PENGERTIAN SEKTOR INFORMAL

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Ekonomi

Istilah sektor informal mulai muncul di awal 1970-an. Istilah ini biasanya diterapkan pada berbagai macam mata pencarian berskala kecil non-pertanian di negara-negara Dunia Ketiga. Contohnya adalah industri rumah tangga pembuat kursi, kompor dan lampu minyak, atau kegiatan-kegiatan penyediaan jasa seperti pengangkutan air bersih ke rumah-rumah yang jauh dari tandon air. Berbeda dari mereka yang bekerja di pabrik-pabrik, kantor-kantor pemerintah atau perusahaan yang mapan, kegiatan-kegiatan di sektor informal ini sampai 1970-an jarang sekali tercatat dalam statistik resmi sehingga arti penting ekonomisnya pun sulit diukur secara pasti.
Pelaku sektor informal dalam mengadakan jasa atau barang kecil-kecilan biasanya menggunakan alat-alat yang sangat sederhana dan bahan mentah sekedarnya seperti logam bekas pakai atau kayu-kayu sisa. Contoh-contoh produknya antara lain adalah perabot sederhana yang dibuat dari kayu bekas, peti kemas, lampu minyak yang bahan-bahannya dari lempengan logam kaleng-kaleng bekas pakai, atau kompor dari logam yang sudah dibuang. Mereka melakukan itu dalam unit-unit usaha yang kecil dengan tenaga kerja 3 hingga 8 orang yang melakukan kegiatannya di ruang terbuka atau sekedar bernaung di bawah tenda sederhana. Sektor informal ini juga menyediakan jasa-jasa seperti pengumpulan botol-botol bekas, pengadaan sarana transportasi murah jarak dekat, jasa tukang cukur, tukang foto, reparasi kendaraan bermotor atau sepeda. Satu kesamaan penting atas berbagai kegiat-an penting tersebut adalah mereka rata-rata efisien secara ekonomis. Mereka memakai bahan-bahan yang sudah dibuang seperti kotak kayu bekas pakai, logam yang sudah dibuang atau botol-botol kosong. Mereka memanfaatkan keahlian sederhana seperti dalam pengolahan kayu atau logam yang kebanyakan sudah diajarkan di sekolah-sekolah kejuruan yang celakanya sering dibebani harapan berlebihan bahwa begitu selesai sekolah para siswanya dapat bekerja di pabrik-pabrik. Mereka mengekonomiskan modal yang sangat langka dengan memakai berbagai jenis peralatan sederhana yang operasinya tidak memakai bangunan atau fasilitas khusus. Siapa saja bebas masuk ke dalam sektor informal ini sehingga di sana terdapat kompetisi nyaris sempurna yang membuat harga-harga selalu terkendali. Sektor informal ini muncul karena ia mampu menghasilkan berbagai barang dan jasa yang dibutuhkan kebanyakan orang dengan harga murah. Namun itu bukan berarti semua konsumennya miskin meskipun harus diakui bahwa sektor ini sangatlah penting bagi para pekerja rendahan yang pendapatannya terbatas. Mereka itulah yang lazim membeli kompor minyak karena selain tidak mampu membeli kompor listrik, mereka tidak punya cukup pasokan listrik untuk menggunakan kompor listrik seperti itu. Pergerakan atau pertumbuhan sektor infor-mal cenderung bersifat responsif ketimbang kreatif. Sektor ini sekedar memberi reaksi terhadap pertumbuhan pendapatan di sektor pertanian dan dalam kegiatan-kegiatan bisnis di perkotaan, meskipun pada gilirannya sektor tersebut memberi sumbangan yang cukup penting bagi pertumbuhan belanja konsumen. Sektor ini juga menyediakan banyak peluang pendapatan atau mata pencarian khususnya di negara-negara yang industrialisasinya gagal menciptakan lapangan kerja dalam jumlah memadai. Di berbagai kota di banyak negara sektor ini telah terbukti berjasa menyediakan pekerjaan bagi ribuan orang. Karena itu keberadaan sektor ini dapat menjelaskan besarnya selisih antara kondisi riil employment dengan data-data resmi.
Tinjauan tentang sektor informal ini sendiri sudah berlangsung sejak lama dan para tokoh pemikir sosial sudah mengulasnya, termasuk Marx. Marx menyebutnya sebagai ajang perdagangan komoditi kecil-kecilan yang rapuh dan mudah dieksploitasi oleh apa yang disebutnya sistem kapitalis. Upaya-upaya untuk memperbaiki kinerja perusahaan sangat kecil (micro enterprise) di sektor tersebut lebih sering menemui kegagalan, sehingga diperlukan perubahan-perubahan fundamental dalam struktur ekonomi dan politik guna menciptakan perbaikan bagi sektor ini (World Development, 1979). Pemerintah di banyak negara, khususnya di Afrika Timur dan Selatan, memandang sektor informal sebagai antitesis atau lawan modernisasi karena metode produksinya dianggap tidak layak. Kedekatan sektor informal ini dengan kriminalitas juga sering membuatnya dicurigai atau bahkan dimusuhi. Konsekuensinya, di banyak negara sektor ini dibatasi oleh berbagai peraturan dan banyak kegiatannya yang dianggap illegal. Para pedagang asongan, misalnya, meskipun turut berjasa menciptakan banyak lapangan kerja kecil-kecilan, sering ditekan karena dianggap sering melanggar peraturan tentang ketertiban dan kegiatan komersial. Namun sikap ini lambat laun berubah, antara lain berkat pengaruh laporan-laporan International Labour Office, khususnya laporan mengenai Kenya (ILO) yang merupakan dokumen pertama yang menyajikan tinjauan sistematis tentang operasi sistim informal yang kemudian berhasil mendorong pemerintah di banyak negara untuk mengakui arti penting dan kegunaan sektor tersebut. Namun pemikiran aparat resmi di banyak negara Afrika dan juga kawasan-kawasan lain itu lebih banyak dipengaruhi oleh kegagalan industri-industri berskala besar yang semula dimaksudkan untuk dikembangkan sebagai mesin substitusi impor. Kegagalan industri besar itu membangkitkan perhatian baru terhadap perusahaan-perusahaan kecil yang biasa beroperasi di sektor informal yang mampu beroperasi tanpa subsidi atau proteksi apa pun dalam menyaingi produk-produk impor, mencip-takan lapangan kerja, serta untuk bertindak sebagai unit-unit bisnis yang tangguh. Pengakuan atas peran sektor informal itu mendorong pemerintah dan lembaga-lembaga donor internasional untuk menyediakan bantuan, entah itu dalam bentuk program pelatihan, injeksi modal, atau fasilitas produksi, agar perusahaan-perusahaan kecil di sektor informal itu dapat berkembang secara lebih baik.

PENGERTIAN SEKTOR INFORMAL | ok-review | 4.5