PENGERTIAN SKEMA

By On Saturday, November 23rd, 2013 Categories : Antropologi

Pengorganisasian pemahaman yang jauh lebih rumit lagi adalah skema. Ini ditujukan kepada serangkaian pemahaman yang teratur dan berstruktur, termasuk pengetahuan mengenai objek, hubungan antara berbagai pemahaman tentangnya, dan beberapa contoh tertentu. Sebagai contoh, kita dapat membuat skema seorang “calon mahasiswa,” tamatan SMA yang mengenakan kemeja kulit buaya serta celana khaki yang membeli pakaian di Pasaraya Sarinah, yang menyukai warna merah jambu serta hijau untuk kemejanya, dan senang berlayar, bermain tenis serta melakukan jogging. Skema calon mahasiswa ini mungkin belum mencakup bidang bermain boling, memakai topi pet, mengendarai Honda Civic, Isi skema dapat mencakup hampir segalanya—yakni teori tentang macam orang, konsep tentang pribadi, sikap, streotip tentang kelompok, persepsi jenis kejadian berdasarkan ritus. Persamaan yang terdapat dalam semua skema bukanlah isinya, melainkan karakteristik strukturalnya dan pengaruhnya terhadap pemrosesanya Skema membantu kita memroses bentuk informasi yang rumit dengan menyederhanakan dan menyusunnya. Skema dapat-membantu kita mengingat dan menyusun detil, mempercepat waktu pemrosesan, mengisi kesenjangan dalam pengetahuan kita, dan membantu kita untuk menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi baru. Seperti akan kita lihat, struktur pemahaman yang sudah ada sebelumnya, menyusun pemrosesan informasi baru. Persepsi kita tentang informasi baru dipengaruhi prasangka guna membuatnya konsisten dengan apa yang sudah kita ketahui. Jika kita menganggap seseorang berjiwa “hangat” misalnya, kita lebih suka berbicara dengannya dan menginterpretasikan perilakunya sebagai pancaran kehangatan dirinya. Semuanya ini memang bersifat abstrak, tetapi beberapa contoh akan membantu kita dalam menggamb arkannya.
Jenis-jenis Skema:
Skema dapat dibuat untuk berbagai hal. Ada skema pribadi orang yang merupakan struktur mengenai orang. Skema itu dapat difokuskan kepada orang-orang tertentu. Misalnya, Anda dapat memiliki skema tentang Abraham Lincoln. Di situ dapat tercakup unsur-unsur seperti ketelitian, kejujuran, keseriusannya dalam melaksanakan tugas, dan keprihatinannya atas nasib orang-orang yang tertekan. Ini akan menjadi skema jika dalam pandangan Anda kualitas tadi saling berhubungan dalam diri Presiden Lincoln, dalam arti bahwa Anda memandangnya sebagai aspek kepribadiannya yang pada dasarnya terhormat dan penuh tanggungjawab, dan bukan unsur-unsur yang tidak mempunyai hubungan yang kebetulan diperlihatkannya dari waktu ke waktu. Versi lain dari skema ialah skema yang Anda buat tentang diri anda sendiri, atau sebuah skema pribadi sendiri. Skema pribadi sendiri menggamSarkan Berbagai dimensi yang Anda pikirkan tentang diri Anda. Contohnya, Markus (1977) menyelidiki sampai tingkat mana manusia membuat skema mengenai diri mereka sendiri sebagai merdeka atau terikat, dengan menentukan apakah mereka akan menerapkan sifat-sifat seperti “individualistis,” “tidak konvensional,” “tegas,” “kooperatif,” “pemalu,” dan “moderat” atau tidak.
Anda mungkin sangat mengkhawatirkan masalah mempertahankan dan mempertunjukkan kebebasan pribadi Anda dengan menolak menerima uang dari orang tua Anda, mengerjakan cucian sendiri, tidak meminta bantuan teman sekamar Anda dalam mengerjakan soal matematika, dan seterusnya. Atau mungkin Anda lebih berminat atas hubungan bebas dan sangat memikirkan jaminan keselamatan diri sendiri dengan menceburkan diri Anda ke tengah orang banyak kepada siapa Anda dapat bergantung, seperti kakak, pacar, dokter, pendeta, dan sebagainya. Mungkin Anda dapat melakukannya dengan beberapa konflik dan keraguan. Dalam salah satu kasus tersebut, Anda akan mempunyai skema pribadi sendiri yang kuat berkenaan dengan kebebasan atau “dimensi kebebasan. Sebaliknya, Anda tidak boleh hanya memikirkan terlalu banyak mengenai diri sendiri dalam rangka dimensi tersebut, yang dengannya Anda tidak berpikir secara skematis lagi. Anda akan digambarkan sebagai askematis dalam rangka dimensi kebebasan-keterikatan. Skema pribadi orang juga dapat khusus difokuskan pada jenis, manusia. Misalnya, skema kita tentang’seorang “terbuka” dapat mencakup unsur-unsur semacam “bersemangat,” “mudah bergaul, “antusias,” dan “percaya diri-sendiri”. Kadang-kadang, jenis skema semacam ini disebut sebagai teori kepribadian implisit karena ia nampak sebagai sebuah teori mengenai ciri- ciri apa yang sesuai dengan ciri lainnya, dan ciri mana yang tidak sesuai. Jika kita mendengar seseorang mengatakan bahwa Susj “bersemangat,” orang itu berkesimpulan bahwa dia adalah yang mudah bergaul dan percaya diri-sendiri meskipun tidak terdapat informasi lain mengenai dirinya. Jadi, teori kepribadian implisit merupakan jaringan hubungan yang diperkirakan ada antara berbagai ciri. Skema lain difokuskan kepada kelompok. Yang paling terkenal ialah stfeotip kelompok, yang memberikan ciri khusus kepada kelompok orang tertentu. Telaah awal yang dilakukan Katz dan Braly (1933) menemukan bahwa mahasiswa kulit putih memilih “penganut takhayul,” “malas,” dan “santai” sebagai ciri paling umum orang-orang kulit hitam, dan “pecandu ilmu pengetahuan,” “rajin,” dan “tidak mudah terharu” merupakan ciri umum orang Jerman. Stereotip semacam itu menjadi skematis jika masing-masing ciri yang diamati merupakan bagian dari suatu struktur dasar yang melekat pada kelompok tersebut.
Anda dapat mengharapkan bahwa seorang mahasiswa yang tinggal di asrama khusus ang-gota Beta akan bersikap sebagai seorang Beta, atau seorang pemain sepakbola berkulit hitam untuk bersikap sebagai pemain sepakbola lainnya, atau orang yang berasal dari Boston atau Texas atau Iran akan mirip satu sama lain. Semua ini menyangkut adanya skema tertentu bagi kepribadian tersebut dan perilaku para anggota kelompok. Ada juga skema peran. Skema tersebut mewakili gambaran abstrak yang sudah tersusun tentang orang-orang dengan peran tertentu, seperti koboi, profesor, resepsionis, atau kekasih yang setia. Adakalanya skema-skema tersebut tidak realistis. Jika skema kita tentang “Kekasih yang setia” mencakup unsur-unsur semacam selalu penuh pengertian, selalu memberi dorongan, tidak pernah marah, tidak pernah kekanak-kanakan, dan selalu mementingkan kebahagiaan orang lain, maka kita akan merasa kesulitan. Tidak terlalu banyak orang yang dapat menyesuaikan diri dengan skema tersebut. Masalah serupa kadang-kadang muncul antara mahasiswa perguruan tinggi dengan fakultas, jika masing-masing mempunyai skema tidak realistis atas peranan yang lain. Skema seorang anggota fakultas tentang peranan mahasiswa dapat mencakup minat serta perhatian tetap tertuju kepada kuliah, sementara skema mahasiswa tersebut atas seorang profesor mencakup kesabaran serta pertimbangan yang tidak habis-habisnya. Tetapi adakalanya mahasiswa jatuh sakit atau terganggu oleh masalah ‘lain dalam hidupnya, dan tidak mampu memberikan perhatian kepada kuliahnya. Para anggota fakultas mungkin tadi bertengkar dengan suami atau isterinya dan oleh karenanya telah berperilaku marah kepada para mahasiswa yang tidak bersalah.
Orang juga mempunyai skema bagi kejadian, atau rangkaian standar kejadian . Kadang-kadang skema semacam itu disebut naskah (Abelson, 1976). Naskah di sini maksudnya urutan standar perilaku setelah j angk a waktu tertentu. Sebuah naskah dapat diberi judul “pesanan kelompok di restoran Cina.” Setiap orang duduk, dan pelayan membawakan menu. Beberapa orang berbicara sekaligus, menyebutkan makanan kesayangan mereka, sementara lainnya mengatakan tidak pernah tahu apa yang mereka maui dan minta agar orang lain saja yang memutuskan. Kemudian, mereka meneliti menu satu per satu, meributkan sup mana yang akan dipesan, menawarkan masakan bistik kesayangan mereka (yang tidak disukai siapa pun) untuk ditukar dengan permen dan babi asam (yang dilakukan oleh seseorang pada akhirnya), dan akhirnya menunjuk salah seorang yang paling yakin akan dirinya untuk mengkomunikasikan seluruh paket yang telah disetujui kepada sang pelayan. Kita dapat memberikan naskah serupa untuk rangkaian kejadian lain yang sudah diupacarakan, seperti mempunyai bayi, pergi mandi, turut ujian akhir, atau memainkan pertandingan basket. Naskah berintikan pada keterikatannya kepada waktu, arus sebab-akibatnya (kejadian awal mengakibatkan kejadian berikutnya), kesederhanaan, keterpaduan dan unit perseptualnya.

PENGERTIAN SKEMA | ok-review | 4.5