PENGERTIAN EKONOMI DAN PENGANGGURAN

By On Monday, October 21st, 2013 Categories : Antropologi

Konsep employment (penyerapan tenaga kerja, yang biasanya hanya mencakup tenaga kerja) dan pengangguran mudah didefinisikan bagi sebuah perekonomian kapitalis yang sudah maju, karena perekorvomian ini sudah memiliki pasar tenaga kerja yang cukup mapan. Di sini, employment diartikan sebagai kegiatan bekerja selama paling tidak satu jam dalam seminggu, dengan imbalan pembayaran tertentu, baik itu upah atau keuntungan usaha atau komisi, atau tanpa imbalan langsung jika orang yang bersangkutan bekerja dalam bisnis keluarga. Definisi ini tidak memasukkan orang-orang (khususnya wanita) yang bekerja keras tetapi tak pernah mendapat pembayaran atas kerja kerasnya itu. Sementara itu, pengangguran (unemployment) diartikan sebagai kondisi tidak bekerja dan tengah mencari pekerjaan. Namun jika diterapkan pada sektor informal, misalnya penjual rokok atau pedagang asongan, istilah ini menjadi rancu. Di banyak negara, orang-orang yang tidak bekerja tidak akan mencari pekerjaan kalau pekerjaan itu memang tidak tersedia; mereka biasanya tidak dimasukkan ke dalam angkatan kerja (secara teknis, ini sekedar ditunjukkan sebagai penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja). Karena konsep pengangguran itu tidak sepenuhnya jelas, maka para ekonom tenaga kerja/perburuhan (labour economist) terkadang memakai konsep rasio employment-populasi, atau rasio antara penduduk dan mereka yang tidak bekerja (mereka tidak disebut secara eksplisit sebagai pe-ngangguran). Di negara-negara OECD, dekade-dekade pertama seusai Perang Dunia Kedua ditandai oleh lonjakan pertumbuhan sektor jasa, dan turunnya peran sektor industri dan pertanian. Keterlibatan kaum wanita di dunia kerja secara paruh waktu meningkat, sedang angka total pria yang bekerja secara penuh turun. Jenis-jenis pekerjaan kerah putih meningkat, sedangkan kerah biru merosot. Setelah sempat mencapai kondisi full employment pada 1950-an dan 1960-an, kebanyakan negara OECD tak sanggup meredam lonjakan pengangguran (diartikan sebagai kondisi tidak bekerja selama 12 bulan atau lebih). Hanya Jepang dan, dalam taraf yang lebih rendah. AS, yang terbebas dari masalah itu. AS bisa mengatasi pengangguran dengan cara yang mahal, yakni menekan upah sehingga jumlah pekerja miskin bertambah, dan sektor informal yang lazimnya tumbuh di negara berkembang, mulai muncul. Dalam ilmu ekonomi konvensional, employment semata-mata ditentukan oleh penawaran dan permintaan tenaga kerja, yang pada gilirannya selalu dipengaruhi oleh faktor-faktor produksi lainnya (bahan mentah, modal). Tenaga kerja dinyatakan bebas untuk bekerja atau tidak, sehingga pasar tenaga kerja dan pengangguran adalah dua hal berbeda. Dalam teori-teori Keynes dan pasca Keynes. upah tidak sepenuhnya menentukan karena employment lebih dipengaruhi oleh permintaan; jika permintaannya terbatas, maka akan terjadi kelebihan penawaran, dan kelebihan itulah pengangguran. Full employment diartikan sebagai kondisi di mana segenap sumber daya, khususnya tenaga kerja, terserap sepenuhnya (permintaan dan penawarannya sama, berdasarkan tingkat upah tertentu). NAIRU mencoba mempertajam konsepsi itu dengan menambahkan syarat non-inflasioner. Tentu saja pengangguran tetap ada. namun itu dianggap sebagai sesuatu yang alamiah, misalnya masa tenggang ketika seseorang berganti pekerjaan. Ada istilah hysteresis, yakni lonjakan pengangguran hingga berlarut-larut yang mengacaukan pasar tenaga kerja. Dalam konsepsi NAIRU, hal itu mengakibatkan kemerosotan upah. Para ekonom klasik justru melihat bahwa employment dan pengangguran merupakan paduan yang selalu hadir bersama, dan mana yang muncul lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor eksogen sehingga fenomena pengangguran hebat takkan terjadi. Pendapat ini didukung oleh data empiris selama beberapa abad. Pengangguran dapat dipilah-pilah menjadi pengangguran musiman, friksional (kesenjangan antara ketersediaan tenaga dan lapangan kerja), siklus (akibat perubahan permintaan agregat), dan struktural (akibat pembahan struktur ekonomi berjangka panjang, termasuk adanya kemajuan teknologi penghemat tenaga kerja). Ada pula pengangguran terselubung (terjadi di masa resesi. atau mereka yang hanya bekerja kecil-kecilan) dan pengangguran terbuka. Lalu ada semi-pengangguran (under employment) yakni orang- orang yang bekerja di bawah kapasitas optimalnya (mereka yang terpaksa menerima pekerjaan di bawah standar, baik standar waktu maupun standar imbalan). Penjelasan yang sering dikemukakan atas terjadinya pengangguran dan fluktuasinya bertumpu pada beberapa variabel sebagai berikut: permintaan agregat, perubahan teknologi dan struktural, kekakuan upah, masalah informasi, dan penawaran agregat. Ada pendapat pengangguran di OECD lebih disebabkan oleh tumbuhnya perekonomian negara-negara industri baru (Korea Selatan, Singapura, Thailand, dan lain-lain) yang upahnya murah sehingga para pengusaha memindahkan pabrik-pabriknya ke sana. Aliran Keynes menjelaskan pengangguran sebagai kurangnya permintaan agregat atas berbagai barang dan jasa dengan kondisi pasar tenaga kerja. Marx dan Schumpeter melihat pengangguran bersifat siklus yang selalu berjalan seiring dengan fluktuasi investasi, teknologi dan struktural yang inheren dalam sistem ekonomi kapitalis. Marx juga melihat bahwa pengangguran acapkali disengaja untuk mengerem kenaikan upah. Sedangkan para ekonom neo-klasik melihatnya sebagai dampak misinformasi; sebagian orang tidak bekerja semata-mata karena ia tidak tahu lapangan kerja yang tersedia, atau karena ia memutuskan untuk tidak bekerja jika insentifnya dianggap tidak memadai. Namun penjelasan ini tidak sesuai dengan fakta seringnya terjadi lonjakan pengangguran yang meresahkan banyak negara. Kebanyakan teori pengangguran tidak mem-perhitungkan dampak perubahan upah. Para ekonom neo-klasik sudah puas dengan asumsi kekakuan harga. Ada yang melihat upah tak perlu dipersoalkan karena dalam kenyataannya upah tidak berfluktuasi begitu saja melainkan ditetapkan melalui negosiasi antara pekerja dan majikan. Pada 1980-an dan 1990-an teori-teori employment dan pengangguran berfokus pada ciri- ciri pasar tenaga kerja dan peranan upah sebagai sumber insentif. Jadi. upah bukan sekedar penyeimbang pasar, melainkan juga sumber perubahannya, dan ini kontras dengan pendapat sebelumnya mengenai upah. Model-model efisiensi upah seperti ini mengatakan bahwa untuk memacu efisiensi upah sering ditetapkan lebih tinggi daripada seharusnya; karena peminatnya banyak, majikan mudah memecat siapa saja yang mutu kerjanya tidak sesuai dengan harapannya. Ada yang mengatakan upah sengaja dipasang tinggi untuk menekan pergantian pekerja yang bisa mengganggu kelancaran produksi. Akerlof sendiri menyatakan kebiasaan sosial ikut berperan: upah sengaja dibuat lebih tinggi, dan pekerja diharapkan (dan bersedia) melakukan lebih banyak kerja ketimbang yang tertera dalam kontrak. Pengangguran membebankan biaya tersendiri bagi perekonomian secara keseluruhan, khususnya berupa penurunan GDP sekarang maupun di masa mendatang, susutnya sebagian uang pajak, hilangnya sumber nafkah keluarga, dan pukulan fisik, mental dan sosial yang adakalanya memicu kriminalitas. Banyak pemerintahan di lingkungan OECD telah melepaskan komitmennya untuk mencapai full employment yang memang nyaris mustahil itu. Mereka berusaha meyakinkan diri bahwa pengangguran akan teratasi oleh pasar secara otomatis. Namun belakangan ada usaha untuk memperbaiki kondisi pasar tenaga kerja (misalnya dengan membuatnya lebih fleksibel, penerapan aturan tentang rekrutmen dan pemecatan pekerja, pelemahan peran serikat buruh, pengadaan program latihan dan pendidikan ulang, deregulasi pasar tenaga kerja, dan sebagainya) agar lonjakan pengangguran dapat dihindari.

PENGERTIAN EKONOMI DAN PENGANGGURAN | ok-review | 4.5