PENGERTIAN PERSEROAN TERBATAS DAN PERUSAHAAN

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Ekonomi

Ada tiga ciri khas perseroan terbatas: setiap utang perusahaan menjadi tanggungan perusahaan, dan tidak bisa dikaitkan dengan kekayaan pribadi pemegang sahamnya: identitas perusahaan takkan berubah sekalipun saham dialihkan ke pihak lain; dan hubungan kontraktual dilakukan dan menjadi tanggung-jawab dewan direksi.Ini merupakan bentuk organisasi unit usaha yang paling populer, yang mendasarkan kepemilikan dan tanggung-jawab pada jumlah saham, dan sepenuhnya diakui sebagai badan hukum.  Dengan ciri-ciri itu, perseroran terbatas adalah jenis badan usaha yang paling mudah berkembang Resiko utang bagi pemilik saham bisa diabaikan sehingga perseroan berani berekspansi secara maksimal, selama masih ada pihak yang memberikan pinjaman usaha. Kemudahan jual-beli saham juga membuat badan usaha ini tidak terpengaruh oleh preferensi individual pemiliknya. Status persona perusahaan ini memungkin-kan dilakukannya pembagian tugas, resiko dan tanggung jawab antara pemilik dan pengelola perusahaan. Schumpeter mengkritik hal itu sebagai suatu hal yang akan menyulitkan pengelolaannya. Namun Hessen (1979) dan para ekonom lain berpendapat sebaliknya: terbatasnya tanggung-jawab pemilik perusahaan sebatas saham yang dimilikinya dan prinsip kepemilikan bersama adalah suatu kontrak khas swasta, bukan negara/ pemerintah. Penyusunan kontrak secara bebas adalah wahana peningkatan efisiensi yang sangat diperlukan kalangan swasta, bukan untuk mengelakkan tanggung jawab.
Secara historis, terbatasnya tanggung-jawab pemilik perusahaan merupakan keistimewaan yang diberikan pemerintah Inggris di abad 15 guna merangsang minat usaha swasta. Pada abad 17, prinsip ini disebar-luaskan ke berbagai wilayah jajahan Inggris melalui East India Company dan Hudson Bay Company, yang kemudian dibakukan menjadi undang-undang parlemen di tahun 1662 (Clapham. 1957). Sejak saat itu bentuk badan usaha ini kian populer karena merangsang kreativitas dan keberanian para pengusaha dalam menekuni bisnis. Jenis badan usaha ini pula yang kemudian mengembangkan jalan-jalan raya dan kereta api di Inggris pada 1780-90-an dan 1830- 40-an. Bubble Act 1720 yang dimaksudkan untuk mengendalikan perusahaan swasta tidak berhasil mencapai sasaran dan dicabut kembali (Du Bois, 1938) sehingga perkembangan perseroan terbatas kian pesat, khususnya sejakdiberlakukannya Company’s Registration Act 1844 yang diamendir di tahun 1856 yang mengesahkan status tanggung-jawab terbatas bagi setiap perusahaan yang terdaftar. Sampai 1990-an ini pun masih banyak perusahaan yang tidak mengambil bentuk perseroan terbatas, namun harus diakui bahwa jenis badan usaha inilah yang paling cocok dalam lingkungan bisnis kompetitif, khususnya bagi badan-badan usaha berskala besar. Tentu saja aspek positif ini juga tidak lepas dari kelemahan. Perseroan terbatas yang besar cenderung kian besar dan memakan sesamanya. Di Inggris, hai ini dapat dilihat dari terus meningkatnya konsentrasi industri pada segelintir perusahaan raksasa. Ukuran yang besar sangatlah penting bagi perkembangan bisnis sehubungan dengan prinsip skala ekonomis (economics of scale), yang bisa mengarah ke kekuatan monopoli. Hal terakhir terbukti di Amerika ketika orang-orang seperti Rockefeller dan Carnegie berhasil membangun perusahaan raksasa minyak dan baja yang begitu hebat dan dominan. Kongres, yang khawatir monopoli akan mematikan persaingan dan iklim usaha, menerapkan UU Anti-Monopoli Sherman di tahun 1890 sehingga perusahaan-perusahaan yang luar biasa besar seperti Standard Oil dan American Tobacco diperintahkan untuk memecah diri ke sejumlah unit yang lebih kecil dan mandiri. Tigaperempat abad kemudian banyak perseroan terbatas di Amerika dan beberapa negara lain tampil begitu besar. Namun kali ini mereka lebih cerdik dalam menghindari tuduhan monopoli dengan cara mengadakan diversifikasi produk, di luar produk asli atau intinya. Muncullah perusahaan-perusahaan multinasional raksasa di Inggris, Belanda, Jerman dan Swiss, seperti ICI, Hoechst, Philips, dan Nestle. Banyak pihak yang mengkhawatirkan kecenderungan konsentrasi industri yang sangat tinggi itu. Mereka cemas hal itu akan mematikan kompetisi bebas, dan jika terlalu besar, mereka akan kehilangan kelenturan dan efisiensi, atau tidak peka terhadap kemajuan teknologi dan peluang inovasi. Kenyataannya, nama perusahaan yang terdaftar pada 100 peringkat teratas selalu berubah. Daftarnya di tahun 1900 sangat berbeda pada 1990. Di sisi lain, perusahaan besar bisa bertahan sampai sekian puluh tahun. Setiap perusahaan harus selalu menyesuaikan diri terhadap kondisi-kondisi permintaan dan penawaran, atau mereka harus gulung tikar. Pendapat bahwa ukuran besar sulit berkembang nampaknya masih harus dibuktikan, demikian pula dengan kekhawatiran akan susutnya iklim kompetisi. Hal berikutnya yang menjadi bahan perdebatan adalah tingkat kekompakan dalam perseroan terbatas dan fungsi dari apa yang oleh Berle dan Means (1968) disebut “pemisahan kepemilikan dan pengelolaan”. Banyak teori yang menganjurkan pemisahan itu, dengan wewenang penuh bagi para manajer pelaksana yang punya kecakapan lebih baik untuk menjalankan perusahaan dan mencetak laba. Sebaliknya, banyak pula yang berpendapat bahwa pemilik perusahaan harus turun tangan langsung menjalankan perusahaannya, karena merekalah yang paling berke pentingan atas jatuh-bangunnya perusahaan. Para pendukung teori tradisional berpendapat bahwa manajer harus diberi wewenang penuh, dan motivasinya tidak perlu diragukan karena banyak mekanisme, seperti bursa saham, yang akan mengontrol kecakapannya dalam mencetak laba maksimal. Mereka juga sama pekanya dengan pemilik perusahaan dalam menimbang-nimbang resiko yang harus dipikul, meskipun sebagai pihak luar, rasa memilikinya tentunya tak sebesar pemilik (inilah yang disebut “masalah keagenan”). Pokok perdebatannya kemudian bergeser ke soal bagaimana caranya meminimalkan biaya dari masalah keagenan tersebut. Di negara-negara seperti Swedia, Swiss dan Afrika Selatan, perusahaan-perusahaan induk (holding companies) biasanya langsung dikendalikan oleh beberapa pemilik saham mayoritas. Perusahaan raksasa milik keluarga seperti Wallenbergs dan Oppenheimers, masih diawasi oleh keluarga pendiri, sekalipun secara keseluruhan saham mereka terbatas. Meskipun terbatas, jika dibandingkan pemilik saham lainnya secara individual, maka jumlah saham yang mereka miliki masih jauh lebih besar, dan mereka masih leluasa memainkan pengaruh. Di negara-negara Anglo-Saxon, seperti Inggris dan AS, kontrol langsung oleh pemilik tidak dianjurkan, bahkan dilarang. Roe telah mendokumentasikan sejarah pembatasan legal dan politik atas kontrol perusahaan oleh lembaga- lembaga keuangan bank, asuransi, atau lembaga investasi— yang membiayainya (misalnya J.P. Morgan yang semula bersikeras mengontrol semua perusahaan yang didanainya). Di sini ada anggapan bahwa kepemilikan dan pengelolaan harus dipisah, khususnya bagi perusahaan-perusahaan publik (sebagian sahamnya dimiliki masyarakat luas). Black dan Coffee (1993) bahkan mencatat Bank Sentral Inggris turun tangan langsung untuk mencegah lembaga keuangan ikut campur dalam pengelolaan perusahaan di sektor riil. Di samping itu ada pula ketentuan penyetaraan suara dengan persentasi kepemilikan. Artinya suatu pihak yang hanya memiliki 5 persen saham tidak boleh ikut campur lebih dari 5 persen urusan, karena ia hanya boleh mengontrol bagiannya sendiri sebesar 5 persen itu. Ketentuan ini agak sulit diterapkan, namun yang jelas ia cukup efektif untuk mencegah campur tangan berlebihan pihak pemilik terhadap pengelolaan perusahaan.

PENGERTIAN PERSEROAN TERBATAS DAN PERUSAHAAN | ok-review | 4.5