PENGERTIAN SENI FOTOGRAFI

By On Monday, March 17th, 2014 Categories : Review

Munculnya fotografi mempunyai sejarah tersendiri, namun perkembangan fotografi ti­dak terlepas dari kemajuan teknologi, gaya dan ide bidang seni, serta kegiatan kebudayaan. Walaupun fo­tografi baru dipublikasikan pada tahun 1939, prinsip dasar fotografi sudah ada sejak jaman Aristoteles, yaitu reaksi gelombang cahaya jika diproyeksikan me­lalui celah kecil. Prinsip ini digunakan dalam foto­grafi, yaitu pengoperasian lensa atau celah kamera un­tuk memproyeksi sebuah gambar pada sebuah film kamera.
Pada tahun 1727, Johann Schulze mende­monstrasikan bahwa garam perak akan bereaksi men­jadi hitam jika dikenai cahaya. Baru pada akhir abad ke-18, kamera obscura dan garam perak sebagai ba­han peka cahaya serta amoniak sebagai pengatur ke­seimbangan dapat menghasilkan gambar-gambar fo­tografi semi permanen.
Tahun 1802, Thomas Wedgood (1771-1805) di Ing­gris mempublikasikan penemuan sebuah gambar fo­tografi, tetapi penemuan ini gagal karena tidak da­pat membuat gambar menjadi permanen. Di Peran- cis, Joseph Nicehore Niepce (1765-1833) melakukan percobaan dengan kamera yang dilengkapi lensa dan berbagai percobaan bahan kimia. Tahun 1816 ia ber­hasil membuat gambar negatif dengan menggunakan cahaya pada kertas yang sebelumnya dibuat peka de­ngan perak klorida, tetapi proses membuat permanen dengan cuka nitrat belum sempurna. Tahun 1822 di­lakukan percobaan baru dengan melumerkan larutan aspal dalam minyak lavender di atas bidang pelat yang terbuat dari campuran timah hitam d^n timah putih, dan setelah itu menyinarinya dalam kamera lebih dari delapan jam. Campuran minyak lavender dan minyak itu lambat laun melarutkan bagian aspal yang tak ke­na cahaya, sedang aspal yang kena cahaya tidak la­rut. Pada tahun 1829 Niepce menukar pelat timah dengan pelat sepuhan perak.
Pada tahun 1829 Niepce berkenalan dengan pelu- kis dan perancang teater Paris, Louis Jacques Mande Daguerre (1787-1851). Ia mengembangkan penemuan Niepce dalam apa yang disebut daguerreotype. Mela­lui seseorang dari Akademi Ilmu Pengetahuan Peran- cis, daguerrotype dibeli oleh pemerintah P Pada tanggal 15 Juni 1839 Raja Perancis Louis Fmi- lipe mengukuhkan pembelian penemuan baru itu se­bagai hadiah untuk seluruh dunia. Dengan peristiwa ini Daguerre menerima tunjangan seumur hidup se­banyak 6000 franc setahun, dan anak Joseph Niepce, Isidore Niepce, yang meneruskan perjanjian dengan Daguerre menerima tunjangan sebesar 4000 franc.
Pada waktu yang sama, di Inggris William Henry Fox Talbot (1800-1877) melakukan percobaan yang mengembangkan bahan peka cahaya di atas kertas yang disebut calotype. Percobaannya mulai dilakukan pada tahun 1832 dan pada tahun 1841 berhasil mene­mukan calotype. Calotype menggunakan proses negatif-positif Talbot yang pertama kali menggunakan obat pengembang untuk menimbulkan bayangan la­ten dari hasil pemotretan. Untuk membuat permanen gambar yang ada digunakan natrium thiosulfat atau hipo yang ditemukan oleh John Herschel tahun 1819. Talbot sering disebut bapak fotografi modern.
Di Amerika muncul ilmuwan George Eastman (1854-1932). Pada tahun 1879 ia berhasil membuat alat yang dapat membuat banyak pelat sekaligus. Tahun 1888 ia memasarkan kamera tangan dengan merek Ko dak. Tahun 1891 ia memasarkan gulungan film de­ngan dasar seluloid. Pada tahun 1931 Eastman mem­punyai perusahaan besar Eastman Kodak Company yang bersemboyan: “Anda menekan tombol, kami melakukan selanjutnya.” Perusahaan ini mempubli­kasikan fotografi modern.
Dengan banyak produksi kamera, fotografi ber­kembang menjadi media massa yang luas. Karier bi­dang fotografi makin meluas, karena hampir semua kegiatan masyarakat menggunakan jasa fotografi.
Fotografi di Indonesia bermula sekitar tahun 1930- an. Dengan munculnya perusahaan kamera Kodak, masyarakat Indonesia menyebut sembarang kamera dengan sebutan kodak. Salah kaprah dalam penye­butan ini lambat laun hilang dengan munculnya ber­bagai merek kamera.
Fotografi Indonesia sudah meluas, dalam bidang media massa (surat kabar, majalah, buku, televisi, dan film), dalam bidang perdagangan (iklan dalam ben­tuk brosur, film, leaflet), hiburan (televisi, film, ma­jalah, buku), ilmu pengetahuan dalam metrologi, to­pografi, kedokteran, astronomi (ultrasonografi, roent­gen, laser-fotografi, micro-fotografi), hukum (pas­foto), pendidikan (ilustrasi, slide), dan bidang-bidang lain.
Selain kursus-kursus untuk para penggemar foto­grafi, sekarang fotografi masuk ke dalam bidang pen­didikan Sekolah Menengah Pertama dan Atas seba­gai kegiatan pendidikan nonformal.

PENGERTIAN SENI FOTOGRAFI | ok-review | 4.5