PENGERTIAN PERTAHANAN

By On Thursday, October 17th, 2013 Categories : Psikologi

Konseptualisasi mengenai mekanisme pertahanan diri sendiri merupakan sumbangan paling berharga yang telah diberikan oleh Sigmund Freud dan aliran psikoanalisis (analisis-jiwa) bagi psikologi alias ilmu jiwa. Para ahli jiwa modern, termasuk mereka yang tidak menganut aliran Freud, mengartikan mekanisme pertahanan internal (dalam diri seseorang) secara lebih luas sebagai cara mengatasi masalah, yang secara otomatis memungkinkan individu yang bersangkutan untuk memperkecil perubahan internal atau eksternal yang datang mendadak dan untuk menyelesaikan masalah kejiwaannya sendiri (konflik psikologis). Pertahanan tidak dibentuk secara sadar, melainkan cenderung muncul dengar sendirinya, dan ini kontras dengan apa yang disebut sebagai strategi menghadapi sesuatu (coping strategy). Bukti-bukti yang terkumpul menunjukkan bahwa perbedaan mekanisme pertahanan yang dibentuk oleh individu — gaya dalam menyelesaikan masalah secara otomatis — merupakan salah satu pertimbangan utama untuk memahami perbedaan respon terhadap stres/tekanan mental. Sebagai contoh, ada sementara orang yang menghadapi stres dengan sikap tenang, rasional, sementara orang lain justru ketakutan atau menarik diri ke dalam dunia khayal. Perbedaan tanggapan tersebut sebetulnya merupakan perbedaan mekanisme pertahanan. Sigmund Freud berpendapat penyakit kejiwaan lebih merupakan akibat dari kekecewaan, atau emosi, daripada ide-ide yang mengejutkan. Freud melihat mekanisme pertahanan diri dapat mengakibatkan kekacauan atau perubahan ide-ide tertentu melalui proses yang disebutnya disosiasi (pemisahan;, represi (penekanan) atau isolasi (pengasingan; Selanjutnya, akibat yang muncul akan dapat ditanggulangi melalui proses yang disebut pengqannan, proyeksi dan sublimasi (penguapan) Freud mengidentifikasikan empat sifat mekanisme pertahanan. Sekalipun hal-hal ini merupakan ciri-ciri dari sindrom kejiwaan utama, pada kebanyakan orang, semua mekanisme itu mencerminkan proses penyesuaian. Penggunaan mekanisme pertahanan -asa-nya mengubah persepsi individu mengenai kenyataan di dalam dan di luar dirinya. Kesadaran atas keinginan-keinginan instingtif seringkali dikurangi. sedangkan keinginan-keinginan pilihan yang terkadang bertentangan malahan disertakan. Ketika mekanisme pertahanan diri berkait dengar, proses psikologis yang integratif dan dinamis, manusia lebih analogis terhadap seekor binatang yang berpura-pura mati dalam menghadapi bahaya daripada kedipan mata yang mengadung arti atau taktik nyata dari manipulasi antar-personal.
Beberapa kesimpulan mengenai tujuan mekanisme pertahanan diri adalah: pertama, menjaga sikap dalam batas-batas yang memungkinkan guna menghadapi perubahan tiba-tiba dalam kehidupan emosi manusia (misalnya sehubungan dengan kematian seseorang yang disayangi); kedua, untuk mengembalikan keseimbangan psikologis dengan menunda atau mengalihkan kenaikan tiba-tiba dorongan biologis (mengikat kesadaran atau agresi selama masa dewasa); ketiga, untuk menciptakan penundaan guna menguasai perubahan kritis dalam hidup (pubertas, penyakit yang mematikan, atau peningkatan karir); dan keempat, untuk menangani konflik yang tidak terselesaikan dengan seseorang yang penting, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Pada tahun 1936, Freud memberi ceramah kepada para mahasiswa yang tertarik dengan konsep pertahanan diri: “Ada banyak sekali metode (atau mekanisme) yang digunakan oleh diri kita dalam melaksanakan fungsi-fungsi pertahanannya … Anak perempuan saya, seorang analis anak, sedang menulis sebuah buku mengenai hal itu”. Ia sebetulnya memberitahukan hadiah ulang tahun ke delapan-puluhnya dari Ana Freud. Tulisan Ana, The Ego and the Mechanism of Defense — “Ego dan Mekanisme Pertahanan” — (1937), masih merupakan referensi terbaik mengenai hal tersebut.

PENGERTIAN PERTAHANAN | ok-review | 4.5