PENGERTIAN SUKU BANGSA ILIMANO

By On Saturday, March 29th, 2014 Categories : Antropologi

PENGERTIAN SUKU BANGSA ILIMANO. Berdiam di wilayah Kecamatan Laklo, Kabupaten Manatuto, Propinsi Ti­mor Timur. Di sebelah utara wilayah ini berbatasan dengan Selat Wetar, di sebelah barat dengan Kecamat­an Ailiu dan Kabupaten Dili, di sebelah timur dan se­latan dengan Kecamatan Manatuto. Kecamatan seluas 305 kilometer persegi ini merupakan daerah perbukit­an dengan batu-batu terjal, yang sebagian mengan­dung lapisan batu kapur yang licin. Keadaan lingkung­an ini menyebabkan mereka membuat rumah yang sa­ling berjauhan karena mencari tanah datar yang ti­dak berbatu. Rumah yang satu dan yang lain dihu­bungkan dengan jalan setapak. Rumah mereka ber­bentuk limasan dengan atap daun lontar, daun aren, atau rumput nari, bertiang kayu dengan dinding be­lahan bambu atau anyaman daun aren. Rumah me­reka mempunyai dua pintu, masing-masing di bagian depan dan belakang, dan tanpa jendela.
Pada tahun 1980 jumlah orang Ilimano 697 jiwa, terdiri atas 143 kepala keluarga. Jumlah anak dalam satu keluarga inti tidak besar walaupun angka kela­hiran cukup tinggi. Dari 299 anak yang lahir, ternyata yang hidup hanya 184 anak (63 persen). Jumlah ang­gota satu keluarga inti rata-rata lima orang.
Sesuai dengan legenda masyarakat setempat, ilima­no berarti “daerah burung” (/// artinya daerah, dan mano artinya burung). Orang Ilimano menyatakan diri mereka keturunan Raja Gunung (Aran Huhun) yang menguasai daerah pegunungan di antara Gunung Curi dan Gunung Maneo. Konon di masa lampau mereka tinggal dalam gua-gua (sinako) dan ada pula yang membuat rumah di atas pohon (lakbon). Pada waktu itu mereka hidup dengan berburu bersenjata panah (ramah) dan tombak (dima). Pakaian mereka terbuat dari kulit kayu (ha).
Pada periode berikutnya mereka telah membuat ru­mah dari bambu dengan atap daun enau atau rumput- rumputan. Mereka hidup dengan mengumpulkan ubi- ubian, berladang jagung, memelihara hewan seperti kambing (bibi timu), biri-biri (bibi malai), babi (me- tanlua), kerbau (karau), kuda (kuda), dan anjing (asau). Mereka juga mengenal berbagai jenis ikan, udang, burung, dengan latar belakang dongeng ter­tentu, yakni sebagai pemberian adawai (bintang tu­juh) yang berdiam di langit.
Pada masa kini, ladang mereka menghasilkan ja­gung, ubi kayu, ubi rambat, tomat, cabai merah, ka­cang tanah, kacang panjang, kunyit, dan jahe. Hasil ladang ini hanya cukup untuk kebutuhan sendiri, mes­kipun ada yang ditukarkan dengan roti atau minuman keras. Mereka juga menghasilkan barang kerajinan dari bambu dan pandan berupa macam-macam wa­dah, yang sebagian dijual untuk mengisi kebutuhan lain. Pakaian kulit kayu sebagian besar sudah diganti­kan dengan cita atau kaus, batik, sarung, dsb.
Kelompok kekerabatan terdiri atas keluarga inti monogami di bawah pimpinan ayah, yang disebut kaen Mereka juga mengenal keluarga luas utrolokal.
Kelompok kerabat yang lebih besar, kaen waki, ga­bungan beberapa keluarga inti dari orang-orang yang bersaudara kandung, tinggal dalam rumah-rumah yang berdekatan. Kelompok kerabat lainnya adalah maluk, yaitu kelompok berbentuk kindred, yang mengikat seseorang untuk melakukan upacara ter­tentu, seperti upacara perkawinan, kematian, dsb. Kelompok kerabat yang terbesar adalah knus, yaitu gabungan kelompok maluk yang masih terhitung ke rabat berdasarkan garis bilateral dari satu nenek mo­yang. Kelompok ini bisa disamakan dengan keluarga ambilineal besar.
Dalam kehidupan di lingkungan kerabat, orang Ili- mano berpedoman kepada sistem nilai yang diturun­kan oleh leluhur mereka. Hubungan itu dititikberat­kan pada kerukunan, perdamaian, kejujuran, dan ke­benaran dalam tingkah laku. Untuk mencapai semua itu, seseorang harus menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang, seperti sifat sombong, iri hati, dan meng­inginkan milik orang lain.
Sistem religi orang Ilimano merupakan penghor­matan dan pemujaan roh-roh {lulik) untuk kepenting­an kesejahteraan hidup masyarakat. Roh yang utama, yakni maromak, pemimpin orang-orang yang telah meninggal, dianggap sebagai sumber cahaya bagi kehidupan manusia. Hubungan timbal balik antara orang Ilimano dan roh-roh tersebut disalurkan mela­lui pemimpin upacara keagamaan (oburi). Upacara penting dalam masyarakat ini adalah upacara peng­gantian rumah suci (uma ulik), bila rumah lama su­dah rusak. Upacara lainnya adalah upacara panen ja­gung (hetakarai), upacara meminta hujan (raturu urane), upacara meminta berhentinya hujan (lala- tahaba).
Dalam setiap upacara dikorbankan seekor kam­bing. Hati kambing itu diperiksa, dan apabila baik dan bersih, persembahan itu dianggap diterima oleh lulik. Setelah makan bersama, obun bersama peserta upa­cara berkunjung ke tempat-tempat lulik untuk mele­takkan sesaji dan menyampaikan doa. Selanjutnya diadakan pesta kesenian {ralibari) selama tiga sampai tujuh hari berturut-turut.

PENGERTIAN SUKU BANGSA ILIMANO | ok-review | 4.5