PENGERTIAN TAHTA SUCI

By On Friday, October 18th, 2013 Categories : Antropologi

Dalam rangka mengagungkan tahta, sang raja acapkali dibebaskan dari urusan kekuasaan atau pemerintahan sehari-hari yang sering memunculkan konflik itu. Frazer (1890) merupakan orang pertama yang menafsirkan bahwa kekuatan politik dalam masyarakat primitif sangat erat hubungannya dengan fungsi-fungsi ritual dengan pengendalian yang dimiliki oleh pemimpin politik terhadap kekuatan alam seperti curah hujan pemimpin suci harus dibunuh ketika kekuatan. karena dikhawatirkan penurunanan gaibnya itu akan mengakibatkan berkurang nya kekuatan kosmis yang secara hubungan dengan sang pemimpin. Evans-Pritchard menyangkal karakter dari peristiwa pembunuhan seeorang raja. dan menganggapnya tidak lebih dan sekedar pencerminan konflik politis antara faksi-faksi yang saling bersaing memperebutkan kekuasaan x-anun penelitian di Afrika telah memaukkan bahwa pembunuhan seorang ra;a ternyata merupakan suatu simbol dari kompleks tahta. Pranata mistis ini, yang dimaksudkan untuk mengabadikan kesuburan dan kemakmuran ditandai oleh ciri-ciri tetap, lebih berkembang pada masyarakat atau sineas: yang berbeda. Raja yang berkuasa karena titah suci itu akan dinilai melakukan pelanggaran besar, ia melakukan perkawinan antar-suku atau sedarah (seperti yang terjadi pada suku Kuba Lunda, Rwanda atau Swazi) yang terpaan: harus ditebus dengan suatu bentuk kaitoansme, yaitu memakan anggota masyarakatnya (sebagai contoh, suku Rukuba). Pemimpin dinilai punya kekuasaan suci. dan ia harus mempertahankannya berdasarkan kriteria ritual tertentu. Jika sang raja mengkhianati kesuciannya sendiri maka dibunuh (misalnya suku Kuba). Segala hal dilakukan untuk menjaga kesucian sang raja. termasuk mengucilkan dirinya dan nya sendiri. Inilah yang dipraktekkan suku Swazi. Selama musim panas setiap tahun si kepala suku menyucikan diri dengan duduk di atas lembu jantan dan mengenakan berbagai simbol kebesaran. Suku Mundang di Chad, Afrika, yang memandang rajanya sebagai hujan, membatasi periode kekuasaan selama tak lebih dari sepuluh tahun demi menyucikan tahta.
Suku-suku di Afrika tidak memandang rajanya sebagai jagoan tak terkalahkan, melainkan sebagai sosok titisan dewa yang memiliki kekuasaan magis (de Heusch, 1972). Pelaksana kekuasaan diserahkan kepada para pembantu terdekatnya, sehingga sang raja selalu bebas dari kesalahan. Struktur simbolik ini pada intinya dimaksudkan untuk memelihara kesucian raja yang dipandang sebagai kunci kelanggengan suku secara keseluruhan. Mungkin banyak yang mengira bahwa struktur ini hanya ada pada masyarakat primitif, namun sesungguhnya pola pemisahan kekuasaan nyata dan raja itu dipraktekkan hingga sekarang. Kepala negara selalu dijunjung tinggi bagaikan memiliki kekuatan magis tertentu, apalagi jika ia menjadi bagian dari sistem kekuasaan yang memiliki kekuatan memaksa, dan pola seperti ini sama berpengaruhnya dengan institusi kekerabatan dalam organisasi sosial.

PENGERTIAN TAHTA SUCI | ok-review | 4.5