PENGERTIAN STUDI BISNIS

By On Monday, October 7th, 2013 Categories : Ekonomi

Istilah studi bisnis adalah sebutan longgar untuk menyebut berbagai kajian mengenai aspek-aspek perusahaan dan lingkungannya, khususnya aspek administrasi dan manajemen, akuntansi, keuangan dan perbankan, hubungan internasional. pemasaran, serta hubungan personalia dan hubungan industri. Cakupan akademik dari studi ini sendiri masih menjadi bahan perdebatan yang menyulitkan penyusunan kurikulum serta penetapan sasaran pengajaran dan riset secara konsisten. Gagasan modern mengenai studi bisnis dapat dilacak di Amerika Serikat pada periode antara 1881 hingga 1910 ketika Wharton School of Finance and Commerce dan 20 sekolah administrasi bisnis pertama di dunia dibentuk. Momentum perkembangan yang lebih kuat muncul pada dua dasawarsa berikutnya ketika 180 sekolah ainnya dibentuk dengan skala dan sistem pendidikan bisnis khas Amerika yang mementingkan abstraksi dan pendekatan kuantitatif untuk mencari pemecahan masalah (Rose, 1970). Pendidikan manajemen sesungguhnya berkembang jauh lebih dahulu di Eropa ketimbang di Amerika. Hanya saja perkembangan kelembagaannya memang lambat. Di Inggris misalnya, lembaga pendidikan administrasi yang berpengaruh baru terbentuk di tahun 1947 di kota Henley. Dewasa ini terdapat sejumlah lembaga pendidikan manajemen dan bisnis terkemuka di Eropa, demikian pula di Jepang, yang sangat aktif mengembangkan berbagai program pendidikan yang tidak sama dengan yang berkembang di kawasan Amerika Utara. Perkembangan ini ditopang pula oleh kuatnya kepentingan untuk mendapatkan tenaga-tenaga manajemen dan bisnis yang handal di Dunia Ketiga, serta berkembangnya teknik-teknik analitis yang cikal-bakalnya berasal dari Amerika. Sebab-sebab pasti ekspansi pendidikan bisnis masih dapat diperdebatkan meskipun proses-proses rasionalisasi dalam masyarakat moderen dan pesatnya pertumbuhan jumlah personel manajerial merupakan dua faktor yang tidak boleh dikesampingkan. Faktor lainnya yang turut mendukung adalah meningkatnya kompetisi dan investasi internasional, kemajuan teknologi, dan meningkatnya kompleksitas badan usaha modern serta peran pemerintah dalam perekonomian nasional. Kemungkinan studi bisnis untuk melebur ke dalam ilmu sosial juga masih diperdebatkan.Salah satu hal yang diperdebatkan adalah koherensi internal dalam pendidikan bisnis yang sulit dilakukan akibat bervariasinya bidang kajian yang dipilih oleh para dosen dan peneliti sehingga kurang memungkinkan dilakukannya sintesis antar-disiplin yang memadai. Pada pokoknya, keterkaitan teoretis antara bidang-bidang utama studi bisnis dikaji dalam kebijakan bisnis yang kemudian juga berkembang menjadi bidang spesialisasi tersendiri yang khusus membahas konsep strategi. Secara substansional. tinjauan mengenai perilaku organisasional merupakan cabang studi bisnis yang paling menonjol. Sub-bidang tersebut mencoba memadukan berbagai pendekatan dalam disiplin ini. Namun ketergantungan yang berlebihan pada teori kontingensi (yang mengisyaratkan efektivitas bentuk organisasional sangat ditentukan oleh konteks lingkungannya) terbukti menjadi penghalang karena pendekatan itu sendiri dihujani oleh berbagai tantangan yang membuatnya tidak diterima sebagai model untuk mengkonseptualisasikan perilaku bisnis.
Masalah kritis berikutnya dalam studi bisnis adalah sulitnya dirumuskan praktek administratif umum yang bisa diterapkan di berbagai penjuru dunia terlepas dari keragaman kondisi-kondisi kultural, sosio-ekonomi, dan politik di setiap negara. Perspektif awalnya cenderung mengasumsikan pendekatan yang pukul rata, misalnya tesis “masyarakat industri” yang menganggap “logika industrialisme” dapat ditemukan di semua perekonomian modern, sehingga pendekatan ini terlalu berani dalam menyusun struktur organisasional dan model-model administratif yang dianggapnya paling efektif. Betapa pun pendekatan ini telah menyumbangkan sesuatu yang penting bagi penyusunan teori organisasional klasik yang menyatakan bahwa ciri-ciri universal manajemen bisnis itu memang ada. Pendekatan itu juga menopang studi birokrasi yang kemudian sampai pada kesimpulan serupa. Ada asumsi kunci dalam pendekatan ini yang menyatakan bahwa kepemilikan dan pengendalian unit bisnis haruslah dipisahkan guna menunjang berlangsungnya proses pembuatan keputusan terbaik, dan hal ini diyakini dapat diterapkan bila sistem ekonominya terlepas dari ideologi yang dianutnya.┬áBaru-baru ini muncul tesis “kulturalis” yang mencoba mengimbangi pendekatan-pendekatan universalis di atas. Tesis ini mengasumsikan keragaman perilaku dan ideologi bisnis yang dibarengi oleh variasi lingkungan “tugas” (masyarakat, pemerintah, konsumen, pemilik perusahaan, pemasok, distributor, pemegang saham), atau secara lebih spesifik, variasi lingkungan “sosial” (yang mencakup pula segi-segi budaya, hukum, politik dan sosial). Unsur yang terpenting dari tesis ini adalah penekanannya bahwa setiap generasi baru selalu menginternalisasikan pengaruh budaya tertentu melalui proses sosialisasi, dan setiap masyarakat di setiap negara harus mempelajari bahasa, dan konsep-konsep sistem nilainya sendiri. Argumen lainnya yang berpengaruh adalah kekuatan-kekuatan kultural yang mengakar yang senantiasa mempengaruhi interaksi antara seseorang dengan orang-orang lain yang pada gilirannya akan mempengaruhi pula struktur organisasional yang tentunya menjadi bersifat khas. Sejak usainya Perang Dunia Kedua, studi bisnis banyak dipengaruhi oleh gagasan “manajemen sumber daya manusia”. Yang paling relevan dengan kebijakan-kebijakan pemasaran Berbagai persoalan etis munculah dalam perumusan strategi dan teknik-teknik promosi berbagai ienis barang dan jasa. Sementara itu, “tanggung jawab sosial internal” yang tertuju pada kesejahteraan dan kepuasaan pemilik dan pegawai perusahaan yang harus dibina oleh kegiatan-kegiatan humas, tidak boleh disisihkan. Riset dan perkuliahan mengenai manajemen personalia dan hubungan industri juga berkembang pesat pada periode tersebut. Struktur atau konfigurasi dalam studi bisnis sampai sekarang masih memperlihatkan adanya ketegangan antara pendekatan profesional dan pendekatan manajerial. Persoalan lain yang belum terselesaikan adalah apakah studi bisnis harus berkonsentrasi pada perkembangan ilmu sosial empiris ataukah harus mengutamakan segi profesionalnya.

PENGERTIAN STUDI BISNIS | ok-review | 4.5