PENGERTIAN REVOLUSI INDUSTRI

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Ekonomi

Istilah revolusi industri amat penting artinya dalam studi sejarah ekonomi dan studi pembangunan ekonomi. Akan tetapi frasa ini penuh dengan lubang perangkap yang menjebak, sebagian karena ia digunakan dalam berbagai pengertian, dan akibatnya menjadi bahan kontroversi sengit yang tak berkesudahan. Penggunaan awai dari istilah ‘revolusi industri’ mengacu pada apa yang paling tepat dilihat sebagai kurun-kurun waktu pertumbuhan industri dengan implikasi yang masih terbatas terhadap keseluruhan pembangunan ekonomi. Contoh yang cukup terkenal adalah karya Carus-Wilson (1940) pada abad ketigabelas, dan Nef (1932) pada abad ke enambelas. Pemaknaan yang seperti ini kini tidak digunakan lagi dan umumnya sudah dilupakan orang. Pengertian ‘revolusi industri’ yang masih dipakai luas adalah sebagai revolusi teknologi, sebagaimana dianut Freeman (1987). Pendekatan ini acapkali dipakai oleh para ahli riset yang berkonsentrasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjelaskan perkembangan-perkembangan yang menurut perasaan mereka memiliki ramifikasi ekonomi dan sosial yang luas. Mazhab pemikiran ini berhadapan dengan deretan revolusi teknologi atau (jika anda suka) revolusi industri. Termasuk di dalamnya adalah penemuan-penemuan hebat pada kurun 1750-1850 yang didasarkan pada tenaga uap, atau secara keseluruhan sering disebut sebagai revolusi industri kedua pada akhir abad sembilanbelas dan dua-puluh yang melibatkan penemuan di bidang kimia, listrik, dan mobil, serta revolusi industri informasi setelah tahun 1970. Para ekonom dan ahli sejarah ekonomi sering mengaitkan ‘revolusi industri’ dengan bagian mendasar dari proses pertumbuhan ekonomi, yakni meluasnya industrialisasi dalam perekonomian secara keseluruhan. Sejak Kuznet (1966), istilah ini diasosiasikan dengan pemekaran ekonomi modern.
Riset ekonometrik mengkonfirmasi adanya pola-pola sistematis perubahan struktur perekonomian manakala pendapatan riil mengalami peningkatan, kendati diakui luas bahwa setiap negara tidak mengikuti rute modernisasi yang serupa. Industrialisasi biasanya dibarengi dengan akselerasi pertumbuhan ekonomi, peningkatan investasi modal fisik maupun sumber daya manusia, perbaikan teknologi, serta urbanisasi. Barangkali penggunaan paling umum dari istilah ini adalah yang mengacu pada contoh klasik kepeloporan industrialisasi yang terjadi di Inggris selama akhir abad delapanbelas dan awal abad sembilanbelas, yang amat terkenal dalam uraian Rostow sebagai gambaran dari proses tinggal-landas yang spektakuler menuju pertumbuhan yang self-sustain. Sekarang diketahui bahwa episode itu ditandai terutama oleh perubahan cepat dalam struktur perekonomian namun dengan laju pertumbuhan ekonomi yang lambat. Dalam pengertian ini revolusi industri Inggris tidak hanya mengumpulkan inovasitalis, dan dari titik ini para pemikir Marxis kian tertarik pada hubungan kerja. Hegemoni pendekatan Labour Process mulai kendur pada kurun 1980-an. dengan munculnya dominasi politik yang baru, tapi masih menjadi arus penting dalam sosiologi industri. Sebelumnya, gagasan Durkheim. khususnya Divlson of Labour (1933), merupakan semacam norma dan bentuk solidaritas, yang lebih berpengaruh ketimbang Marx. Isu solidaritas sosial itu pula yang mendorong Elton Mayo untuk menafsirkan hasil-hasil percobaan Hawthorne pada kurun antar-perang sebagai bukti keinginan yang irrasional di pihak pekerja untuk membentuk kelompok-kelompok kecil yang militan. Percobaan-percobaan itu terdiri dari serentetan eksperimen, survey dan pendekatan antropologis terhadap perilaku para pekerja. Hasil-hasilnya, yang belakangan banyak dikritik (Gillespie 1991), hanya bersifat instrumental bagi pendekatan Hubungan Sumberdaya Manusia (Human Relations). Pendapat Taylor, bahwa cara terbaik untuk mengelola orang-orang di tempat kerja adalah dengan mengisolasi mereka satu sama lain, tampaknya tinggal menunggu masa sekaratnya saja, namun karena kontrak-kontrak individual dan sistem-sistem pembayaran kembali disukai selama kurun 1980-an dan 1990-an, kita harus berasumsi bahwa kematian Taylorisme akan tertunda lebih lama. Demikian pula halnya de-ngan pemikiran Durkheim, kendati pengaruhnya menurun pada 1970-an namun ia tak pernah lenyap sama sekali, bahkan kembali menemukan tempatnya pada tulisan-tulisan Fox dan Fladers (1969), dan juga terbukti menjadi landasan yang penting bagi perkembangan simbolisme organisasional pada tulisan Turner (1990). Penafsiran fenomena industri, termasuk simbol-simbolnya, juga merupakan jantung dari pendekatan Weber terhadap Sosiologi Industri. Dengan menentang penjelasan materialis Marx mengenai kemunculan kapitalisme, Weber berpandangan bahwa gagasan-gagasan juga memainkan peran penting, khususnya yang berkaitan dengan etika kerja Protestan. Akan tetapi, analisis Weber yang paling kerap dibicarakan adalah bahasannya mengenai birokrasi, dan signifikansi dari dominannya bentuk-bentuk otoritas ‘legal-formal’, yakni otoritas yang legitimasinya berakar pada aturan-aturan dan prosedur formal. Gagasan terakhir ini mendapat tentangan, mula-mula oleh Gouldner (1954) dan kemudian oleh fakta usaha-usaha debirokratisasi kerja lewat pengurangan jenjang hirarki manajerial pada kurun 1980-an dan 1990-an. Namun peringatan Weber mengenai bahaya menurunnya signifikansi individu dalam ‘kereta besi birokrasi’ masih tetap relevan.
Tiga warisan Weber, di mana gagasan-gagasan, penafsiran, dan dominasi para pakar berlangsung, belakangan membentuk kemuskilan dalam sederetan pendekatan non-Marxis, yang berkisar dari karya yang lebih berorientasi pada fenomena Silverman (1970), sampai pada yang lebih menengah seperti Goldthorpe etal. (1969). Sejak awal 1980-an, ada empat tema baru telah muncul. Pertama, penekanan pada gaya patriarkai dalam sosiologi industri yang lebih tradisional telah mendorong munculnya lini feminis dalam riset. Dalam pendekatan ini. asumsi bahwa ‘kerja’ bisa direduksi menjadi pekerjaan orang-orang kerah biru di pabrik-pabrik diperla-wankan, dan dikontraskan, dengan kerja domestik yang tidak bergaji dan meningkatnya jumlah wanita part-timer yang mengerjakan pekerjaan klerikal dan jasa. Lebih jauh, gagasan bahwa teknologi bersifat netral dan deterministik diperlihatkan sebagai unsur penting dalam mempertahankan kesinambungan patriarki. Kedua, runtuhnya komunisme, globalisasi industri, pergeseran dari Fordisme menuju post-Fordisme, perkembangan-perkembangan teknologi pengawasan dan bangkitnya individualisme tanpa ikatan pada 1980-an, mengantarkan pada bangkitnya kembali minat pada peran norma dan dominasi diri, yang acapkali dikaitkan dengan gagasan-gagasan Foucault dan para tokoh pasca modernis (Reed dan Hughes 1992). Ketiga, perkembangan-perkembangan teknologi informasi dan aplikasi-aplikasinya daiam bidang manufaktur dan perdagangan pada khususnya, telah mendorong bangkitnya kembali minat untuk menerapkan gagasan-gagasan konstruktivis sosial dari sosiologi ilmu pengetahuan dan teknologi kepada sosiologi kerja dan industri. Keempat, asumsi bahwa pekerjaan dan produksi merupakan kunci identitas sosial telah ditentang oleh argumen bahwa pola-pola konsumsi merupakan sumber identitas individual. Sosiologi industri secara pasti telah bergeser dari asal-usulnya, namun masih mempertahankan posisi sebagai poros dalam menjelaskan kehidupan zaman modern ini.

PENGERTIAN REVOLUSI INDUSTRI | ok-review | 4.5