PENGERTIAN PERJANJIAN CAMP DAVID

By On Tuesday, October 29th, 2013 Categories : Antropologi

PERJANJIAN CAMP DAVID, adalah perjanjian perdamaian yang berlangsung pada tanggal 17 September 1978 di kota Camp David, antara Mesir dan Israel. Perjanjian ini ditandatangani oleh Presiden Mesir, Anwar Sadat, dan Perdana Menteri Israel, Manachem Begin, disaksikan oleh Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter. Dalam pidatonya itu, ia berseru kepada pemerintah dan rakyat Israel agar mengadakan per¬damaian sejati dengan negara-negara Arab. Dalam pidato selanjutnya pada tanggal 26 November 1977 di Kairo, sekembalinya dari Israel, ia mengimbau semua Dihak yang terlibat dalam sengketa Arab-Israel dan kedua negara adikuasa untuk mengadakan perundingan kembali demi tercapainya perdamaian antara negara-negara Arab-lsrael. Prakarsa perdamaian Sadat dan tanggapan Perdana Menteri Israel yang positif merupakan suatu kejadian bersejarah dan dapat menjadi titik balik sejarah Ti¬mur Tengah, khususnya hubungan Arab-Israel. Rangkaian kejadian itu memberikan momentum kepada usaha perdamaian yang sedang berlangsung dan menciptakan suasana baik bagi suksesnya perundingan Camp David, terutama karena mengungkapkan dan membulatkan tekad perdamaian Mesir-Israel. Adapun isi persetujuan Camp David terdiri atas dua bagian, yaitu “Kerangka Perdamaian untuk Seluruh Wilayah Timur Tengah”, dan “Kerangka untuk Mengadakan Perjanjian Perdamaian antara Mesir-Israel dalam Waktu Tiga Bulan.”
Kerangka pertama mengungkapkan tekad Mesir dan Israel untuk mencapai penyelesaian sengketa Arab-Israel secara adil dan menyeluruh, dengan mengadakan perjanjian-perjanjian perdamaian atas dasar Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 242 dan 338. Kerangka kedua memuat kata sepakat antara Mesir dan Israel untuk mengadakan perjanjian perdamaian dalam waktu 3 bulan atas dasar Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 242. Perjanjian perdamaian itu harus memuat berbagai ketentuan yang telah disepakati. Dengan ditandatanganinya persetujuan Camp David, muncullah beberapa reaksi di negara- negara Arab: (1) Reaksi mendukung, dari Moroko, Sudan, Tunisia, Aman, dan Yaman Utara; (2) Reaksi menentang, dari Aljazair, Libya, Yaman Selatan, Suriah, Irak, dan Organisasi Pembebasan Palestina atau PLO; (3) Reaksi moderat dengan menunggu perkembangan lebih lanjut, dari Arab Saudi, Yordania, Lebanon, dan negara-negara Arab di Teluk Persia. Kelompok negara penentang berusaha menggagalkan persetujuan Camp David dengan mengadakan pertemuan konsultasi di Tripoli. Pertemuan, yang diadakan atas undangan presiden Libya, Kadhafi, itu tidak berjalan sebagaimana diharapkan. Dalam pertemuan itu, tampak adanya perubahan sikap di antara negara-negara penentang yang ditandai dengan keluarnya Irak sebelum perundingan berakhir. Irak menarik diri karena menganggap negara penentang lainnya kurang progresif. Selain itu, Irak melihat adanya gejala dominasi Suriah yang dianggapnya memanfaatkan pertemuan itu untuk kepentingannya sendiri. Usaha lain untuk menggagalkan persetujuan Camp David terungkap lagi ketika mereka mengadakan pertemuan puncak di Damaskus selama empat hari, yakni dari tanggal 20-23 September 1978. Reaksi keras dari negara-negara Arab kelompok penentang muncul karena mereka menganggap langkah-langkah yang diambil Sadat akan merendahkan martabat negara- negara Arab di mata Israel. Di samping itu, Mesir juga dianggap merusak barisan persatuan Arab karena tidak mengadakan konsultasi terlebih dahulu sebelum melaksanakan rencananya. Di pihak lain, sikap kelompok negara Arab moderat sangat membingungkan, baik bagi Mesir maupun bagi kelompok negara Arab penentang. Oleh karena itu, pihak Mesir dan kelompok negara penentang masing-masing melakukan kampanye untuk mempengaruhi dan mencari dukungan, terutama dari Yordania dan Arab Saudi yang kaya minyak itu. Tetapi kedua negara itu tetap mengambil sikap tidak turut ambil bagian dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh negara-negara penentang maupun dalam perundingan Camp David. Arab Saudi enggan ikut ambil bagian dalam perundingan Camp David karena persetujuan itu tidak memuat kesediaan Israel untuk mundur dari semua wilayah yang didudukinya sejak tahun 1967, terutama Yerusalem Timur. Selain itu, proses perdamaian itu juga tidak menyebutkan peranan PLO, padahal PLO sudah diakui sebagai satu-satunya wakil sah rakyat Palestina berdasarkan KTT Arab di Rabat pada tahun 1974.
Tetapi Arab Saudi juga menyatakan tidak memihak pada kelompok negara penentang, karena jika hal ini dilakukan, perpecahan negara Arab menjadi semakin serius. Sebagai negara cukong utama di dunia, berkat kekayaan minyaknya, wilayah Arab Saudi menjadi sangat rawan terhadap serangan. Oleh karena itu, negara ini selalu berusaha mencegah setiap bentuk perpecahan yang terjadi di negara-negara Arab. Dengan demikian, Arab Saudi sangat menjaga solidaritas Arab agar ia tetap dapat memainkan peranannya sebagai negara penengah. Yordania, pada pokoknya, menolak persetujuan Camp David karena melihat adanya dua kelemahan pokok dari perjanjian tersebut, yaitu tidak adanya kaitan yang jelas antara persetujuan Mesir-Israel dan penyelesaian masalah Palestina; dan tidak adanya ke¬tentuan yang menyatakan status final tepi barat Sungai Yordan dan Jalur Gaza. Sebaliknya, Yordania juga menolak ajakan kelompok negara Arab penentang untuk ikut bergabung di dalam kelompok itu. Hal-hal yang mendasari sikap Yordania itu adalah bahwa Raja Hussein melihat segi-segi positif dari persetujuan Camp David, misalnya pengucilan PLO. Pengucilan PLO memang menjadi kecenderungan politik Yordania, sebab Yordania sendiri sejak tahun 1972 telah merencanakan federasi agar daerah tepi ba¬rat Sungai Yordan dan Jalur Gaza dimasukkan ke dalam vvilayah bagian negara Yordania. Sementara itu, negara-negara Arab Semenanjung juga mempertanyakan masalah Palestina. Bagi negara- negara Arab yang mempunyai banyak penduduk bangsa Arab Palestina (misalnya Kuwait 20 persen, Qatar 22 persen, dan negara-negara Emirat Arab (UAE) 30 persen), sebetulnya semua pendatang Palestina sudah memiliki identitas sebagai pribadi yang  kuat dan kehidupan ekonomi yang cukup baik. Hal ini ditandai dengan banyaknya bangunan perumahan mereka di daerah pusat perekonomian. Meskipun demikian, mereka tetap sadar akan suatu rasa nasionalitas sebagai suatu bangsa dan terlibat dalam pemikiran eksistensi negeri asal mereka, Palestina. Berkat keberaniannya mengambil prakarsa perdamaian, Sadat mendapat Hadiah Nobel perdamaian dunia. Namun, karena prakarsanya itu pulalah ia mati ditembak oleh golongan Islam fundamentalis yang tidak puas dengan jalan yang diambilnya. Sadat ditembak pada tanggal 6 Oktober 1981, ketika ia memimpin suatu parade militer untuk memperingati serangan Suez pada Perang Oktober yang berkobar pada tahun 1973. Pada perang itu, Mesir berhasil meraih kemenangan, dengan menyeberangi Terusan Suez dan membebaskan sebagian Gurun Sinai dari pendudukan Israel. Presiden Husni Mubarak, pengganti Sadat, tidak mengubah garis politik perdamaian Mesir – Israel. Walaupun demikian, Presiden Mubarak tidaklah sepenuhnya mengikuti garis politik Sadat yang membawa Mesir ke jarak yang jauh dengan sebagian negara-negara Arab.

PENGERTIAN PERJANJIAN CAMP DAVID | ok-review | 4.5