PENGERTIAN PEMBAGIAN KERJA BERDASARKAN JENIS KELAMIN

By On Friday, October 18th, 2013 Categories : Antropologi

Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin merupakan salah satu elemen struktural dasar dalam organisasi sosial. Minat terhadap topik ini mulai muncul di abad 19. namun pemahaman awalnya masih diliputi oleh berbagai kekeliruan konsepsi. Hal-hal pertama yang disimak adalah asal mula pola pembagian kerja manusia berdasarkan jenis kelamin, perubahan-perubahannya di sepanjang evolusi manusia, serta konsekuensinya terhadap hubungan antar-jenis kelamin. Pandangan umum yang diyakini adalah pola pembagian itu diawali oleh fakta bahwa perekonomian subsisten primitif bertumpu pada peran kaum pria sebagai pencari makanan, baik itu dari perburuan, perikanan atau pemeliharaan ternak secara kecil-kecilan. Marx dan Engels( 1947 [1932]) berpendapat bahwa superioritas ekonomi maskulin merupakan hukum alam, dan potensi perbudakan terhadap jenis kelamin tertentu dalam keluarga adalah konsekuensinya yang wajar. Engels (1972 [1884]) bahkan terlibat lebih jauh dalam miskonsepsi itu dengan mengatakan bahwa pola pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin itu cenderung konstan dari waktu ke waktu, la menyoroti kemerosotan status kaum wanita dalam soal pekerjaan dan kepemilikan, dan ini terjadi pula dalam masyarakat yang menganut monogami. Durkheim (1933 [1893]) juga demikian. Ia mengatakan bahwa pada awalnya, pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin berada pada taraf minimal. Namun dalam perkembangan selanjutnya, peran kaum wanita kian terpinggirkan melalui penonjolan solidaritas organik dan ikatan pernikahan.
Bias terhadap peran wanita dalam pekerjaan bisa ditemukan di hampir semua disiplin ilmu sosial, dan bisa dijumpai pada empat topik utama studi tentang pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin: cikal-bakal pembagian kerja itu; keragaman etnologis pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin; perubahan-perubahan pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin seiring dengan meningkatnya kompleksitas kehidupan bermasyarakat; serta konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. Pertama, bias dalam kajian tentang asal mula pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada dua sumber utama, yakni etologi primata dan etnologi manusia. Spesialisasi kaum pria dalam fungsi perburuan bertolak dari peran fisiknya yang sejak awal memang menonjol, yang dalam perkembangan selanjutnya menjadi alasan bagi kian mencuatnya peran pria. Studi-studi rintisan mencatat hal itu sebagai pijakan dasar pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin yang berlaku sampai sekarang, meskipun sesungguhnya peran wanita tidak bisa diabaikan. Lee dan De Vore (1968) mencatat bahwa fungsi ekonomi kaum wanita sesungguhnya menyumbang lebih dari 50 persen pemenuhan kebutuhan kalori keluarga/masyarakat. Kedua, keragaman dalam pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin mulai tajam di masyarakat pra-industri, dan kian menampakkan wujudnya pada masyarakat industri. Peran kaum wanita terus direduksi ke urusan-urusan domestik (pengasuhan anak, pemeliharaan rumah), dan ini terjadi di berbagai tempat. Karya Murdock (1937; Murdock dan Provost, 1973), menyajikan kode pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin di berbagai kebudayaan yang mencakup limapuluh jenis pekerjaan. Di 95 persen masyarakat responden, tugas kaum pria adalah menyediakan makanan (lewat perburuan), menangani pekerjaan bengkel dan logam, penyamakan kulit dan tulang, pembuatan perahu, dan pembenahan bangunan rumah. Sedangkan yang dikerjakan oleh kaum wanita adalah memasak dan mengasuh anak. Namun dalam berbagai jenis pekerjaan pada umumnya, pengerjaannya bisa dilakukan oleh kaum wanita maupun pria selama kekuatan biologis memungkinkannya (misalnya, penyusuan anak tidak mungkin dilakukan oleh kaum pria), dan tingkatannya bervariasi. Sejauh mana variasi itu lebih dipengaruhi oleh ukuran relatif ketimbang ukuran universal. Semula riset menonjolkan kekuatan fisik kaum pria dalam mempelajari jenis-jenis pekerjaannya, namun pada riset-riset berikutnya pada 1970-an, yang lebih diperhatikan adalah soal kendala. Cakupan kerja kaum wanita terbatas karena kendala spesialisasi mereka dalam fungsi reproduksi. Menurut Brown (1970), fungsi melahirkan dan membesarkan anak selalu diutamakan ketimbang fungsi atau pekerjaan lain. Burton et al (1977) menyokong pendapat itu. Kaum wanita melakukan pekerjaan sampingan di luar fungsi utamanya di rumah, sedangkan kaum pria sebaliknya. Contohnya dapat dilihat pada kegiatan pertanian, di mana fungsi-fungsi pokokĀ  membajak, menabur pupuk, mengairi lahan secara berkala dilakukan oleh kaum pria, sedangkan fungsi sampingan menyiangi, merapikan dikerjakan oleh wanita, di samping menyiapkan makanan bagi para suami mereka. Ketiga, di berbagai masyarakat pra-industri, partisipasi kaum wanita menurun seiring dengan meningkatkan kompleksitas kehidupan bermasyarakat. Sebagai contoh, dalam masyarakat nomaden (berpindah-pindah) kaum wanita masih ikut membangun tempat kediaman (rumah atau tenda semi permanen), namun dalam masyarakat menetap, hal itu tidak ada lagi. Menurut Boserup (1970), intensifikasi pertanian juga menurunkan peran wanita. Ember (1983) mengajukan kesimpulan yang sama. Burton dan White (1984) mencoba menjelaskannya dengan mengajukan sebuah model yang bertumpu empat faktor utama (empat kegiatan pokok dalam pertanian) yang mengukur sejauh mana keterlibatan ekonomis kaum wanita. Model ini mencoba merangkum sejumiah observasi emprisis mengenai peran ekonomi kaum wanita dan ada beberapa kesimpulan menarik yang dikemukakannya. Misalnya, partisipasi kaum wanita dalam pertanian di daerah tropis (terutama pertanian biji-bijian) ternyata lebih tinggi. Curah hujan yang lebih tinggi, pentingnya peran hewan ternak penarik bajak, dan banyaknya pekerjaan sampingan yang harus ditangani, membuat peran kaum wanita tidak bisa dikurangi. Ada beberapa penelitian sesudah Boserup (1970) yang mengajukan hipotesis bahwa intensifikasi pertanian memberi dampak negatif terhadap kontrol kaum wanita terhadap sumber- sumber daya ekonomis. Riset-riset itu menyatakan kontribusi atau partisipasi kaum wanita dalam kegiatan pertanian merupakan kunci bagi mereka untuk turut mengontrol sumber daya ekonomis. Dalam upaya mengungkap konsekuensi berikutnya dari pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin, Heath (1958) dan beberapa peneliti lainnya mendapati bahwa rendahnya kontribusi wanita itu justru memupuk monogami Jelas pernyataan ini membingungkan karena sulit dibayangkan para suami justru lebih seia kepada istri yang tidak banyak ekonomis. Anehnya lagi, hai ini telah diungkapkan oleh para teorisi di abad 19.

PENGERTIAN PEMBAGIAN KERJA BERDASARKAN JENIS KELAMIN | ok-review | 4.5