PENGERTIAN PENYIMPANGAN PERILAKU MENURUT SOSIOLOG

By On Thursday, October 17th, 2013 Categories : Psikologi

Meskipun istilah “penyimpangan” sudah dipakai selama 300 tahun, makna sosiologisnya baru muncul belakangan. Para sosiolog dan kriminolog mengartikannya sebagai perilaku yang dilarang, dibatasi, disensor, diancam hukuman, atau yang dianggap buruk sehingga istilah ini sering dipadankan dengan “pelanggaran aturan”. Cakupannya lebih luas daripada kriminalitas, meskipun perbedaan antara kedua istilah ini tidak sepenuhnya jelas. Dalam sosiologi telah banyak riset yang dilakukan untuk memahami penyimpangan, dengan berbagai obyek studi pelaku tindakan yang dianggap menyimpang, mulai dari para pencuri, pemerkosa, pembohong, pecandu obat-obatan, dan se bagainya. Dalam prakteknnya, penafsiran awam selalu dipakai karena hai itu lebih fleksibel, mengingat makna penyimpangan itu selalu berubah. Apa yang dulu dianggap menyimpang, bisa jadi sekarang dianggap sebagai hal yang wajar. Dalam pengertian awam. tidak ada batasan makna yang baku bagi istilah “penyimpangan”. Bahkan istilah ini tidak dipakai secara eksplisit. Masyarakat mengenal generasi punk, pecandu obat, pembohong bawaan, dan seterusnya, namun mereka jarang disebut pelaku penyimpangan. Hanya para sosiolog yang merangkumnya dengan label tersebut. Ketidakjelasan makna penyimpangan memunculkan berbagai macam tafsiran di kalangan sosiolog. Meskipun banyak yang mencoba membakukan definisinya, dalam prakteknya setiap sosiolog punya pemahaman sendiri (bersifat ad hoc) atas istilah ini. Karena ada ilmuwan seperti Liazo yang mempertanyakan integritas intelektual istilah ini. Phillipson menjawab bahwa kebutuhan untuk memuaskan rasa ingin tahu. memahami apa yang terlihat aneh merupakan alasan yang sahih bagi sosiolog; untuk mengadakan kajian ilmiah atas istilah tersebut. Sejumlah sosiolog memang memusatkan perhatian pada perilaku yang dianggap aneh. Matza, misalnya, mengaitkan penyimpangan dengan “evaluasi majemuk, pergeseran standar penilaian, dan ambivalensi moral”. Dalam bukunya yang berjudul Becoming Deviant 1969; ia mengupas kontur khusus berbagai perilaku yang dianggap tak lazim, yang diyakininya merupakan fenomena cerminan dari ketidakkonsistenan dan dinamika sosial. Garfinkel (1967). Goffman (1963) dan sejumlah ilmuwan lainnya menyajikan perspektif baru, dengan melihat penyimpangan sebagai cerminan upaya penyesuaian diri sebagian anggota masyarakat dalam mengatasi persoalannya, yang ada kalanya berbenturan dengan standar-standar umum. Pengakuan atas arti penting sekaligus kekaburan makna deviasi atau penyimpangan itu dapat dilihat pada berbagai essay strukturalis dan fenomenologis. Di situ dikatakan bahwa makna hakiki penyimpangan sangat relatif. Apa yang dianggap aneh di tempat dan waktu tertentu, belum tentu demikian di tempat dan waktu lain. Scott (1972) mengatakan: “Ciri penyimpangan terletak pada penilaian pihak lain yang menganggapnya aneh”. Penyimpangan dipersoalkan karena dipandang sebagai gangguan. Di sini terlihat perbedaan “fenomenologis” sosiolog Marxis dan radikal yang melihat penyimpangan sebagai unsur baku dalam masyarakat yang selalu mengandung benih konflik dan, meminjam istilah Gouldner (1970), secara sosial terlalu mementingkan kekuasaan”. Sedangkan kaum fenomenologis melihat penyimpangan semata-mata sebagai ekspresi dinamika struktur sosial yang lentur dan bisa berubah. Apa yang sudah bisa dipastikan adalah, penyimpangan ini mengungkap keragaman tinjauan dalam sosiologi. Misalnya, definisi sosiologis ternyata tidak netral dan mandiri. Selalu ada kepentingan dan ideologi tertentu yang berpengaruh. Berikut ini adalah contoh-contoh penafsiran “penyimpangan” yang menggarisbawahi keragaman itu. Mungkin definisi paling elementer dari istilah “penyimpangan” adalah perilaku yang frekuensi kejadiannya, secara statistik, relatif rendah. Ini kontras dengan perilaku “normal” yang frekuensinya sangat tinggi. Pengertian inilah yang digunakan dalam psikologi klinis. Namun diakui bahwa pengertian ini pun mengandung kelemahan, yakni tidak cocok dengan fakta bahwa ada tindakan tertentu yang sering dilakukan namun tetap disebut penyimpangan. Jumlah perilaku, misalnya, kian banyak, namun secara umum hal itu tetap dianggap penyimpangan.
Defisini menonjol berikutnya diberikan oleh kaum sosiolog Marxis, meskipun mereka sendiri tidak terlalu mempersoalkannya. Mereka melihat perilaku penyimpang sebagai bagian dari proses menentang struktur sosial, termasuk ekonomi politik, yang dominan. Hirst (1975), Bankowski et al (1977) dan Mungham menyatakan secara tegas bahwa penyimpangan tidak perlu dibahas terlalu jauh, karena bisa mengacaukan konsentrasi kajian Marxis, yakni tentang perjuangan kelas. Karena itu dalam perkembangan selanjutnya, para sosiolog Marxis seperti Hill (1961), Thompson (1975) dan Hobsbawn (1965), yang berminat mempelajari penyimpangan selalu mengaitkannya dengan perjuangan kelas dan aspek-aspek kenegaraan. Mereka mengembangkan sejarah sosial kriminalitas terhadap tentangan masyarakat terhadap berkembangnya kapitalisme di Inggris. Hall et al (1976), Cohen (1972) dan Willis (1977) menyoroti penyimpangan di kalangan pemuda yang mereka katakan sebagai suatu bentuk protes dan wujud penolakan terhadap struktur yang menindas. Sumner (1976) melihat adanya kesamaan bentuk-bentuk penyimpangan untuk menentang ideologi kapitalis, sedangkan Taylor (1980) berusaha melacak asal-mula penyimpangan sebagai wujud tekanan terhadap kapitalisme di ambang krisisnya; Platt (1978) dan Quinney (1975) mendudukkan fenomena penyimpangan sebagai simbol perlawanan mereka yang kalah dalam pertikaian antar-kelas. Box dan Pearce justru berpendapat penyimpangan merupakan dalih kaum kapitalis untuk menutupi borok-boroknya sendiri. Terakhir, Lea dan Young (1948) berusaha menyoroti penyimpangan sebagai fenomena tersendiri, sekalipun ciri khas Marxisme tetap terasa.
Definisi menonjol yang ketiga adalah yang diberikan oleh aliran fungsionalisme, Tokoh utamanya adalah Talcott Parsons (1951), yang pada intinya menyatakan bahwa penyimpangan merupakan suatu cara untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan keadaan, atau persepsi terhadap keadaan. Dalam perkembangan selanjutnya, jika penyesuaian itu berjalan lancar, maka apa yang semula dianggap penyimpangan itu akan diterima sebagai perilaku normal. Parsons (1951) juga berfokus pada bentuk khusus penyimpangan, yang disebutnya “peran sakit” (sick role). Menurut pendapatnya, penyimpangan seperti ini sesungguhnya dimaksudkan sebagai pertanda dari orang yang bersangkutan bahwa ia memerlukan perhatian ekstra atau pertolongan demi memperbaiki posisi sosialnya, atau memperbaiki penghargaan terhadap diri sendiri. Secara lebih spesifik, pendapat para fungsionalis tentang penyimpangan sangat bervariasi, dan aspek yang ditonjolkan pun berbeda-beda. Durkheim (1933) menyoroti semangat solidaritas dalam perilaku yang menentang aturan. Erikson (1966) melihat peran pelaku penyimpangan dan agen-agen kontrol sosial sebagai pelaku-pelaku utama yang terlibat dalam dinamika moral masyarakat. Kedua merupakan pasangan, karena sesuatu yang baik itu ada jika ada hal lain yang disebut jelek, dan hal-hal yang bermoral bisa diketahui jika kita tahu apa yang tidak bermoral. Jadi, penyimpangan sebenarnya berfungsi pula memelihara tatanan masyarakat. Bell (1960) dan Merton (1957) berbicara tentang peran yang dimainkan oleh kejahatan terorganisir seperti mafia di Amerika, yang terbukti telah berjasa menyentakkan kesadaran masyarakat akan berbagai kebobrokan politik dan ekonomi di sekitar mereka, serta mendorong mereka untuk segera mengadakan reformasi. Davis (1961) menyoroti peran serupa yang dimainkan oleh institusi prostitusi. Jadi, intinya, kaum fungsionalis menonjolkan hubungan simbiosis antara keteraturan dan penyimpangan. Di samping itu masih banyak pendapat lain. Kaum feminis mencoba mengartikan penyimpangan dalam konteks emansipasi, sedangkan para teorisi kontrol mengaitkan penyimpangan dengan gejolak sosial yang harus diatasi demi mempertahakan ketertiban. Para ekolog juga mempelajari penyimpangan, dan mereka melihatnya dalam kerangka lingkungan hidup dan orang-orang yang menghuninya. Sama halnya dengan para tokoh fungsionalisme atau Marxisme, mereka punya penafsiran sendiri-sendiri. Sosiologi penyimpangan erat kaitannya dengan interaksionisme simbolik, teori label, dan fenomenologi yang berkembang pada 1960-an. Keeratan itu bertolak dari kemiripan metode, sejarah dan fokus. Jadi, penyimpangan bukan sekedar tindakan melanggar aturan, namun juga berkenaan dengan bagaimana tindakan itu berlangsung atau dilaksanakan. Mereka yang menekuni studi penyimpangan pada akhir 1950- an, 1960-an dan 1970-an berusaha keras agar tidak disamakan dengan bidang studi para kriminolog yang mereka sebut kaum positivis dan koreksionalis. Mereka berusaha menjaga jarak, dengan memperluas bidang kajian mencakup setiap tindakan yang bisa disebut sebagai penyimpangan (tidak sekedar kejahatan obyek para krimonolog yang merupakan penyimpangan ditinjau dari sudut legal). Mereka juga berusaha melacak hakikat, sebab-sebab dan dampak penyimpangan dalam konteks yang seluas-luasnya. Upaya ini masih berlanjut hingga sekarang, karena model-model yang telah dikembangkan sampai sejauh ini memang masih terbatas. Sebagai rangkuman, perlu dicatat makna arti penting utama istilah penyimpangan terletak pada makna konotatifnya, bukan makna denotatifnya. Kesadaran mengenai hal itu menandai munculnya fokus baru sosiologi pada 1960-an, yang momentumnya dapat dikenali dengan dibentuknya American Society for the Study of Social Problems dan British National Denancy Conference serta munculnya tulisan-tulisan Howard Becker (1963). David Matza dan Stanley Cohen. Aspek-aspek hukum diperluas ke berbagai aspek lain. mulai dari moral hingga politik. Sampai sekarang, obyek-obyek kajiannya tetap seperti semula, sekalipun belakangan ini muncul fokus pada penyimpangan dalam kaitannya dengan pembuatan peraturan dan penegakan hukum. Dampak perkembangan bidang baru sosiologi penyimpangan itu cukup besar. Mereka turut menyegarkan krimonologi ortodoks, serta memperbaiki unsur analitis dan empirisnya. Di sisi lain, ilmu ini juga kian banyak mendapat pengaruh dari disiplin lain karena aspek yang dicakupnya kian luas. Pada 1980-an, topik-topik yang diminati adalah penyimpangan atau kekacauan masyarakat (civildisorder), disorganisasi sosial, kejahatan terhadap kaum wanita, kaum minoritas (khususnya kulit hitam) dan anak-anak, serta kajian tentang korban kejahatan yang semula hanya disimak oleh para kriminolog. Karena itu pula, perbedaan antara krimonogi dan sosiologi penyimpangan semakin lama semakin kabur, dan istilah penyimpangan itu sendiri kian tidak baku.

PENGERTIAN PENYIMPANGAN PERILAKU MENURUT SOSIOLOG | ok-review | 4.5