PENGERTIAN PEMBANGUNAN EKONOMI

By On Friday, October 18th, 2013 Categories : Ekonomi

Masalah sentral dalam studi tentang pembangunan ekonomi telah beralih ke “apa saja wujud pembangunan ekonomi di suatu masyarakat?” Selama sekitar 20 tahun sejak 1945, tema yang diutamakan adalah bagaimana memacu pendapatan nasional (indikator utama kemajuan pembangunan). Itu dikarenakan ada keyakinan bahwa jika pembangunan berlangsung maka berbagai kemajuan ekonomi (dan sosial) akan mengikuti.
Inti pembangunan dinyatakan terjelma menjadi serangkaian proses sebagai berikut:
1. Pangsa investasi dalam belanja nasional akan meningkat, sehingga memperbesar stok modal per individu yang bekerja.
2. Struktur produksi nasional berubah, menjadi lebih beragam; pangsa industri, sektor utilitas dan jasa akan meningkat dibandingkan dengan pangsa sektor pertanian dan produksi primer lainnya.
3. Sektor perdagangan luar negeri tumbuh, khususnya ekspor manufaktur.
4. Anggaran pemerintah terus membesar karena keterlibatan langsungnya dalam pembangunan berbagai sarana infrastruktur ekonomi dan sosial. Sementara itu berlangsung pula serangkaian per-ubahan dalam struktur sosial yang mencakup:
5. Penduduk terus bertambah karena tingkat kematian turun di bawah tingkat kelahiran. Transisi demografi terjadi. Kesehatan membaik, yang nantinya membuat angka kelahiran terkontrol, mengimbangi penurunan angka kematian.
6. Penghuni perkotaan semakin banyak, bahkan melebihi penghuni daerah pedesaan.
7. Tingkat melek huruf, penguasaan aneka kecakapan dan tingkat pendidikan akan mengalami kenaikan.
Konseptualisasi pembangunan ekonomi sebagai hubungan timbal balik antara akumulasi modal, industrialisasi, pertumbuhan peran ekonomi pemerintah, urbanisasi dan pendidikan, yang didukung dengan tinjauan data statistik historis, masih mewarnai tulisan-tulisan kontemporer. Ada pendapat bahwa hal kecenderungan seperti itu tidak bisa diteruskan, karena nantinya hanya menjadi tinjauan historis yang mekanistik dan deterministik. Kini tidak semua ilmuwan sepakat bahwa pembangunan adalah suatu proses yang memacu pendapatan nasional. Lagipula, pengutamaan laju pertumbuhan dan pendapatan nasional mulai diimbangi oleh perhatian yang lebih mementingkan aspek distribusinya mengingat dalam prakteknya kemajuan pembangunan acapkali dibarengi dengan memburuknya ketimpangan kesejahteraan. Karena itu makna pembangunan ekonomi mulai dipisahkan dari istilah pertumbuhan ekonomi. Dalam pembangunan, indikator pertumbuhan harus dibarengi dengan indikator perubahan sosial yang nantinya diharapkan menjelma sebagai peningkatan tarah hidup sehari- hari bagi sebagian besar penduduk.
Dari situ berkembang berbagai pendapat mengenai apa saja yang harus dipentingkan dalam pembangunan. Salah satu pendapat yang menonjol adalah perlunya diutamakan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar mulai dari pangan, papan, air bersih, pakaian dan perlengkapan rumah tangga. Ada pula yang berfokus pada tabel-tabel harapan hidup dan statistik kesejahteraan pokok. Tersedianya pendidikan yang terjangkau juga mendapat perhatian. Kemudian muncul pula istilah distribusi “peluang untuk sejahtera” yang diikuti oleh pendapat yang menghubungkan kebebasan politik dengan pembangunan. Mana yang ;ebih mendukung pembangunan, pemerintahan yang demokratis ataukah yang otoriter. Pengalaman Uni Soviet dan RRC membuat tidak ada negara mengimpikan pemerintahan otoriter untuk memimpin pembangunan, namun keberhasilan sejumlah negara Asia Timur yang otonter dalam memacu pembangunan juga membungkam para teorisi liberal yang menyatakan kebebasan politik sebagai syarat keberhasilan pembangunan. Kerumitan itu ditambah lagi dengan ketiadaan parameter baku untuk mengukur kaitan antara pembangunan dan rezim politik. Dari berbagai dokumen yang ada, belum ada tinjauan tuntas mengenai hal itu. termasuk dokumen internasional terpenting mengenai pembangunan, yakni seri Human Development Report yang diterbitkan UNDP (1990-). Masalah tentang makna hakiki pembangunan menjalar ke masalah konseptualisasi proses pem-bangunan. Dari sekian banyak model, mungkin yang paling terkenal adalah yang dirumuskan oleh Sir Arthur Lewis (1954) yang mencoba memadukan penekanan pada laju pertumbuhan pendapatan dan distribusinya. Asumsi-asumsi kuncinya adalah adanya surplus pertanian (dalam pengertian produk marginalnya sudah sama dengan nol) yang didukung oleh teknologi yang tepat, sektor industri yang sekurang-kurangnya bisa memberi upah subsisten yang membantu penyerapan tenaga kerja Transfer tenaga kerja dari sektor pertanian ke industri pada tingkat upah konstan (dengan atau tanpa migrasi fisik) akan memudahkan para kapitalis industri meningkatkan pangsanya dalam total pendapatan nasional, meraih laba yang layak dan memungkinkan mereka mereinvestasikan keuntungannya itu untuk memperbesar lagi output nasional. Jadi Lewis mencoba menjelaskan apa yang semula dianggap teka-teki pembangunan, yakni suatu proses yang merombak perekonomian menjadi lebih baik. yakni dari yang dapat menabung dan menginvestasikan 4-5 persen pendapatannya menjadi perekonomian yang sanggup menyisihkan 12-15 persen pendapatannya untuk tabungan dan investasi. Model Lewis dapat dikembangkan lebih jauh guna menjelaskan aspek-aspek lainnya dari pembangunan. Jika transfer tenaga kera melibatkan migrasi fisik, urbanisasi akan menyusui Jika para kapitalis punya mentalitas sebagai penumpuk modal (seperti diyakini Lewis), maka mereka akan dapat beroperasi di sektor publik maupun swasta dalam memacu output nasional. Jika penyerapan tenaga kerja industri mensyaratkan kecakapan dan pendidikan tertentu, maka pendidikan akan terpacu dan membuka iaian bagi perubahan- perubahan sosial, termasuk transisi demografi. Kebanyakan literatur tentang pembangunan ekonomi di masa sesudahnya bisa dikatakan hanya merupakan pengembangan model Lewis. Model-model baru mulai muncul ketika para ekonom neo-klasik mulai mengritik asumsi-asumsi model Lewis. Antara lain mereka mempertanyakan keberadaan produk marginal nol pada angkatan kerja pertanian, dan transfer tenaga kerja tanpa kenaikan upah riil. Tinjauan atas migrasi desa-kota memunculkan variasi baru yang lain dari model Lewis. Fokus tajam model Lewis pada formasi modal fisik juga sangat dipertanyakan. Sebagian kritisi bahkan menolak perlunya formasi seperti itu untuk kelangsungan pembangunan. Kritik yang tidak terlalu ekstrim mengajukan formasi modal (sumber daya) manusia¬† peningkatan ketrampilan dan pendidik an sebagai alternatif. Hasilnya adalah pengakuan bahwa modal fisik dan manusia sama-sama diperlukan untuk menunjang pembangunan.
Batasan sektoral investasi yang dikemukakan Lewis juga mengundang reaksi. Meskipun lebih sempit ketimbang model Dobb (1955) dengan memberikan prioritas investasi untuk sektor industri, model Lewis sepintas lalu memang mengabaikan sektor pertanian, padahal kegagalan pertanian dapat mengakibatkan penurunan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan yang pada akhirnya mengacaukan keseluruhan pembangunan. Ini telah terbukti di negara-negara berkembang. Perdebatan tentang sektor mana yang lebih penting beralih ke diskusi tentang analisis kelayakan proyek yang menentukan prioritas sektoral. Intinya, ini adalah suatu hitungan profitabilitas sosial yang memberi bobot pada masing-masing sektor. Patut dicatat bahwa logika perhitungan harga sosial tenaga kerja yang dirumuskan oleh Little dan Mirrlees itu didasarkan pada konsepsi Lewis tentang transfer tenaga kerja pertanian-industri. Model Lewis mengakui adanya peluang bagi kapitalisme negara untuk mengimbangi kapitalisme swasta. Artinya, Lewis mengakui pentingnya peran negara dalam pembangunan yang mungkin tidak sesuai dengan “fungsi-fungsi tradisional” pemerintahan dalam kacamata teorisi liberal yang melihat ekonomi sebagai porsi swasta. Ini lalu membangkitkan kontra-revolusi dalam pemikiran pembangunan pada 1980-an. Dalam model Lewis, peran perdagangan internasional relatif tidak penting. Ini mencerminkan pesimisme para pionir teori pembangunan seperti Prebisch (1959) dan Singer (1950) yang mencurigai perdagangan internasional sebagai wahana untuk melanggengkan kekayaan negara maju dan kemiskinan negara berkembang. Kecurigaan itu sendiri beralasan karena didasarkan pada observasi atas keberhasilan ekonomi isolasi seperti Jepang di zaman Meiji (Baran 1973) dan Amerika Latin pada 1930-an (Frank 1969). Belakangan ini, perdagangan internasional justru diakui sangat penting setelah sejumlah perekonomian Asia Timur seperti Korea Selatan dan Taiwan bisa maju begitu pesat berkat lonjakan ekspor manufakturnya. Namun perdebatan masih berlangsung, kali ini terpusat pada jenis perda-gangan yang terbaik, apakah perdagangan bebas atau perdagangan selektif yang didasarkan pada intervensi pemerintah. Transfer bersyarat modal dan teknologi dari negara maju ke negara berkembang sesuai dengan penekanan Lewis pada pentingnya formasi modal fisik sebagai kunci pertumbuhan dan distribusi pendapatan. Namun belakangan efektivitas transfer itu sendiri diragukan, karena dalam kenyataannya transfer itu tidak memberi kontribusi yang menentukan bagi keberhasilan pembangunan. Lebih mudah menyepakati tingkatan keberhasilan pembangunan yang harus dicapai ketimbang metode untuk mewujudkannya. Bahwasanya kini banyak negara miskin dahulu sempat menikmati pertumbuhan ekonomi dan perubahan struktural sejak 1945 telah disepakati. Namun apa yang membuat mereka tetap miskin sampai sekarang masih diperdebatkan. Debat tentang melebarnya kesenjangan antara negara miskin dan kaya juga masih berlangsung meskipun peminatnya tidak sebanyak dulu. Tolok ukur kemiskinan juga menjadi ajang debat tersendiri, karena kegunaan dan keseragamannya memang sudah bergeser. Kini, sesama negara berkembang pun punya pendapatan yang berlainan. Bahkan, ada negara yang tergolong berkembang tetapi punya pendapatan lebih tinggi ketimbang negara yang tergolong sebagai negara maju. Di tengah hiruk-pikuk perdebatan itu, ada kesepakatan bahwa sebagian negara dan kawasan terus terlilit kemiskinan seperti kawasan sub-Sahara Afrika, beberapa negara di Asia Selatan, Amerika Tengah dan Latin, dan mereka itulah yang paling perlu dibantu. Akar kemiskinan mereka, lagi-lagi. masih diperdebatkan, mulai dari ledakan penduduk, lahan yang tidak subur, krisis sosial dan politik yang berlarut-larut, kekacauan perumusan kebijakan, hingga kelalaian lembaga internasional dalam membantu mereka. Pertambahan cepat penduduk dunia membuat jumlah orang di bawah garis kemiskinan terus bertambah, sekalipun persentasenya telah turun. Di tengah maraknya pembangunan ekonomi di seluruh dunia, kemiskinan masih melilit banyak tempat. Ke sanalah seharusnya tinjauan teoretis dan praktis diarahkan.

PENGERTIAN PEMBANGUNAN EKONOMI | ok-review | 4.5