam dunia akademis geografi, yang dijadikan fokus adalah perbedaan bukan kesamaan. Tempat merupakan pusat bagi geografi lantaran perannya sebagai faktor pembatas dalam perkembangan manusia, dan mengingat pentingnya tempat sebagai pembentuk konstruksi dunia. Manusia mengenal siapa dan apa dirinya berdasarkan tempat, dan mereka mengembangkan identitas (‘rasa tempat’) dalam konteks tempat-tempat itu juga. Tempat-tempat merupakan lingkungan pergaulan, diciptakan oleh manusia dalam konteks persepsi mereka mengenai alam di sana, serta cara-cara manusia membangun pemukiman baru dan mensosiali- sasi konstruksi dominan di tempat itu dan apa yang akan menjadi bagian dari itu. Sebagai unsur penting dari tempat, identitas memiliki sifat menentang terhadap apa yang bukan menjadi bagiannya: salah satu bagian dari definisi mengenai apa sifat-sifat suatu tempat adalah perbedaan- perbedaannya dengan lain tempat terutama yang berdekatan, dan dengan cara demikianlah orang mencitrakan tempat lain serta penghuni-penghuninya. Kebanyakan karya di bidang ini bukan merupakan antitesis dari proses ketidakseimbangan pembangunan, kendati ia berseberangan dengan ilmu keruangan. la memperkaya pendekatan ekonomi politik dengan menekankan pentingnya orang dan posisinya dalam masyarakat sebagai faktor yang berpengaruh besar terhadap tingkah laku mereka baik itu yang berkonteks lokal sekali atau pada tingkat politik dunia. Pemahaman mengenai pengorganisasian ruang di tingkat dunia dan sebagian besar bagiannya membutuhkan pemahaman penuh terhadap orang yang terus-menerus merekonstruksi dunia itu, dalam konteks pandangan kemungkinan-tempat mereka baik terhadap tempat mereka atau tempat- tempat lain. Berbagai pendekatan dan metode. Sejak Perang Dunia Kedua, geografi telah dicirikan oleh tiga pendekatan pokok dan, paling tidak dalam geografi manusia, perdebatan mengenai kelebihan dan kekurangannya. Selain itu, terjadi pula perdebatan dan pertentangan dalam masing-masing pendekatan mengenai kelebihan dan kekurangan relatif dari masing-masing metode. Sejak geografi fisik dan geografi manusia bergerak dari sifat deskriptif menuju analitis pada 1950-an dan 1960-an, pendekatan positivisme yang menekankan pengujian hipotesis untuk merumuskan hukum-hukum dan derivasi teori kian menonjol. Pendekatan ini berkaitan erat dengan kuantifikasi, dan keyakinan pada keteraturan statistik merupakan bukti adanya hubungan sebab-akibat empiris seperti diisyaratkan oleh teorinya. Pengukuran dan manipulasi data menggantikan posisi penjelasan verbal dan kartografis sebagai prosedur dalam ilmu geografi.
Sebagai disiplin yang berupaya mengangkat dan mengadaptasi prosedur-prosedur yang dikembangkan ilmu lain, pergeseran ke epistemologi positivisme ini dilakukan melalui usaha analitis yang sifatnya coba-coba dan sekian banyak analisis empirik asal-asalan. Akan tetapi, menjelang akhir 1960-an, ada ahli-ahli geografi yang menyadari bahwa prosedur-prosedur statistik yang dikembangkan oleh disiplin ilmu lain tidak bisa begitu saja diangkat oleh geografi karena sifat- sifat khusus dari rangkaian data keruangan ternyata tidak memungkinkan: korelasi keruangan yang sifatnya otomatis diakui sebagai rintangan untuk menggambarkan hubungan kausal dalam data-data keruangan, sehingga harus dikembangkan metode-metode statistik ruang tersendiri. (Akan tetapi banyak ahli geografi yang mengabaikan masalah penting ini sehingga mereka tidak memperhatikan atau menganggap hal itu bukan suatu masalah). Mereka pun terlibat dalam upaya mengembangkan prosedur-prosedur statistik terapan untuk menganalisis pola-pola keruangan dan tingkah laku keruangan. Tetapi ada yang meragukan diperolehnya cukup banyak indikasi keteraturan yang amat kuat dari hukum kausalitas; banyak penemuan yang memikat telah dilaporkan, namun kompleksitas konteks fisik dan manusia yang dipelajari itu menyulitkan pemisahan antara hal yang berlaku umum dengan hal-hal khusus yang bersifat lokal. Banyak harapan yang muncul ketika disiplin ini baru memulai ‘revolusi kuantitatif dan teoretis’ menjadi kandas, terbentur kesukaran-kesukaran dalam menguji hipotesis-hipotetis secara bermakna. Mereka menyusun banyak deskripsi yang canggih mengenai dunia, kendati mereka sendiri tidak banyak mengetahui bagaimana deskripsi itu bekerja. Pendekatan yang didasarkan pada pengukuran dalam disiplin ini membutuhkan banyak eksperimentasi dan inovasi dalam cara-cara pengumpulan data lapangan, baik proses-proses dalam lingkungan fisik maupun mengenai cara-cara individu membentuk tingkah laku ruang mereka. Hal ini dibantu oleh revolusi teknologi pengumpulan, penyimpanan, penyajian dan analisis data, di mana para ahli geografi banyak memainkan peran sebagai pelopornya. Yang pertama- tama adalah di bidang remote sensing (penginderaan jarak jauh), yang sering diasosiasikan dengan kegiatan mencitrakan bumi dari angkasa. Kuantitas data yang berkembang cepat, yang diperoleh lewat satelit dan alat penginderaan jarak jauh lainnya, memungkinkan para ahli geografi berada di lini depan dalam pengembangan cara-cara penafsiran data yang tersedia dengan memakai komputer bermemori raksasa guna menggambarkan variasi rinci dari permukaan bumi dari waktu ke waktu. Penginderaan jarak jauh dengan demikian tidak hanya menyediakan materi baru untuk menganalisis bumi, melainkan juga meninggalkan banyak teka-teki teknis mengenai bagaimana mentransformasi dan menafsirkan materi itu demi mencapai tujuan-tujuan riset. Hampir semua data geografis mengacu pada dua (kalau tidak tiga) konteks dimensional. Secara tradisional, hal itu telah ditampilkan dalam bentuk peta, namun perkembangan sejak 1970-an dalam sistem-sistem informasi geografis (geographical information systems atau G1S) telah meningkatkan kemampuan menyimpan, memvisualisasi dan menganalisis data-data keruangan lewat sistem-sistem komputer. Penyajian data serta hasil analisisnya, melalui kemampuan melapis kumpulan-kumpulan data satu sama lain (misalnya hasil pengamatan hujan digabungkan dengan peta-peta topografi), secara substansial telah memperkokoh kemampuan untuk menyusun hipotesis yang bisa diuji secara empiris serta kemampuan menjalankan uji-coba itu sendiri. Reaksi terhadap argumen yang memperlakukan ruang sebagai determinan perilaku manusia telah mendorong minat ahli-ahli geografi manusia, yang belakangan lebih dikenal sebagai geografi humanistik, yang menekankan individualitas dan perbedaan ketimbang konformitas dan kesamarataan . Serentet epistemologi dibedah termasuk fenomenologi, idealisme, eksistensialisme, dan pragmatisme (Jackson dan Smith 1984) namun dampak utama dari upaya ini adalah perlawanannya terhadap paradigma alternatif yang disodorkan pada awal 1970-an. Penekanan pendekatan humanistik ini adalah pada penafsiran  baik penafsiran dunia oleh mereka yang ada di dalamnya maupun penafsiran atas tindak-tanduk dan hasil perbuatan mereka (misalnya lanskap) oleh pihak luar, dalam hal ini ahli-ahli geografi. Karena itu, usaha ini sifatnya hermeneutik. Ahli-ahli geografi menggali penafsiran-penafsiran atas tindak-tanduk orang lain, acapkali dengan kerangka historis, melalui studi tekstual, baik yang tertulis maupun visual (misalnya peta, karya seni, dan lanskap), dan kemudian menyalurkan penafsiran-penafsiran itu kepada para pembacanya. Selain menghasilkan esai-esai yang terprogram untuk mendukung alasan humanistik dan menyerang pendekatan positivisme, upaya ini menghasilkan esai-esai yang beraneka ragam topiknya. Kunci dari sebagian besar karya hermeneustik itu adalah bahasa, karena hampir semua penafsiran ditransmisikan lewat kata-kata. yang sifat nya tidak sempurna karena adanya peluang perbedaan penafsiran (Barnes dan Duncan 1992). Pentingnya bahasa dan perbedaan pada proyek pasca modernisme yang belakangan merupakan hal penting bagi pendekatan ini, amat bertolak- belakang dengan usaha pencarian teori-teori dasar dan penjelasan total. Tempat merupakan konsepsi sentral untuk hal ini. antara lain karena proses belajar bahasa dan nuansa-nuansanya seialu terikat pada tempat. Metode-metode geografi humanistik bertumpu pada interpretasi, dan hal ini memunculkan berbagai masalah berkenaan dengan sumber dan paparan informasi. Sebagian sumbernya adalah naskah-naskah tekstual yang selalu ditafsirkan dalam konteks penyusunannya (tata bahasa dan ideologi yang tersirat selalu diperhatikan). Sumber lainnya adalah materi-materi yang dikumpulkan langsung dari individu yang menjadi obyek penelitian, sehingga pendekatannya bersifat etnografis, dan menonjolkan segi-segi etis. Determinisme tersirat dalam pendekatan positivis dan kebebasan-kehendak yang ditekankan lawannya, yakni aliran humanistik, yang secara bersamaan menjadi fokus bagi pendekatan ketiga dalam disiplin geografi, yang juga bermula pada awal 1970-an. Sebagaimana diutarakan di atas, kebanyakan karya tersebut diilhami oleh Marxisme dan menampilkan imperatif-imperatif ekonomi dalam proses kapitalisme sebagai penyokong peta ketidakseimbangan pembangunan yang selalu berubah. Namun ada juga karya-karya awal yang bersifat deterministik dan memotret sekumpulan proses sosio-spasial yang tidak mampu dibendung secara individual maupun kolektif. Dalam beberapa tahun saja, pemikiran struktural ini dikawinkan dengan argumen-argumen perbedaan dan individualitas yang bersifat humanistik (Kobayashi dan Mackenzie 1989). Ini menghasilkan kerangka yang amat canggih dan kaya untuk mengapresiasi bagaimana ruang, tempat dan alam dikonstruksi dan direkonstruksi oleh individu-individu yang berpengetahuan, yang bertindak dalam batas-batas apresiasi mereka sendiri dan dipagari oleh imperatif-imperatif mode produksi kapitalis. Perspektif-perspektif pasca modernisme juga dimasukkan untuk menekankan perbedaan dan individualitas (Soja 1989). Sama seperti pendekatan humanistik, pendekatan strukturalis atau realis mendasarkan diri terutama pada penafsiran teks. Hal ini tidak berseberangan dengan penggunaan data kuantitatif, karena sedikit sekali ia terlibat dalam analisis yang canggih terhadap materi semacam itu. Lebih penting lagi, tujuannya bukan hanya untuk mempelajari sebab-sebab yang khusus melainkan juga proses-proses umum yang menopang hal itu, dan tidak dapat ditelusuri secara empirik. Dalam beberapa segi, pendekatan ini mirip dengan pendekatan-pendekatan sistem lingkungan yang berskala besar, di mana terkandung kompleksitas yang menyebabkan faktor-faktor lokal tersamarkan oleh hukum-hukum fisik dasar dan interaksinya.

PENGERTIAN TATA RUANG GEOGRAFI | ok-review | 4.5