PENGERTIAN SIKLUS BISNIS

By On Monday, October 7th, 2013 Categories : Ekonomi

Siklus bisnis adalah pola rentetan peristiwa ekonomi yang terjadi berulang-ulang pada periode tertentu yang sifatnya lebih dinamis daripada pertumbuhan normal atau rata-rata. Karena itu terjadinya siklus bisnis ini sering disebut sebagai fase ekspansioner. Siklus ini biasanya terhenti setelah mencapai puncak, diikuti oleh fase penurunan pertumbuhan ekonomi rata-rata atau resesi. yang adakalanya disusul oleh periode pertumbuhan negatif atau depresi yang merupakan titik terendah dalam siklus bisnis. Dalam kepus-takaan pasca perang, siklus bisnis biasanya diasumsikan berlangsung selama 40 hingga 60 bulan, dan siklus ini dibedakan dari siklus-siklus berjangka lebih panjang yang telah dibahas secara luas dalam literatur ekonomi seperti siklus perdagangan berjangka enam hingga delapan tahun yang dirumuskan oleh Major, siklus Kuznets yang berjangka 15 hingga 25 tahun, serta gelombang ekonomi Kondratieff yang berjangka 40 hingga 60 tahun. Siklus bisnis dipandang sebagai suatu kecenderungan pertumbuhan jangka panjang sejak usainya Perang Dunia Kedua, dan keunikan inilah yang kemudian memunculkan pemikiran tersendiri yang kemudian lazim disebut sebagai “teori siklus bisnis”. Teori ini mencoba menjelaskan fluktuasi-fluktuasi diseputar kecenderungan jangka panjang itu, yang gagasannya diambil ran Khazanah teori pertumbuhan yang mencoba, hubungan-hubungan logis yang terkandung dalam pertumbuhan ekonomi itu sendiri Pada dekade 1970-an minat untuk gelombang ekonomi jangka panjang kembali dan muncullah pandangan alternatif yang mengatakan bahwa siklus bisnis sesungguh adalah fluktuasi-fluktuasi jangka pendek atas kegiatan ekonomi yang ada dalam gelombang atau siklus ekonomi yang berjangka lebih panjang. Karena itu, dalam konteks ini siklus bisnis seringkali dianalisis sebagai suatu siklus pertumbuhan ekonomi agregat yang terdiri dari fase ekspansioner dan fase kontraksioner (atau resesi) selama berlangsungnya gelombang-gelombang jangka panjang yang dapat pula dibagi berdasarkan periode pertumbuhan positif (ekspansioner) kemudian disusul oleh periode pertumbuhan nol atau bahkan negatif pada fase konstraksioner (depresi). Terdapat perdebatan mengenai apakah siklus bisnis itu merupakan fluktuasi-fluktuasi ekonomi yang sistematis ataukah hal itu hanya sekedar fluktuasi acak dalam keseluruhan kegiatan ekonomi. Jelas bahwa siklus bisnis itu tidak teratur karena jangkauan dan periodenya selalu berubah-ubah. Namun ada bukti-bukti yang menunjukkan (yang terkumpul dari serangkaian studi yang dilakukan oleh Biro Riset Ekonomi Nasional Amerika Serikat) bahwa pola siklus bisnis itu cukup seragam, sehingga kecenderungannya perlu dan layak untuk dikaji melalui suatu studi yang serius. Penyusunan model siklus bisnis pada periode pasca perang biasanya menggunakan pendekat-an yang dirumuskan oleh Frisch (1966 [1933]) dan Slutsky (1937 [1927]) yang memandang sifat sistem ekonomi pada dasarnya bersifat stabil namun acapkali terguncang oleh kejutan atau peristiwa yang tak terduga. Para ekonom pada umumnya mencoba merumuskan suatu “model propagasi” (propagation model) ekonomi untuk mengkonversikan berbagai kejutan (dari model impuls) menjadi suatu siklus. Dengan memakai strategi ini maka selanjutnya berhasil disusun berbagai model mulai dari yang mengasumsikan stabilitas seperti halnya dalam “model propagasi”, model serangkaian kejutan yang bersumber dari “model impuls”, sampai dengan model memen-tingkan kajian atas sumber kejutan dan sektor-sektor ekonomi yang tersentuh oleh model pro-pagasi. Hampir semua model tersebut menggunakan sistem persamaan stokastik tingkat kedua. Asumsi linear digunakan untuk menyederhanakan analisis dan memungkinkan dipisahkannya siklus bisnis dari teori pertumbuhan karena pertumbuhan dapat dinyatakan sebagai suatu kecenderungan linier atau siklus bisnis yang berupa garis lurus. Ada beberapa perkecualian dari strategi penyusunan model umum ini yang memakai sistem persamaan non-linear guna memunculkan generalisasi batasan siklus (jika tidak terjadi kejutan). Dalam model itu perekonomian diperlihatkan dapat bertahan stabil dan adakalanya terus mampu bertahan ketika kejutan terjadi. Sejak akhir tahun 1970-an, teori gangguan dan teori gejolak telah digunakan untuk mengembangkan model-model siklus di mana diskontinuitas linear memainkan peranan kunci. Sementara itu teori kekacauan (chaos theory), yang menjelaskan kekacauan latar belakang ketidakteraturan siklus bisnis dengan menggunakan prinsip non-linear, juga berkembang dan memperoleh perhatian yang cukup luas. Model-model ini relatif langka namun belakangan ini mulai berkembang biak ketika para ekonom kian akrab dengan teknik-teknik matematika non-linear dan analisis statis-tik. Kemungkinan penyusunan model siklus bisnis sebagai siklus terbatas yang merupakan alternatif dari pendekatan Frisch-Slutsky, memunculkan pertanyaan mengenai apakah siklus bisnis itu sesuatu yang akan hilang seandainya tidak terjadi kejutan atau hal itu bersifat endogen atau inheren dalam sistem ekonomi yang bersangkutan.
Model-model non linear juga diterapkan untuk memahami siklus bisnis yang tetap dipisahkan dari teori pertumbuhan. Di samping itu masih ada pandangan alternatif yang mencoba menjelaskan siklus bisnis dalam pertumbuhan secara bersamaan, yang mengisyaratkan adanya suatu teori pembangunan ekonomi dinamis. Pandangan ini sering dikaitkan dengan karya Schumpeter (1989). Pada tahun 1975, muncul makalah-makalah Nordhaus (1975) dan Lucas (1975) yang mem-bahas teori-teori politik dan ekuilibrium siklus bisnis yang selanjutnya memberi pengaruh besar. Teori politik siklus bisnis menyatakan bahwa siklus bisnis itu sesungguhnya adalah naik turunnya kegiatan ekonomi yang dipengaruhi oleh kegiatan pemilihan umum karena pada periode itu para politisi dan pejabat pemerintah senantiasa memanipulasi ekonomi sedemikian rupa untuk menampilksan kesan positif demi memenangkan pemilu. Ini kontras dengan pandangan ala Keynes yang muncul pada pertengahan 1960- an yang menyatakan bahwa pemerintah meskipun cenderung anti siklus, lebih berkepentingan untuk meredam siklus dan bukannya menciptakannya. Teori ekuilibrium siklus bisnis mengasumsikan bahwa agen-agen ekonomi dikaruniai kemampuan untuk menyusun harapan rasional namun mereka harus membuat keputusan atas dasar informasi yang tidak memadai mengenai apakah perubahan-perubahan harga yang ada bersifat inflasioner murni atau tidak (jika murni maka tidak ada tanggapan tertentu yang harus diberikan), ataukah perubahan harga itu mengisyaratkan terciptanya suatu peluang investasi yang menguntungkan (sehingga periu ada respon tertentu). Dalam model-model yang didasarkan pada teori-teori ini, penerapan kebijakan moneter anti-siklus tidak akan berhasil. Dan satu-satunya kontribusi yang dapat diberikan pemerintah guna meredam kejutan itu adalah dengan memperlakukan kebijakan moneter yang sistemik.
 

PENGERTIAN SIKLUS BISNIS | ok-review | 4.5