PENGERTIAN PRAKTEK FEMINIS

By On Tuesday, October 22nd, 2013 Categories : Sosiologi

Merebaknya praktek feminis memperlihatkan kesan kesinambungan antara feminisme gelombang pertama (Victorian dan Edwardian) dan feminisme “gelombang kedua” (sejak tahun 1960-an). Gerakan emansipasi wanita diwarnai oleh kesenjangan yang cukup tajam antara teori dan praktek, meskipun di antara keduanya ada hubungan simbiotik. Hubungan itu agaknya paling tepat jika dilihat sebagai suatu praksis: kesatuan teori dan praktek merupakan tujuan jangka panjang yang terus dikejar guna memunculkan serangkaian revolusi kecil demi mencapai tujuan akhir yang hendak dituju, yakni status dan hak-hak yang lebih baik bagi kaum wanita. Manifestasi praktek feminis dapat dilihat secara jelas pada arena politik dan juga pada kegiatan-kegiatan yang secara konvensional tidak dilihat sebagai kekuatan politik. Namun perlu digarisbawahi bahwa gerakan tersebut berlangsung terbatas di negara-negara maju, sedangkan feminisme berskala global memiliki bentuk dan nuansa yang berbeda-beda. Dalam praktek feminis terdapat tindakan atau usaha langsung yang meliputi berbagai kegiatan legal yang bertujuan membangkitkan kesadaran publik atas ketidakadilan yang dialami oleh kaum wanita. Karena itu tahap-tahap terkahir gerakan feminisme di jaman Edward seperti unjuk rasa menentang bangunan umum yang tidak sesuai dengan kepentingan keluarga atau kecaman pedas terhadap pornografi ketika toko-toko peralatan merebak di tahun 1970-an masih dapat dipandang sebagai kegiatan yang berlangsung dalam konteks hukum. Wujud praktek feminis berikutnya adalah pembangkangan sipil yang mencakup berbagai perilaku yang berada di ambang batas toleransi hukum namun juga belum dapat dikatakan sebagai perilaku yang sah. Contohnya adalah ketika kaum feminis di zaman Victor secara terbuka menentang penerapan hukum anti penyakit menular, atau ketika kaum feminis di tahun 1990-an menduduki Majelis Tinggi di Parlemen yang tengah mendebatkan klausul 28 dari Undang-undang Pemerintah Lokal 1988 yang akan melarang berbagai bentuk hubungan keluarga “semu” seperti pola hidup bersama alias kumpul kebo di antara kaum lesbian itu. Politik gerakan atau praktek feminis sebagai kelompok penekan kini dipandang sebagai salah satu bentuk aksi politik yang paling bisa diandalkan di negara-negara yang menganut demokrasi parlementer. Kaum feminisme di zaman Victor merupakan perintis dari apa yang dianggap, saat itu, sebagai perilaku kasar kaum pria. Saat itu kaum feminis juga aktif mengadakan lobi ke parlemen, terkadang bahkan dengan cara menduduki gedung tempat para legislator bersidang seperti yang mereka lakukan di tahun 1960-an dan 1970-an ketika menentang undang- undang diskriminasi dan ketika mereka memperjuangkan hukum yang mengesahkan aborsi dalam program kesehatan nasional. Program mandiri (Self-help) adalah kegiatan kaum feminis dalam menyediakan berbagai jasa pelayanan yang belum tersedia, atau kalau pun sudah tersedia belum memuaskan, dari pemerintah pusat maupun lokal, serta instansi-instansinya. Contohnya adalah, kaum feminis Victoria yang berusaha menyediakan perumahan yang sehat dan aman bagi anak-anak yang teraniaya, juga kaum wanita yang terpaksa mengungsi dari kekerasan kaum pria.
Pada tahun 1970-an, kaum feminis membentuk suatu sistem nasional pusat krisis pemerkosaan yang mencoba membantu kaum wanita dan anak-anak yang menjadi subyek penyelewengan dan kekerasan. Program mandiri ini adalah salah satu cara atau wujud praktek feminis yang berhasil menembus kendala politik dan menarik perhatian masyarakat yang semula hanya terpusat pada urusan- urusan parlemen, angkatan bersenjata dan ekonomi. Lambat laum praktek feminis berhasil masuk ke dalam kehidupan dan hubungan sosial sehari-hari masyarakat. Gerakan ini secara bertahap juga berusaha mengubah cara pandang masyarakat sehingga hal-hal seperti kekerasan dalam keluarga dan kehidupan dalam pernikahan secara sosial dianggap sebagai suatu hal yang tidak bisa diterima, padahal sebelumnya hal-hal seperti itu lazim terjadi dan dianggap sepenuhnya urusan pribadi yang tidak bisa dicampuri oleh instansi-instansi pemerintah. Sejak dahulu gerakan feminis terus mencoba menembus berbagai kendala politik dan dalam hal ini ada semacam kesinambungan antara gerakan pada gelombang pertama dan kedua. Komposer musik di zaman Victoria Ethel Smyth dan para novelis serta sastrawati modernis seperti Virginia Woolf, bersama dengan sastrawan kontemporer kulit hitam Amerika yang aktif dalam gerakan feminis seperti Audre Lorde dan Judy Chicago (yang terkenal dengan karyanya “The Dinner Party“) sangat bersemangat mendukung praktek feminis. Mereka langsung terjun dalam intervensi radikal sebagai representasi kultural praktek feminis. Contoh-contoh ini menunjukkan secara jelas betapa besar perhatian kaum feminis untuk mengubah teori dan praktek feminis di semua aspek kehidupan sosial. Semua itu dilakukan tanpa mengurangi perhatian terhadap aspek-aspek ekonomis seperti upaya peningkatan kemampuan hidup secara independen baik secara maupun ekonomis, dan dalam membesarkan anak-anak dalam suatu kerangka yang lebih luas ketimbang pola yang semata-mata didasarkan pada jenis kelamin. Dalam masyarakat Barat, mungkin aspek yang jangkauannya paling luas dari praktek feminis adalah berkembangnya studi wanita yang bertujuan mengadakan perubahan revolusioner terhadap ilmu pengetahuan. Bidang-bidang utama kegiatannya meliputi kritik terhadap berbagai bias dan penyesuaian teori-teori serta praktek keilmuan yang mereka yakini terlalu diwarnai oleh metodologi maskulin; serta merekoseptualisasikan berbagai bidang teori, dan konsepsi ilmu pengetahuan dari sudut pandang wanita sehingga mereka juga mencoba mempolitisir berbagai persoalan epistemologi.

PENGERTIAN PRAKTEK FEMINIS | ok-review | 4.5