PENGERTIAN PERCERAIAN

By On Friday, October 18th, 2013 Categories : Psikologi

Perceraian adalah prosedur legal mengakhiri pernikahan. Tidak semua masyarakat atau negara mengizinkan perceraian (misalnya Republik Irlandia), namun kebanyakan negara Barat bukan hanya membolehkannya namun juga terus mengurangi batasan-batasannya sejak Perang Dunia Kedua (misalnya, penggugat cerai tak lagi harus membuktikan bahwa pasangannya berbuat serong) sehingga orang kian mudah bercerai. Hal ini bertolak dari pertimbangan bahwa hidup bersama dalam pernikahan harus didasarkan pada keikhaiasan. Jika rasa saling menyukai/membutuhkan tak ada lagi, maka pernikahan itu pun tidak perlu dipertahankan. Pada 1990, di lingkungan Uni Eropa, tingkat perceraian tertinggi ada di Denmark (12,8 kasus per 1 000pernikahan),disusulolehlnggris(12,6). .Angka tertinggi di dunia beradab tercatat di AS: kira-kira satu dari dua pernikahan kandas oleh perceraian. Namun data statistik saja tidak bisa dijadikan pegangan. Adalah keliru jika kita menganggap perpisahan tidak banyak terjadi di negara yang angka perceraiannya rendah. Sebagai contoh, di negara-negara yang agama utamanya adalah katolik, yang secara tegas melarang perceraian, secara resmi angka perceraiannya memang relatif rendah, akan tetapi praktek perpisahan suami-istri belum tentu merupakan sesuatu yang langka. Lonjakan angka perceraian di berbagai masyarakat Barat mulai nampak seusai Perang Dunia Kedua. Hal ini sering dikaitkan dengan penurunan standar moral yang semula dijunjung tinggi, dan memicu kekhawatiran tentang keutuhan masyarakat. Keprihatinan ini terus berlanjut pada 1990- an, dengan tambahan dua faktor lagi, yakni: hubungan antara perceraian dan kemiskinan, khususnya bagi wanita dan anak-anak; serta resiko anak-anak yang orang tuanya bercerai.
Jelaslah bahwa perceraian mengakibatkan kemiskinan; paling tidak, satu periuk nasi telah pecah menjadi dua sehingga biaya yang diperlukan berlipat (Eekelar dan Maclean, 1986; Weitz- man, 1985). Masalah ini sangat terasa jika ada anak-anak, dan yang mencari nafkah hanya satu orang. Kaum wanita lebih berresiko memikul penderitaan karena biasanya bukan mereka yang menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga, dan merekalah yang biasanya diserahi tugas mengasuh anak (lebih lanjut beban ini juga menyulitkan mereka memperoleh pekerjaan tetap). Skema pensiun dan tunjangan kesejahteraan dari pemerintah juga kacau jika perceraian terjadi. Jadi, perceraian selalu membawa potensi kemiskinan laten jangka panjang bagi kaum wanita dan anak-anaknya, apalagi jika mereka tidak menikah lagi. Kemudian tentang kesejahteraan anak-anak yang orang tuanya berpisah. Yang terganggu bukan saja kesejahteraan fisik/materi, namun juga kesejahteraan emosional atau rohani. Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal (biasanya ibu) jelas tak dapat menikmati proses perkembangan mental seperti teman-temannya yang orang tuanya lengkap. Ini merupakan salah satu fokus utama dalam riset-riset tentang perceraian. Pada 1960-an dan 1970-an terjadi pergeseran penekanan. Kini yang lebih ditonjolkan adalah resiko pengasuhan anak sendirian. Ibu-ibu yang bekerja, meskipun kasih sayangnya terhadap anak-anaknya tidak perlu diragukan, terbukti sulit mengasuh anaknya sendirian. Karena itu di banyak negara seperti AS, Australia, dan Selandia Baru. terdapat peraturan yang mengharuskan para ayah ikut mengasuh anaknya  setidaknya mengunjunginya secara rutin meskipun ia sudah bercerai dari ibu si anak, dan aturan yang mewajibkan para ayah memberi santunan yang layak (misalnya Child Support Act 1991 di Inggris dan Wales). Kebijakan seperti ini memang bisa meringankan beban wanita dan anak-anak akibat perceraian, namun ada kalanya hal ini bisa berdampak negatif, misalnya memperbesar dorongan bagi kaum wanita untuk bercerai. Inilah yang membuat gagasan yang menyarankan negara atau pemerintah memberi tunjangan bagi ibu-ibu bercerai (dengan anak-anak) sulit diwujudkan.

PENGERTIAN PERCERAIAN | ok-review | 4.5