PENGERTIAN SURPLUS KONSUMEN

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Ekonomi

Salah satu konsep yang relatif mudah disepakati adalah surplus konsumen. Sedikit sekali elemen dalam ilmu ekonomi yang tidak ditafsirkan dan dianalisis secara beragam. Gagasan-gagasan yang sederhana pun acapkali diteropong dari berbagai sudut sehingga memunculkan berbagai penafsiran.  Gagasan dasar atas perubahan surplus konsumen ini dimaksudkan untuk mengukur kerugian atau keuntungan yang diterima konsumen dari perubahan konsumsi atau dari perubahan harga. Formulasinya dikembangkan oleh Dupuit di tahun 1844 yang kemudian disempurnakan oleh Marshall di tahun 1880. Elemen analisis yang digunakan adalah kurva permintaan yang melacak dampak-dampak perubahan harga barang, dengan mengasumsikan anggaran atau daya beli yang konstan, guna mengukur perubahan utilitas dalam satuan moneter. Pada tahun 1892 Pareto telah mengemukakan kritiknya terhadap asumsi Marshall yakni anggaran atau daya beli marginal yang konstan tadi. Sebenarnya ada dua kondisi yang membuat formulasi Marshall itu bisa diterima, yakni jika proporsi barang yang dikonsumsi tidak terpengaruh oleh anggaran, atau jika barang yang dibeli sangat dibutuhkan sehingga tingkat permintaannya tidak dipengaruhi oleh perubahan-perubahan anggaran. Hicks di tahun 1939 menyadari bahwa langkah yang harus dilakukan untuk menyempurnakan konsep yang sudah ada adalah dengan mengubah bentuk bidang di bawah kurva permintaan. Namun seperti yang ditunjukkan oleh Samuelson di tahun 1947, surplus konsumen sesungguhnya merupakan konsep yang kabur, dan tidak perlu dipersoalkan lebih jauh karena sudah ada indeks angka ekonomi yang mapan.
Teori modern angka-angka indeks tersebut didasarkan pada fungsi pembelanjaan atau fungsi biaya yang dapat menunjukkan biaya minimum untuk mencapai kurva indiferen tertentu berdasarkan harga-harga konstan. Nilai moneter dari suatu perubahan utilitas dapat ditunjukkan oleh perubahan biaya pada tingkat harga yang berlaku. Kalau perubahan utilitas itu disebabkan oleh perubahan harga, “variasi pengimbang” Hick dapat dipandang sebagai upaya pemanfaatan harga- harga baru sebagai referensi dan konsep “variasi ekuivalen”-nya sebagai catatan referensinya terhadap harga-harga lama. Secara umum para ekonom merasa bahwa perhitungan dan rumusan konsep yang tepat berkenaan dengan surplus konsumen lebih sulit dilakukan atau memerlukan lebih banyak informasi ketimbang perhitungan surplus konsumen ala Marshall. Namun pengira-ngiraan bisa dilakukan, dan telah tersedia hitungan logaritma untuk mengalkulasikannya pada setiap tingkat atau derajat akurasi. Yang terakhir, perlu dikemukakan bahwa perubahan utilitas secara agregat dari konsumen menimbulkan persoalan baru: Apakah satu dolar bagi orang miskin memiliki nilai sosial yang sama dengan satu dolar bagi orang kaya? Konsepsi surplus konsumen belum dapat menjawab pertanyaan tersebut, meskipun hal itu sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dari analisis biaya-keuntungan.

PENGERTIAN SURPLUS KONSUMEN | ok-review | 4.5