PENGERTIAN PERILAKU KONSUMEN

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Ekonomi

Jadi apa kegunaan teori utilitas, kalau paradigma utama di kalangan para ekonom terpusat pada perilaku konsumen?┬áDalam tinjauannya yang sangat cemerlang mengenai perkembangan teori utilitas, Stigler (1950) menulis: “jika konsumen tidak mengurangi pembeliannya atas suatu komoditi ketika pendapatan mereka meningkat, maka mereka pasti akan mengurangi pembelanjaannya apabila harga komoditi itu naik”. Inilah produk utama dari rangkaian hipotesis mengenai perilaku ekonomi yang dianut oleh para ekonom yang sejak awal percaya bahwa kurva-kurva permintaan memiliki kecondongan negatif yang sangat independen dalam menyusun teori utilitasnya.Data mengenai perilaku konsumen telah berlipat-ganda sejak tahun 1950-an sehingga penghitungan biaya, angka-angka statistik dan berbagai studi tentang konsumen telah berkembang demikian pesatnya. Dalam waktu bersamaan substansi tinjauannya pun terus bertambah yang antara lain menjelma menjadi teori pilihan (choice theory) dan teori yang mencoba menyoroti fungsi-fungsi ganda antara struktur preferensi dan perilaku konsumen. Tinjauan moderen yang lebih komprehensif dalam teori pilihan dan penerapannya pada berbagai perilaku konsumen dapat ditemukan pada karya Deaton dan Muell-bauer (1980).Keberadaan fungsi utilitas ordinal yang didefinisikan atas sejumlah barang atau komoditi mengisyaratkan adanya aksioma-aksioma tertentu berkenaan dengan pilihan konsumen. Preferensi biasanya disajikan dalam bentuk fungsi biaya (cost function) yang menghitung biaya minimum pencapaian utilitas atau kepuasan tertentu bagi seorang konsumen berdasarkan harga-harga konstan. Fungsi tersebut berbentuk cekung terhadap besaran harga, dan derivasi harganya menjadikan tingkat pembelian konsumen sebagai fungsi harga dan tingkat utilitas yang selanjutnya menjelma sebagai permintaan (demand). Diferensiasi merupakan kata kunci untuk memahami preferensi perilaku konsumen yang senantiasa menghadapi kendala anggaran. Bentuk cekung tadi mengisyaratkan berlakunya hukum permintaan. Di samping itu masih banyak hal lain yang dapat kita petik dari bentuk-bentuk fungsi tersebut. Matriks derivasi harga bersifat simetris terhadap kebalikan angka-angkanya. Banyak penelitian ekonometrik yang telah dilakukan untuk menerapkan dan menguji teori perilaku konsumen tersebut. Sistem-sistem persamaan permintaan biasanya dirumuskan untuk mengetahui tingkat pembelanjaan agregat konsumen pada periode tertentu untuk berbagai kategori komoditi mulai dari makanan, pakaian, perumahan, bahan bakar dan sebagainya. Dewasa ini pemahaman mengenai kaitan antara perilaku individual dan agregat sudah lebih baik. Sebagai contoh, berdasarkan sejumlah asumsi yang ketat, perilaku rata-rata konsumen mirip dengan perilaku konsumen tunggal sehingga para peneliti dapat mengambil satu atau beberapa konsumen untuk mewakili keseluruhannya. Asumsi-asumsi mengenai struktur preferensi yang sering diterapkan mengandung implikasi yang lebih jauh. Antara lain, fungsi utilitas ternyata membatasi respon permintaan terhadap perubahan harga. Hal-hal tersebut telah dianalisis secara baik oleh Gorman yang dengan mengesankan menggunakan fungsi-fungsi biaya dan keuntungan untuk memberi penjelasan. Setiap tinjauan mengenai perilaku konsumen senantiasa dibatasi oleh asumsi-asumsi pengikat demi menyederhanakan pembahasan dan sekaligus untuk memudahkan penyusunan modelnya.
Dengan asumsi para konsumen dapat me-minjam atau meminjamkan modal dengan suku bunga yang sama, maka tingkat utilitas maksimum merupakan subyek dari kendala anggaran linier. Ini merupakan inti teori siklus hidup konsumsi yang dikembangkan oleh Modigliani dan rekan-rekannya. Mereka menyatakan bahwa setiap konsumen senantiasa mementingkan siklus hidup kekayaannya yang terdiri dari total aset yang dimiliki, pendapatan baru dan tingkat diskonto yang diharapkannya dari pendapatannya itu, yang selanjutnya harus diseimbangkan dengan harga-harga relatif berdasarkan suku bunga riil. Jika tinjauannya kita perluas ke permintaan uang dan barang-barang tahan lama, maka kita akan memperoleh petunjuk-petunjuk berharga, misal-nya mengenai peranan suku bunga. Perkiraan pendapatan merupakan aspek empiris yang paling kontroversial dalam teori ini. Penjelasan sederhana yang diberikan oleh Friedman dalam bukunya mengenai hipotesis konsumsi atas dasar pendapatan permanen, dan pendapatnya mengenai peran aset kini dianggap kurang memuaskan. Hall (1978) telah menunjukkan bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu model siklus hidup di atas dan juga perkiraan rasional sulit diterima karena mengisyaratkan bahwa konsumsi berlangsung tanpa pola yang jelas. Namun model itu tidak bisa dikesampingkan begitu saja karena terdapat bukti empiris yang kuat baginya. Salah satu kritik yang terarah terhadap teori siklus hidup itu adalah bahwa kendala anggaran sesungguhnya tidak bersifat linier karena konsumen bisa saja memperoleh kredit. Kntik ini cukup mengena meskipun implikasi-implikasinya dimodelkan berdasarkan data agregat yang tersedia. Perhatian mengenai kendala anggaran non-linier itu muncul dalam analisis perilaku yang sering digunakan dalam berbagai survei rumah tangga. Aspek penawaran tenaga kerja, pilihan masa kredit perumahan dan model-model transportasi di mana pilihan terbuka begitu luas. adalah contoh- contohnya. Kini kita juga dapat menemukan suatu kerangka kerja statistik integratif yang mengandung elemen-elemen rasional dan acak. Di sini pembatasan preferensi konsumen juga didukung oleh bukti empiris dan model itu pula yang mengungkapkan fakta bahwa pada tinjauan- tinjauan sebelumnya preferensi konsumen terlampau disederhanakan. Fungsi Engel yang mengaitkan tingkat pembelanjaan atas berbagai barang dengan total anggaran (berdasarkan data-data demografi rumah tangga) adalah salah satu bentuk upaya untuk mengoreksi hai tersebut. Cara lain untuk memperkaya teori adalah dengan menganggap rumah tangga sebagai produsen, jadi bukan sekedar konsumen, dan menggunakan pasar dan barang dan waktu sebagai bentuk komoditi tersendiri yang dapat menghasilkan utilitas atau kepuasan. Pendekatan produksi rumah tangga ini terbukti bermanfaat misalnya dalam pengukuran kualitas perubahan kesejahteraan. Minat mengenai bidang tersebut belakangan terus meningkat.
Hampir semua keputusan konsumen dibuat dalam kondisi ketidakpastian dan untuk memahami hal itu para ekonom menggunakan pendekatan utilitas. Probabilitas subyektif yang disusun berdasarkan aksioma-aksioma dalam pendekatan itu kemudian membiakkan teori-teori lainnya, seperti teori belajar (learning theory) konsumen yang lazim disebut sebagai Teorema Bayes. Unsur intuitif dari perilaku penghindaran resiko, oleh teorema tersebut dijadikan sebagai landasan formal teori serta aplikasinya untuk memahami perilaku konsumen di pasar uang. Sedangkan eksperimen di laboratorium yang melibatkan sejumlah responden sukarela telah dilangsungkan untuk mencari bukti, namun sampai sekian jauh belum ada kesimpulan yang cukup tegas yang dapat diambil. Pendekatan maksimalisasi utilitas itu sama sekali tidak bebas kritik. Sejumlah pengamat, melihat pendekatan itu terlalu meyakini informasi dan data-data yang sesungguhnya tidak konsisten. Namun seperti yang telah dikemukakan oleh H. A. Simon, teori atau pendekatan tersebut memang tidak terlepas dari unsur intuitif. Lagipula penafsiran terhadap perilaku memang bisa beragam. Para psikolog mencoba membantu dengan menawarkan konsep “disonansi kognitif” yang cukup menarik namun tidak dapat digunakan untuk menyusun teori perilaku yang bersifat umum. Sementara itu para peneliti pasar telah mengembangkan pendekatan-pendekatan mereka sendiri yang didasarkan pada penafsiran mereka atas temuan dari survei-survei sikap (attitude survey) yang dianalisis melalui konsep-konsep pemasaran dengan fokus utama pada pilihan merek, pola pembelian berulang-ulang, dan pengenalan varitas produk baru. Mereka telah mengembangkan pemikiran yang berbeda dari hipotesis maksimalisasi utilitas, meskipun jika dibandingkan dengan cermat, kedua pendekatan tersebut tidak sepenuhnya berlainan.

PENGERTIAN PERILAKU KONSUMEN | ok-review | 4.5