PENGERTIAN PEMAKAIAN OBAT

By On Friday, October 18th, 2013 Categories : Antropologi

Pemakaian obat-obatan penenang syaraf itu sedemikian meluas dan bisa ditemukan di hampir semua masyarakat.¬†Konsep “obat-obatan” tidak hanya menyangkut aspek kebendaan, namun juga merupakan suatu konstruksi sosial. Artinya, apa yang disebut sebagai obat adakalanya berbeda-beda dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain. Di samping itu. penyebutan sesuatu sebagai obat bukan merupakan persoalan definisi melainkan merupakan suatu persoalan empiris. Sesuatu baru bisa disebut obat jika memang telah terbukti dan diterima demikian. Dari semua definisi obat, salah satu yang paling banyak diterima di lingkungan ilmu-ilmu social adalah yang menonjolkan substansinya sebagai sesuatu yang bersifat psikoaktif, atau sesuatu yang dapat memberi pengaruh terhadap pikiran dalam berbagai cara. Salah satu sifatnya yang utama berkenaan dengan definisi itu, obat mempengaruhi fungsi pikiran manusia, dan obat menimbulkan dampak terhadap perasaan, emosi, hasrat, persepsi dan juga proses pemikiran. Namun definisi ini menyisihkan substansi yang digunakan dalam dunia medis seperti penisilin dan antibiotik yang jelas-jelas merupakan obat meskipun tidak bersifat psikoaktif. Sebaliknya definisi ini memasukkan berbagai substansi yang sangat mempengaruhi pikiran namun sesungguhnya bukan obat, atau yang secara hukum dinyatakan terlarang atau dibatasi, seperti alkohol atau tembakau. Penekanan pada efek pikiran itu sendiri sangat beralasan karena hampir setiap orang sekurang-kurangnya pernah menelan satu obat untuk keperluan psikoaktif. Proses fermentasi yang meng-hasilkan minuman keras yang mempengaruhi pikiran sudah ditekuni sejak 10.000 tahun yang lalu. Fosil kebun-kebun kuno mariyuana di pedesaan Cina yang ditemukan oleh para arkeolog mendukung hal itu (Abel, 1980). Lusinan tanaman yang mengandung bahan kimia yang dapat mempengaruhi pikiran sejak lama telah dibudidayakan untuk membuat produk-produk yang dihisap, dikunyah, atau dihirup oleh orang-orang yang ingin melayangkan pikirannya untuk sejenak. Daun-daun koka (bahan baku kokain), opium, mariyuana, psilocybin (jamur “ajaib”), Amanita muscaria, kaktus peyote, daun-daun quat, pala, biji-biji kopi dan daun teh adalah produk-produk yang bersifat psikoaktif karena dapat menenangkan pikiran orang-orang yang menikmatinya. Selama beberapa abad yang lampau, ratusan ribu bahan kimia aktif telah ditemukan, disintesiskan dan dikembangkan oleh para ilmuwan, dokter dan teknisi laboratorium untuk menghasilkan produk-produk psikoaktif seperti itu. Ribuan di antaranya telah dipasarkan untuk keperluan pengobatan. Menurut jurnal Pharmacy Time, sekitar 1,5 milyar resep ditulis oleh para dokter (yang memungkinkan pasiennya memperoleh obat-obatan psikoaktif secara sah dalam jumlah yang diinginkannya) setiap tahunnya di Amerika saja, dan sekitar 1 dari 6 atau 1 dari 7 diantara- nya merupakan resep obat-obat psikoaktif. Di Amerika kira-kira duapertiga penduduk berusia 12 tahun ke atas pernah meminum alkohol; sekitar separuh penduduk melakukannya lebih dari satu kali; dan sekitar seperempat dari seluruh orang Amerika adalah perokok aktif. Kemudian, sepertiga penduduk pernah mencoba mariyuana, lalu sepuluh persen penduduk pernah menghisap mariyuana hanya dalam waktu satu tahun yang lampau, dan lima persen di antaranya menghisap mariyuana pada bulan yang lampau (Goode, 1993).Hampir selalu ada standar budaya tertentu dalam pemakaian bahan-bahan kimia psikoaktif itu (Edgerton, 1976) dan pembatasan acapkali dilakukan. Sebagian obat sama sekali dilarang karena dampaknya yang berbahaya. Banyak negara yang memiliki aturan yang mengancam hukuman berat bagi para pengedar, penjual, atau pemakai obat-obatan psikoaktif seperti itu. Istilah “penyalahgunaan” obat memiliki banyak pengertian yang berbeda-beda. Sebagian ilmuwan mengartikannya sebagai pemakaian obat yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum ataupun peraturan kedokteran. Hanya saja, definisi ini justru mengabaikan kecenderungan masyarakat untuk mengkomsumsi alkohol secara berlebihan sehingga menjurus ke ambang yang berbahaya. Ilmuwan lain mengartikan penyalahgunaan obat sebagai dampak atau konsekuensi pemakaian bahan kimia psikoaktif. Perdebatan mengenai konstruksi sosial obat-obatan dan pemakaiannya terus berlanjut hingga sekarang.
Ada satu hal penting yang harus ditekankan di sini, yakni pemakaian obat bukanlah suatu fenomena uniter. Ada sebab-sebab tertentu yang melatarbelakangi hal tertentu. Secara umum obat- obatan dikategorikan berdasarkan dampaknya terhadap sistem syaraf pusat (CNS, sentral nervous system), yakni otak dan column spinal. Obat- obatan tertentu dapat mempercepat transmisi sinyal melalui CNS, dan para ahli farmakologi menyebut obat-obat itu sebagai stimulant. Stimulant mencakup kokain, amphetamine dan kafein. Nikotin, yang merupakan unsur psikoaktif utama dalam tembakau juga memiliki dampak stimulasi namun dampaknya tidak terlalu kuat sehingga unsur ini ditempatkan pada klasifikasi yang terpisah. Jenis lainnya dapat memperlambat atau menyurutkan kelancaran transmisi sinyal dalam CNS, dan jenis ini disebut sebagai depressant. Ada dua jenis depressant yakni narkotik atau analgesic narkotic (misalnya opium, morfin, heroin, dan metadon) yang dapat mematikan perasaan sakit, serta bahan-bahan yang tergolong sebagai depressant umum seperti alkohol, valium dan sebagainya yang dapat menurunkan ketegangan syaraf. Sebagian besar dari obat-obatan psikoaktif tersebut ternyata tidak termasuk dalam kategori stimulant ataupun depresant. Pemakaian legal obat-obatan seperti itu relatif sangat terbatas. yakni untuk keperluan terapi kejiwaan atau dalam operasi untuk mematikan rasa sakit. Halusinogen atau “psichedelic dapat meng-akibatkan perubahan perseptual secara dramatis meskipun kedua hal ini jarang menghasilkan halusinasi murni. Contohnya adalah LSD. mescaline dan psilocybin, serta produk-produk cannabis seperti mariyuana dan hashish, yang biasanya ditempatkan pada kategori terpisah, karena substansi psikoaktifnya memang cukup berbeda. Substansi psikoaktif yang sama sekalipun bisa dibedakan. Bahkan obat yang sama bisa digunakan oleh orang yang berbeda untuk keperluan yang berlainan. Obat penenang, misalnya, bisa digunakan untuk keperluan mistis, mengobati rasa sakit fisik atau menenangkan pikiran, menikmati rasa melayang, dan sebagainya. Semua keperluan itu memerlukan sifat psikoaktif dari obat yang bersangkutan. Karena dampaknya bisa berbahaya, pemakaian obat-obatan tersebut biasanya dibatasi, dan keperluannya digolongkan menjadi tiga bagian, yakni pemakaian rekreasional legal, pemakaian rekreasional illegal, dan pemakaian instrumental lega: (biasanya untuk keperluan medis). Dalam prakteknya, penimbangan atas sifat farmakologis dari suatu obat hanya merupakan salah satu unsur, karena ada unsur lain yang turut berperan dalam pemakaiannya seperti motif, konteks sosial, norma sosial yang melingkupi penggunaannya, dan metode- metode pemakaiannya secara sah, yang kesemuanya memainkan peran dalam mempengaruhi dampak penggunaan substansi psikoaktif tadi.
Pertama, penggunaan rekreasional legal, mengacu pada penggunaan suatu obat psikoaktif yang kepemilikan dan penjualannya tidak dilarang oleh hukum, untuk tujuan mencapai kesenangan atau kenikmatan tertentu. Di negara-negara Barat, istilah ini biasanya merujuk pada konsumsi alkohol. Meskipun ada upaya untuk meredefinisikan alkohol sebagai suatu obat dalam kurikulum pendididkan di Amerika, namun sampai sekarang masyarakat umum tidak memandang alkohol sebagai obat. Jika alkohol dinyatakan sebagai obat, maka pemakaian di luar konteks medis akan dikenai larangan. Secara farmakologis. mengingat dampaknya, alkohol sesungguhnya merupakan suatu substansi psikoaktif. Lambat laun mulai berkembang anggapan bahwa alkohol merupakan suatu jenis obat yang kebetulan tidak disebut sebagai obat mengingat dampaknya itu tadi. Data statistik menunjukkan bahwa satu dari sepuluh orang di negara-negara Barat merupakan pecandu alkohol. Kedua, dari semua jenis penggunaan obat, penggunaan rekreasional illegal menarik paling banyak perhatian dan minat akademis. Sejak awal 1960-an, Eropa Barat dan Amerika Utara meng-alangi lonjakan pemakaian rekreasional illegal atas obat-obatan psikoaktif. Yang paling sering digunakan adalah produk-produk cannabis seperti mariyuana dan hashish. Secara legal, produk-produk tersebut dilarang dikonsumsi untuk keperluan rekreasional, namun dalam prakteknya penggunaan itu begitu meluas. Di Amerika Serikat. jumlah pecandu heroin diperkirakan mencapai setengah juta orang, sedangkan di Inggris angkanya belum sebesar itu namun terus mengalami peningkatan tajam (sejak pertengahan 1980-an jumlahnya telah naik sepuluh kali lipat). Pemakai kokain lebih banyak lagi. Di Amerika saja diperkirakan ada beberapa juta orang yang mengkonsumsi kokain setiap hari. Jumlah orang yang pernah memakainya, meskipun hanya sekali, lebih banyak lagi (kebanyakan pemakai langsung menghentikan konsumsinya setelah mencoba sekali saja). Ketiga, pemakaian instrumental atau medis legal atas obat-obatan psikoaktif di dunia Barat telah mengalami perubahan dramatis selama abad 20. Di penghujung abad 19, berbagai substansi psikoaktif seperti morfin dan kokain masih mudah diperoleh dan pada masa itu pemakaiannya memang masih terbatas untuk keperluan medis dan psikiatrik. Namun dalam perkembangan selanjutnya penyalahgunaannya kian meluas sehingga peraturan hukum yang mencoba mengontrol makin lama makin ketat, dan substansi pikoaktif tersebut tidak lagi mudah diperoleh (Berridge dan Edwards 1987; Musto, 1987). Di negara-negara Barat, resep dokter merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh substansi psikoaktif itu. Di Amerika, jumlah resepnya terus meningkat sampai pada awal 1970-an ketika penyalahgunaan resep terungkap. Sejak saat itu jumlah resep seperti itu merosot. Di lain pihak, jumlah resep obat-obatan non-psiko-aktif cenderung stabil, dan hanya sedikit meningkat sehubungan dengan bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia. Antara 1970 hingga 1990-an, resep amphetamine merosot 90 persen, sedangkan valium, yang pernah merupakan obat resep nomor satu yang paling banyak diperjual-belikan di Amerika, terus merosot hingga ke peringkat 47. Beberapa obat-obatan lain seperti methaqualone dan benzedrin tidak bisa lagi diperoleh dengan resep dokter (Goode, 1993). Penjualan obat-obatan psikoaktif jenis baru seperti Prozac, sejenis anti-depressant, dan Xanax, sejenis obat sedative, terus meningkat karena obat-obatan ini dianggap lebih aman dan diperbolehkan untuk dituliskan resepnya. Secara umum, kemerosotan pemakaian produk farmasi psikoaktif menurunkan pula pemakaiannya untuk keperluan rekreasional secara illegal, khususnya obat-obatan amphitamine, barbiturat, dan methaqualone. Selama 1950-an, terungkap bahwa obat- obatan phenothiazine dapat menekan gejala gangguan mental, khususnya schizophrenia. Sejak saat itu pengelolaan obat-obatan anti-psikotik seperti Thorazine, Stelazine, dan Mellaril, bagi para pasien penderita gangguan mental, naik secara tajam. Pada tahun 1955 terdapat sekitar 560.000 pasien penyakit jiwa di Amerika. Namun pada pertengahan 1990-an, angkanya telah melampaui 100.000 orang, di mana tiga perempatnya diterapi dengan obat-obatan phenothiazine (mereka tidak harus menginap di rumah sakit). Jumlah penderita penyakit jiwa yang menginap di rumah sakit naik dua kali lipat antara 1950-an hingga 1990-an. Namun periode rata-ratanya turun dari enam hingga delapan bulan menjadi hanya sekitar dua minggu. Para penderita gangguan mental kini lebih banyak yang dirawat di luar rumah sakit.
Sejak pertengahan 1980 an, di Amerika, ber-kembang desakan kuat untuk mencabut larangan bagi pemakaian substansi psiko aktif, termasuk kokain dan heroin. Para pendukungnya menyatakan bahwa pencabutan itu perlu dilakukan atas dasar tiga alasan. Pertama, pemakaian obat-obatan seperti itu tidak akan meningkat sekalipun larangannya dicabut. Kedua, obat-obat yang dilarang itu, dampaknya tidak lebih berbahaya ketimbang obat-obat yang legal, sekurang-kurangnya tidaklah seberbahaya yang diyakini oleh para legislator dan masyarakat awam. Sedangkan yang ketiga, larangan itu tidak pernah efektif dan justru sering bersifat kontraproduktif (Nadelman, 1989). Namun mayoritas penduduk Amerika menentang pencabutan larangan itu. dan mereka pun berusaha meyakinkan para legislator untuk tidak mengutak-utik larangan yang masih berlaku. Lagipula, anggapan bahwa pencabutan larangan tidak akan meningkatkan penyalahgunaan obat sulit diterima berdasarkan tujuh alasan. Pertama, ada korelasi kuat antara biaya dan pemakaian, dan pelarangan membuat obat-obat illegal sangat mahal sehingga tidak mudah diperoleh. Kedua, kalau larangan itu dicabut maka obat-obatan itu akan jauh lebih mudah diperoleh sehingga memudahkan pemakaian dan penyalahgunaannya. Ketiga, dalam konteks sosial, di mana substansi psikoaktif dapat diperoleh secara sah, yakni di kalangan para dokter dan pekerja medis, termasuk pula di kalangan personil militer selama perang Vietnam, pemakaian obat-obatan psikoaktif ini cenderung melonjak dan sulit dikendalikan. Keempat,, selama berlakunya larangan konsumsi alkohol di Amerika, konsumsi alkohol itu benar- benar turun (Lender dan Martin 1987) sehingga ini secara jelas membuktikan bahwa larangan seperti itu, meskipun memang terbatas, bisa dikatakan efektif. Kelima, kalau kegiatan yang sangat berisiko itu tidak dilarang, maka akan muncul tuntutan lain untuk mencabut larangan bagi kegiatan-kegiatan lain yang berbahaya seperti berkendara tanpa helm atau sabuk pengaman. Keenam, pemakaian obat-obatan legal tetap lebih tinggi ketimbang pemakaian atas obat- obatan yang illegal. Ketujuh, di Amerika, pembatasan penjualan alkohol bagi orang-orang yang berusia kurang dari 21 tahun terbukti dapat menurunkan kecelakaan akibat pengendara mabuk yang sering dilakukan oleh orang-orang pada usia tersebut. Disamping itu, pencabutan larangan akan meningkatkan peredaran obat-obatan yang erat kaitannya dengan kriminalitas, penyakit dan kekerasan. Jadi, ditinjau dari kriteria pemben dungan kriminalitas, larangan tersebut masih perlu dipertahankan. Namun harus diakui pula. bahwa di sisi lain obat-obatan illegal itu adakalanya sangat dibutuhkan dan konsekuensinya akan sangat fatal bila orang yang bersangkutan sangat sulit memperolehnya. Mungkin skenario jalan tengah perlu dipertimbangkan, seperti kebijakan yang diterapkan di Belanda yang mengizinkan peredaran produk-produk cannabis “lunak” secara terbatas.

PENGERTIAN PEMAKAIAN OBAT | ok-review | 4.5