PENGERTIAN PERTUKARAN

By On Monday, October 21st, 2013 Categories : Antropologi

Ada lima alasan yang membuat pertukaran itu menarik. Pertama, pertukaran adalah wahana yang memungkinkan seseorang memperoleh sesuatu yang diperlukannya. Kedua, pertukaran adalah salah satu cara masyarakat menciptakan dan memelihara organisasi sosial. Ketiga, pertukaran selalu diatur melalui ketentuan hukum, konvensi atau etiket. Keempat, pertukaran selalu bermakna karena mengandung unsur simbolik dan seringkah dijadikan metafora untuk kegiatan yang lain. Kelima, di banyak masyarakat, orang-orang sering berspekulasi asal mula, motif, moralitas, konsekuensi, dan esensi pertukaran. Sayangnya, jarang sekali ilmuwan memberikan perhatian merata pada kelima masing-masing aspek tersebut. Pertukaran bersifat universal. Kita tahu bahwa tidak ada orang yang mengagumi sesuatu pihak yang tidak bersedia mengadakan pertukaran atau yang menganjurkan orang lain menolak pertukaran. Meskipun banyak orang di masyarakat industri dan pasar mengagungkan kemandirian, dan sebagian dari mereka berusaha keras untuk mencapainya, pertukaran tidak akan hilang. Sebagian orang memang lebih aktif terlibat dalam kegiatan pertukaran ketimbang orang-orang lain, namun adalah keliru jika kita menganggap kalau ada orang mengadakan pertukaran lebih banyak ketimbang orang lain. Terdapat banyak jenis pertukaran, mulai dari pemberian cuma-cuma (yang sesungguhnya adalah pertukaran antara sesuatu barang dengan rasa puas), barter, derma, perdagangan, pajak, dan bahkan pencurian. Jenis-jenis itu didasarkan pada espektasi imbalan. Satu jenis pertukaran bisa dibedakan dari jenis-jenis lainnya atas dasar waktu penerimaan imbalan, besarnya imbalan, atau sesuai-tidaknya imbalan itu dengan yang telah dikorbankan atau yang diberikan kepada pihak lain. Hal ini pun bersifat universal meskipun jenis-jenis yang tersedia untuk setiap masyarakat berbeda-beda. Sesuatu yang bisa dipertukarkan sangatlah bervariasi mulai dari barang, kado biasa, kartu ucapan selamat, Vaygua di kalangan masyarakat Trobriand, dan sebagainya. Namun ada pula jenis-jenis benda atau sesuatu yang dilarang untuk dipertukarkan. Ajaran agama melarang dipertukarkannya akidah atau keyakinan. Norma sosial juga melarang kita menukarkan nilai persahabatan dengan materi. Ada juga pertukaran yang hanya bisa dilangsungkan pada jenis hubungan tertentu. Misalnya pertukaran kartu ucapan selamat biasanya berlangsung di antara orang-orang yang memiliki hubungan dekat atau kekeluargaan. Marchel Mauss (1954 [1925]) mencatat bahwa penolakan penerimaan hadiah, atau jika hadiah itu dikembalikan, bisa menimbulkan konflik karena hal itu dianggap setara dengan pernyataan perang/permusuhan. Para ilmuwan sosial, khususnya para antropolog, telah mencoba mengintensifikasikan sistem-sistem pertukaran. Ini mereka lakukan dengan berbagai cara. Perintisnya adalah Mauss yang mempelajari praktek pemberian hadiah sebagai salah satu jenis pertukaran yang didasarkan pada tiga kewajiban, yakni kewajiban menerima, memberi dan mengembalikan. Ketiga unsur ini masih merupakan prinsip-prinsip kunci dalam praktek pemberian hadiah hingga saat ini. Penerimaan, pemberian dan pengembalian dilakukan berdasarkan tujuan yang berbeda-beda. Adakalanya hadiah diberikan untuk mengikat seseorang, dan jika orang itu mengetahui dan menolak motif itu, maka ia akan mengembalikan hadiah tadi. Malinowski (1922) mempelajari pertukaran Kula atau benda-benda seremonial di lingkungan penduduk kepulauan Melanesia yang dikatakannya sebagai wahana pemeliharaan hubungan kekuasaan. Namun sejumlah studi lain menunjukkan bahwa pertukaran tidaklah sesistematis seperti yang diperkirakan Malinowski. Jauh sebelumnya. Kari Polanyi (1944) telah mengulas prinsip resiprositas atau timbal balik sebagai prinsip pertukaran ekonomis. Sahlins (1972) membuat upaya unik untuk menunjukkan bagaimana berbagai prinsip pertukaran itu bisa berubah-ubah sesuai dengan tujuan atau motif yang dikandungnya. Kajian-kajian seperti ini sangatlah penting bagi para ekonom karena hal itu merupakan landasan untuk memahami logika pencarian keuntungan dalam setiap bentuk pertukaran.
Mereka juga ingin membuktikan bahwa keragaman motif pertukaran seperti yang tercatat dalam riset etnografi sesungguhnya keliru karena merupakan perwujudan dari kesadaran yang keliru (di mata para ekonom, motif yang sah hanyalah pencarian keuntungan). Upaya yang dilakukan oleh Levi-Strauss (1969) dan rekan-rekannya untuk mengaitkan struktur formal kekerabatan dan pernikahan dengan sistem pertukaran wanita merupakan perkembangan penting dalam studi mengenai kekerabatan dan pertukaran itu sendiri. Prinsip pertukaran rasional adalah Iandasan teori pertukaran yang dilandaskan pada karya von Mises yang daiam sosiologi dikembangkan oleh Homans, serta dalam antropologi oleh Barth 1966) dan Bailey (1969). Daya tarik teori-teori itu antara lain bersumber dari pernyataannya yang mengejutkan bahwa semua kegiatan sosial pada dasarnya berlandaskan pada motif pencarian keuntungan. Atas dasar itu pula prinsip-prinsip pasar mengalami difusi begitu cepat pada 1950-an dan 1960-an. Proses ini dilacak oleh banyak pengamat, dan yang paling berhasil mungkin adalah analisis Bohannan (1968), mengenai merosotnya kategori-kategori pertukaran tradisional sehubungan dengan berkembangnya pasar-pasar berskala nasional. Perkembangan pesat “perekonomian modern” itu nampaknya membenarkan prinsip-prinsip ilmu ekonomi modem untuk menjelaskan segala sesuatu. Namun sekarang ini, para antropolog dan sebagian ekonom tidak begitu yakin mengenai ha! itu Mungkin saja ada bentuk pertukaran lain sehingga tentunya perlu kajian yang lebih jernih, dan riset mengenai hal itu kini telah mulai dilaksanakan seperti penelitian Appadurai (1986) mengenai mekanisme pergeseran makna atas sesuatu benda ketika benda itu berpindah tangan, dan riset Strathern (1988) mengenai simbolisme. Kajian cermat yang dilakukan Gregory (1982) mengenai perbedaan antara hadiah dan komoditi, serta karya para ekonom lainnya, mulai mengungkapkan motif-motif pertukaran di luar motif ekonomi.

PENGERTIAN PERTUKARAN | ok-review | 4.5