PENGERTIAN PERMINTAAN AKAN UANG

By On Thursday, October 17th, 2013 Categories : Ekonomi

Permintaan akan uang memainkan peranan penting dalam perdebatan mengenai posisi yang semestinya bagi kebijakan moneter. Perubahan dalam pasokan uang berdampak langsung terhadap tingkat bunga, yang merupakan mata rantai pertama dari mekanisme perpindahan uang. Para pakar moneter meyakini bahwa pasokan uang mempengaruhi jumlah produk dalam jangka pendek (tiga sampai lima tahun) namun dalam jangka panjang pertumbuhan akan kembali pada tingkat alamiahnya dan setiap ekspansi moneter akan mengakibatkan kenaikan harga (inflasi). Dalam sistem perekonomian terbuka, pasokan uang juga mempengaruhi nilai tukar dan dapat menyebabkan nilai tukar itu menyimpang, de-ngan konsekuensi jangka pendek terhadap kemampuan bersaing harga, ekspor, impor dan pada akhirnya jumlah produk atau output riil.
Dalam menganalisis permintaan akan uang, diasumsikan bahwa dalam jangka panjang, kenaikan nominal uang yang ingin dimiliki berbanding sama dengan tingkat harga sehingga daya beli uang (yaitu keseimbangan uang nyata) tetap (ceteris paribus). Pada perekonomian yang didera oleh inflasi tinggi (seperti yang dialami oleh negara-negara Amerika Latin, Eropa Timur dan Rusia) faktor penentu utama dari permintaan uang yang sebenarnya adalah perkiraan tingkat inflasi. Semakin tinggi perkiraan tingkat inflasi itu, akan semakin banyak orang yang ingin mengubah asetnya dari bentuk uang menjadi benda. Dalam hal ini tingkat inflasi mencerminkan proporsi penyusutan daya beli uang. Di negara-negara industri (dengan tingkat inflasi yang wajar) faktor penentu utama jumlah uang yang dimiliki adalah tingkat transaksi yang dilakukan. Jika permintaan akan uang yang diinginkan M1 seimbang dengan uang didapat PY, maka Sf=kPY. Pada titik kesetimbangan pasokan uang Af5 harus setara dengan pasokan uang sehingga M’ = kPY. Selama ‘k’ tetap konstan, setiap pertambahan pasokan uang M5 akan mengakibatkan kenaikan harga P atau output rill Y. Jika dalam jangka panjang, pertumbuhan output riil ditentukan oleh kenaikan produktivitas, maka tingkat harga naik sebanding dengan kenaikan pasokan uang. Berdasarkan pertumbuhan output dan arah harga yang dikehendaki dan suatu perkiraan dari k, seseorang dapat menghitung kenaikan pasokan uang yang dikehendaki. Seringkali debat-debat mengenai kebijakan moneter berlangsung atas dasar pengertian “kecepatan perputaran yang dirumuskan sebagai PYVM. Dengan asumsi kita mengenai proporsionalitas dari permintaan akan uang, maka itu berarti bahwa kecepatan perputaran uang itu adalah tetap (yaitu V = l/k). Seperti halnya motivasi transaksi untuk memegang uang, kita mengenal motif “aset“, yang didasarkan pada kenyataan bahwa uang adalah “simpanan nilai”. Dihadapkan oleh pilihan antara dua aset, yakni uang yang menghasilkan bunga r dan surat berharga yang menghasilkan keuntungan rb, individu akan (pada umumnya) memilih untuk memegang kedua aset itu sekaligus (portofolio). Bagaimanapun, individu akan memegang lebih banyak kekayaannya dalam bentuk uang (dan lebih sedikit surat berharga) jika suku bunga surat berharga turun atau jika bunga uang naik, atau jika surat berharga dianggap lebih besar resikonya. Model permintaan akan uang seperti ini berasal dari suatu pendekatan yang sengaja dikembangkan untuk menentukan besar-kecilnya permintaan aset yang dinamakan variasi rata-rata. Jika kita mempertimbangkan motif transaksi dan motif aset secara bersama-sama, fungsi permintaan akan uang yang lebih kompleks itu menimbulkan masalah yang lebih besar dalam penetapan target- target moneter.
Untuk memprediksikan bahwa tingkat permintaan akan uang akan konsisten dengan tingkat output dan harga, kita harus mampu memprediksikan perilaku perluasan tingkat bunga, yaitu tingkat bunga uang dikurangi tingkat bunga surat berharga. Pergerakan dari perluasan ini sebagian tergantung dari tujuan-tujuan (seperti maksimalisasi keuntungan) bank-bank komersial. Jika pemerintah dengan cara membuka pasar surat berharga menaikkan suku bunga surat berharga sebagai upaya untuk menurunkan permintaan (dan dengan demikian juga pasokan) uang, bank-bank komersial akan menanggapi dengan menaikkan suku bunga yang akan mereka bayarkan kepada pemilik tabungan (yaitu aset berupa uang tunai), sehingga menarik kembali dana ke bank-bank dan menjaga pertumbuhan moneter tetap tinggi. Juga, sektor keuangan akan mencari cara untuk menciptakan tipe-tipe baru tabungan (inovasi keuangan) guna mengimbangi daya tarik surat berharga (obligasi, saham). Sebagai contoh, di Amerika Serikat, ‘money market mutual funds‘ (pasar dana investasi bersama) berkembang pesat. Ini adalah simpanan atau tabungan yang ditanamkan sebagai portofolio dari aset jangka pendek (yaitu Treasury bills, commercial bills), sementara nasabah bank dapat dengan mudah menerbitkan cek dari dana seperti itu. Jadi, itu adalah gabungan antara uang dan surat berharga. Selanjutnya, pemilik juga dapat menempatkan uang mereka pada bank-bank di luar negeri dalam mata uang dari negara pemilik dana (misalnya dolar AS dari warga AS yang ditanamkan di bank di kawasan Karibia) atau dalam mata uang asing. Kompensasi kurs akan berlaku di antara mata uang domestik dan asing. Perkembangan produk keuangan yang begitu pesat acapkali menyulitkan kita menentukan pengertian ‘uang’ itu dan menghitung tingkat permintaan terhadap mata uang domestik. Permintaan akan uang untuk transaksi dan aneka bentuk aset (termasuk rekening tabungan) sempat timpang pada tahun 1950-an dan 1960-an. Namun hal itu tidak terjadi lagi di negara-negara industri pada 1980-andan 1990-an. Dalam bahasa teknis, permintaan akan uang (atau kecepatan perputarannya) semakin tidak dapat diperkirakan selama 1970-an (Inggris dan AS), awal 1980an (misalnya penurunan kecepatan secara besar-besaran di AS) dan bahkan di Jerman yang segi moneternya sangat stabil pada periode 1992-1994. Setiap terjadi perubahan penawaran atau pasokan uang, lebih sulit untuk memperkirakan arah harga (inflasi) selama tahun berjalan (yaitu masa melambat yang panjang dan beragam pada sistem moneter). Hal ini menjauhkan variabel permintaan uang dari ketergantungan tunggal terhadap pasokan uang sebagai alat untuk memerangi inflasi. Selain itu ada kecenderungan penyamaan suku bunga nominal untuk mencapai suatu suku bunga yang diinginkan), baik itu pada ekonomi yang relatif tertutup (seperti AS) atau ekonomi terbuka, dan memperbaiki nilai tukar domestik sampai tercapainya kurs dengan inflasi rendah (misal Mark Jerman pada negara-negara Eropa).

PENGERTIAN PERMINTAAN AKAN UANG | ok-review | 4.5