PENGERTIAN STANDAR EMAS

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Ekonomi

Standar emas merupakan suatu sistem pengaturan moneter di mana emas berfungsi sebagai alat sentral moneter (misalnya, sebagai numeraire atau satuan hitung). Emas menjadi simpanan utama dan patokan nilai sekaligus sebagai alat tukar yang utama. Dalam pengertian ini, standar emas adalah pengorganisasian sistem moneter berdasarkan logam mulia. Emas (namun dalam sejarahnya pernah dipakai juga logam-logam lain) menjadi dasar untuk mengelola pasokan uang. Kendati standar emas tidak lagi dipakai sebagai dasar pengelolaan mata uang nasional setelah Perang Dunia Kedua, namun dalam sejarah ia pernah dipakai di tingkat nasional (dipakai secara luas sekali sebagai pengorganisasi mata uang nasional sejak 1850-an hingga Perang Dunia Pertama) dan tingkat internasional (1880-1914 dan 1947- 1971). Organisasi moneter nasional dan internasional dewasa ini dibiayai dengan standar fiat (artinya ditentukan dengan dekrit atau peraturan pemerintah) di mana nilai dan penerimaan mata uang tidak didasarkan pada nilai intrinsik sejumlah komoditas seperti logam mulia, namun berasal dari dekrit pemerintah yang menjadikan lembaran kertas menjadi begitu berharga. Kendati tidak ada keseragaman dalam mem-perlakukan emas sebagai standar, secara tradisional pengorganisasian mata uang logam mulia itu telah dipakai di tingkat nasional dengan sekian aturan dan praktek pokok. Pertama, nilai mata uang dinyatakan dalam kuantitas emas tertentu. Misalnya, pada 1879 satu dolar AS didefinisikan sebagai 23,33 grain emas murni. Karena satu ons emas murni sama dengan 480 grain, maka satu ons emas mumi sama dengan 20,67 dolar. Semua kelipatan atau nilai pecahan mata uang akan didefinisikan berdasarkan nilai sentral ini (dalam hal ini dolar), kendati semua jenis uang tetap memiliki korespondesi tersendiri dengan kuantitas emas. Secara tradisional, nilai par domestik ini dipertahankan agar tidak berubah dari waktu ke waktu. Kedua, masyarakat berhak atas inter-konvertibilitas antara uang emas dan uang nonemas (khususnya uang kertas) dengan nilai tukar yang ditentukan menurut hukum. Dalam pengertian ini, uang kertas berkaitan langsung dengan emas itu sendiri. Maka, emas dan uang kertas diterima secara luas sebagai alat pembayaran dan alat tukar tanpa batas jumlah (misalnya untuk memenuhi perjanjian tender). Ini dikenal sebagai praktek konvertibilitas domestik. Ketiga, koin yang dibuat dari logam selain emas hanya diedarkan dalam bentuk mata uang pecahan (koin-koin bernilai kecil). Lazimnya koin-koin ini memiliki nilai nominal yang lebih tinggi daripada nilai intrinsiknya (nilai logam mulianya). Keempat, otoritas moneter selalu siap untuk menjadikan koin semua emas yang dibawa kepada mereka (dengan sedikit pungutan yang disebut seigniorage) dan selalu siap menukar uang kertas dengan emas sesuai nilai tukar yang telah ditentukan. Kelima, masyarakat dapat menyimpan emas dalam bentuk apa saja (batangan atau koin) dan bebas mengekspor maupun mengimpor emas sesuka hati mereka. Keenam, cadangan internasional pada dasarnya disimpan dalam bentuk emas. Maka emas menjadi cadangan pokok dan lokomotif pertukaran atau perdagangan antar- negara yang sama-sama menerapkan standar emas. Terakhir, otoritas moneter melembagakan suatu aturan yang mengaitkan pencetakan uang (artinya penambahan pasokan uang) dengan cadangan emas. Dalam pengertian ini, standar emas (atau standar logam lain yang dipakai untuk maksud itu) merupakan ‘aturan’ klasik dalam mengelola pasokan uang. Di tingkat internasional, mata uang berbagai negara yang menerapkan standar emas bisa saling dipertukarkan dengan nilai tukar yang tetap, yang diturunkan dari nilai patokan atau par domestik masing-masing. Emas menjalankan fungsi sebagai alat tukar internasional karena ia merupakan dasar transaksi-transaksi internasional. Dalam sejarahnya, rejim internasional semacam itu pernah ada yang muncul secara spontan (seperti dalam periode 1880-1914) dan ada yang ditentukan oleh negara-negara yang kuat secara ekonomi (sebagaimana yang dilakukan AS ketika menciptakan rezim Bretton Woods 1944-71).
Para pendukung aturan-aturan itu secara tradisional mendukung standar emas sebagai cara untuk mencegah ketidakstabilan dan efek inflasioner dari rejim moneter fiat yang bersifat diskret, di mana penambahan pasokan uang tidak terikat pada aturan-aturan dan menjadi subyek dari keinginan elit moneter dan politik. Dukungan terhadap standar emas lebih diperkuat lagi dengan kecenderungan pada nilai tukar tetap ketimbang nilai tukar fleksibel. Kritik terkadap aturan-aturan itu adalah bahwasanya standar emas terlalu kaku untuk mengikuti pengelolaan siklus bisnis (otoritas moneter tidak bisa bermewah-mewah dengan menginflasikan situasi depresi demi mempercepat pulihnya ekonomi domestik), dan bahwa pasokan uang menjadi amat tergantung pada banyaknya hasil penambangan emas. Standar emas mengalami kemerosotan ketika nilai tukar fleksibel menggantikan nilai tukar tetap.

PENGERTIAN STANDAR EMAS | ok-review | 4.5