PENGERTIAN RISET FEMINIS

By On Tuesday, October 22nd, 2013 Categories : Sosiologi

Gagasan-gagasan yang melingkupi istilah riset feminis telah mengalami perubahan penekanan secara berarti sejak bangkitnya gerakan feminis pada 1960-andan 1970-an. Sekurang-kurangnya ada empat perangkat makna dan praktek riset yang kini menonjol. Gerakan feminis dalam ilmu- ilmu sosial bertolak dari keempat aspek tersebut yang ke semuanya saling berhubungan meskipun tidak semuanya bersifat antitesis.
Penggeseran sudut pandang pria. Sejak bangkitnya gerakan feminis di tahun 1960- andan 1970-an. sosiologi ilmu pengetahuan mulai diwarnai oleh kritik feminis terhadap ilmu-ilmu sosial yang ada. Pada saat itu feminisme akademis memang terpusat pada sosiologi, di mana mereka mempertanyakan tujuan, logika, latar belakang dan sudut pandang ilmu tersebut yang mereka yakini terlalu diwarnai oleh maskulinitas dan mengabaikan perspektif feminis. Hal itulah yang hendak diubah, termasuk terhadap dikotomi-dikotomi pasif isme seperti kajian subjektif/ obyektif, rasional/emosional, kajian ilmiah/awam, dan tentu saja perspektif maskulin/feminin yang dipandang sebagai akar penyelewengan atau bias ilmu pengetahuan di mata para feminis itu. Mereka mencoba menyusun kembali seluruh ilmu pengetahuan berdasarkan pengalaman-pengalaman dan sudut pandang kaum wanita. Metode “keras” dan “lunak”, pengubahan subyektivitas. Kritik kaum feminis juga terfokus pada persoalan metode dan metodologi, khususnya pada ilmu-ilmu pengetahuan kuantitatif yang mereka pandang terlalu diwarnai oleh maskulinisme. Dalam bidang ini, studi atau riset wanita mencoba mengemukakan pendekatan kualitatif alternatif yang memperhitungkan subyektivitas dan nuansa pribadi guna mengimbangi sosok kaku dan resmi (karakter khas kaum pria atau maskulinitas) ilmu pengetahuan. Argumen-argumen yang dilontarkan terfokus pada perimbangan metode keras dan lunak serta hubungannya dengan pembangkitan kembali subyektivitas yang sejak semula diabaikan sehingga hal-hal yang bersifat irrasional dan emosional, yang dianggap penting oleh kaum feminis, disisihkan dalam pengembangan dan pemilihan metode ilmu pengetahuan. Bertolak dari upaya itu, para ilmuwan feminis mencoba untuk menyusun kembali metode-metode pengetahuan secara bertahap demi menyeimbangkan perspektif mereka sendiri.
Wawancara, feminisme dan persahabatan? Argumen-argumen mengenai pembangkitan dan penyesuaian subjektivitas itu juga dipengaruhi oleh gagasan feminisme mengenai perlunya wawancara langsung sebagai suatu metode pelacakan subjektivitas dan juga perlu digunakannya suatu sudut pandang riset yang bersemangatkan persahabatan demi menonjolkan aspek manusiawi ilmu pengetahuan. Namun selama 1980-an cara pandang ini terpecah-pecah menjadi sejumlah gaya dan pendekatan yang semuanya mewarnai agenda riset ilmu pengetahuan sosial kaum feminis.
Epistemologis dan aspek politik lokasi. Sejak 1980-an telah muncul kembali minat untuk mempelajari epistemologi yang antara lain didorong oleh pengaruh falsafah feminis yang mencakup berbagai aspek epistemologis dan aspek lokasi (kedudukan hakiki) kaum feminis itu sendiri. “Siapa Anda” menentukan apa yang nampak dan apa yang tidak tampak serta bagaimana melihat sesuatu terjadi, dan juga apa kesimpulan-kesimpulan interpretasional yang muncul darinya. Jadi, “pengetahuan” dan konstitusinya, termasuk kajian tentang siapa yang dilihat sebagai pemilik ilmu pengetahuan, bagaimana ilmu pengetahuan itu dibedakan dari pendapat biasa, bagaimana pengetahuan yang satu dengan yang lain saling beradu, bagaimana batasan antara mereka yang memiliki ilmu pengetahuan dengan pihak lain, dan siapa yang melihat semua permasalahan itu, menjadi pentas feminisme akademis.
Metode, metodologi dan epistemology. Sampai sejauh ini belum berkembang suatu metode feminis yang berdiri sendiri, dalam pengertian sebagai suatu teknik riset yang bersifat unik dan berbeda dari yang sudah ada. Karena itu, pemilihan antara metode mana yang baik dan yang buruk belum dapat dilakukan secara pasti. Perbedaan antara metode (atau teknik), atau metodologis (atau pernyataan teoretis dan pragmatis secara luas) dan epistemologi (atau teori tentang ilmu pengetahuan dan produksi pengetahuan) perlu dilakukan di sini, karena kaum feminis senantiasa memperdebatkan kedudukan dan berbagai persoalan fundamental epistemologis secara luas, dan kurang terfokus pada aspek metodenya. Itu berarti kaum feminis yang memang melihat metode sebagai suatu produk asumsi-asumsi metodologis dan epistemologis yang lebih luas sehingga mereka tidak menutup kemungkinan adanya metode riset maskulin yang bersifat positif dan manusiawi seperti yang mereka inginkan, dan kaum feminis itu pun bisa juga terlibat dalam survei-survei radikal yang semula dianggap sebagai ciri khas ilmu pengetahuan maskulin.
Perkembangan epistemologi feminis. Dalam perkembangannya, epistemologi feminis terfokus pada perdebatan yang tumpang-tindih antara metode, metodologi dan epistemologi; hubungan antara pikiran dan tubuh; etika feminis; kategori hakiki wanita dan dekontruksionisme feminis; gagasan-gagasan mengenai esensialisme dan perbedaan; serta representasi dan sejarah. Ada tiga perkembangan yang patut dicatat di sini.
Pengetahuan, metode dan praxis. Pada awalnya tulisan-tulisan feminis mengenai metodologi dan epistemologi terarah pada hal- hal yang menjadi bidang perhatian ilmu-ilmu sosial. Dalam perkembangan selanjutnya, seiring dengan kian kuatnya pengaruh dekonstruksionis dan pasca modernis, penekanan itu bergeser pertama-tama ke aspek-aspek humanitas, lalu ke perdebatan mengenai gaya dan bahasa filsafat feminis. Salah satu konsekuensi besarnya adalah soal-soal praktis dan etis yang menghadang para pelaku riset feminis dalam dunia sosial kian mendekati kesejajaran epistemologis dengan ilmu- ilmu sosial yang sudah ada. Bahkan persoalan epistemologi itu mulai dipandang sebagai bagian dari teori sosial feminis dan semakin sering diperlakukan sebagai bagian tersendiri dalam perkembangan akademik feminis oleh sekelompok kecil ilmuwan yang memusatkan perhatiannya pada teori-teori elit. Apa yang bermula sebagai pertanyaan praktis atas praxis feminis kini telah berubah mengenai pertanyaan mengenai teori feminis dalam abstraksinya yang luas. Karena itu banyak ilmuwan sosial feminis merasakan sangat perlunya mengembalikan perdebatan ke konteks semula yakni ke soal-soal praktis dan yang secara langsung menghadang upaya riset sosial feminis.
Epistemologi dan ilmu pengetahuan. Pada awalnya tulisan-tulisan feminis terpusat pada fondasi dan paradigma ilmu sosial yang ada yang mereka anggap terlalu diwarnai oleh maskulinitas; namun kini fokus itu telah berbelok ke upaya pengembangan dan pendekatan feminis yang eksklusif. Pergeseran itu terus berlangsung meskipun masih banyak kaum intelektual feminis yang tetap mencoba mengubah pendekatan dasar dalam ilmu-ilmu sosial dan juga ilmu alam agar lebih sesuai dengan sudut pandang feminis seperti yang dicita-citakan semula. Mereka tetap mencoba menciptakan ilmu-ilmu yang secara politik, etis dan metodologis maupun epistemologis lebih sesuai dengan perspektif feminis.
Kontra-biner. Feminisme akademik sejak semula memberi suara kritis terhadap cara pemikiran biner atau binary (segala sesuatu yang terpisah menjadi dua berdasarkan jenis kelamin), mulai dari kritiknya terhadap dalam ilmu-ilmu sosial ditahun 1960-an dan 1970-an, sampai argumen-argumennya mengenai dekonstruksionisme feminis yang antara lain melahirkan istilah feminisme itu sendiri. Karena itu sungguh suatu hal yang paradoks kalau kita lihat ada sebagian riset dan kajian epistemologi feminis yang telah mengesampingkan aspek biner itu semata-mata untuk memisahkan kedudukan epistemologis mereka yang selanjutnya memunculkan dikotomi baru yakni realisme versus idealisme, dan fondasionalisme versus relativisme. Karena itu pula upaya-upaya untuk menggeser perdebatan dari dikotomi realis dan pandangan bahwa fakta sehari-hari terpisah dari konstruksi sosial dan fondasionalis (pengetahuan selalu terkandung dalam fakta sehari-hari) mengisyaratkan bahwa feminisme adakalanya terpengaruh dari gagasan-gagasan radikal (hanya ada konstruksi sosial dan tidak ada fakta) yang selalu diimbangi oleh pengaruh relativis (tidak ada pengetahuan yang sepenuhnya terkait dengan fakta). Sesungguhnya alternatif dari pola pemikiran biner ini cukup banyak misalnya dalam bentuk pendekatan feminis yang mencoba mencari dan menangani pengetahuan dengan berpijak pada fakta-fakta. Alternatif lainnya adalah “fondasionalisme sekunder” yang memandang bahwa fakta selalu berdampingan dengan konstruksi sosial meskipun kesejajaran antara keduanya selalu mengalami pasang surut.
Asal-mula pengetahuan. Berbagai perdebatan di seputar feminisme akademik bersumber dua pertanyaan yang saling berkait, yakni dapatkah epistemologi terus didasarkan pada ontologi, dan dapatkah epistemologi itu dikembangkan dengan cara-cara lain9 Pertanyaan pertama mengekspresikan pandangan bahwa pengetahuan feminis haruslah bersifat umum dan trans-situasional sehingga tidak perlu terikat pada keunikan orang dan tempat tertentu. Sedangkan pertanyaan kedua mengekspresikan pandangan yang mungkin dianut oleh mayoritas kalangan feminis akademik bahwa tidak ada cara untuk menghasilkan pengetahuan feminis yang sama sekali berbeda dari yang sudah ada karena keinginan seperti itu sesungguhnya lebih bermotifkan politik ketimbang intelektual. Seandainya kedua pertanyaan itu terjawab, maka kita akan mengetahui bahwa seharusnya riset feminis tersebut dipusatkan pada praktek- praktek organisasional dan intelektual yang terkandung pada proses produksi pengetahuan, dengan asumsi-asumsi yang jelas mengenai definisi dan hakekat pengetahuan itu sendiri, serta bagaimana hubungan antara fakta dan pengetahuan itu tersusun menjadi teori dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya kita akan sampai pada pertanyaan paling fundamental yang sesungguhnya juga terkandung dalam semua ilmu pengetahuan sosial. Artinya, hakikat persoalan dalam feminisme akademik sesungguhnya juga dapat ditemukan pada berbagai disiplin ilmu.

PENGERTIAN RISET FEMINIS | ok-review | 4.5