PENGERTIAN ORGANISASI INDUSTRI

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Antropologi

“Organisasi industri merupakan istilah aneh, yang dicirikan oleh ketidakmampuannya berkomunikasi dengan dunia luar yang menjadi subyek dari semua itu”. Lantas jika prakonsepsinya tidak sesuai, bagai-mana bisa kita menguraikan pokok masalah ini9 Salah satu jalan keluarnya adalah dengan mengatakan bahwa ini merupakan penyelidikan tentang sejumlah pertanyaan pokok dalam bidang ekonomi, yang tak satu pun bisa terja’.vab secara memuaskan oleh teori harga atau analisis mikro-ekonomi yang sudah baku. Dengan urutan mulai dari yang terpenting, pertanyaannya adalah sebagai berikut. Mengapa sebagian perusahaan atau sektor industri tertentu terus dapat mempertahankan tingkat keuntungan yang tinggi? Mengapa sejumlah industri terus saja terkonsentrasi, di mana perusahaan yang itu-itu juga yang menguasai posisi-posisi kunci sepanjang kurun waktu yang cukup lama? Apakah konsentrasi industri itu memang menguntungkan secara sosial? Mengapa perusahaan kadang-kadang memilih pola pengaturan pemasaran atau pembelian yang begitu berbeda dengan pola para saingannya? Apa implikasi dari ketidaksempurnaan informasi berkenaan dengan riset dan pengembangan, dan iklan, bagi persaingan antar-perusahaan? Ekonomi industri, yang dipakai sebagai alternatif istilah ini di Inggris dan sejumlah negara Eropa lain, memperluas kajian dengan mencakup peran perusahaan dan organisasi internalnya. Salah satu elemen yang mendasari pergeseran bidang studi ini adalah serangkaian fakta-fakta yang disederhanakan berkenaan dengan organisasi industri. Cikal bakal pokok masalah ini antara lain adalah bahasan matematis Cournot terhadap industri-industri yang terdiri dari sedikit perusahaan, rumusan Marshall mengenai perkembangan keseimbangan perusahaan-perusahaan dan industri, dan karya-karya sejumlah penulis pada periode di antara dua Perang Dunia mengenai persaingan tidak sempurna, termasuk Chamberlin (1933); Hotelling (1929) dan Berle dan Means. Baru seusai perang, subyek ini berkembang menjadi bentuknya yang modern di Amerika Utara dan Eropa Barat. Paradigma ‘kinerja supra-struktur’ dikembangkan sebagai alat sortir oleh para ilmuwan seperti Bain (1956). Paradigma ini menjadi semacam alat observasi empiris lintas-industri di mana tingkat keuntungan relatif digambarkan sebagai aliran unsur-unsur struktur industri yang bergerak lebih lambat, yang ditandai oleh konĀ¬sentrasi industri dan halangan bagi pendatang baru. Sejak 1970-an, terjadi pergeseran arah secara bertahap dari analisis empiris umum yang secara teoretis hanya diinformasikan dari teori harga, menuju bangunan teori ekonomi yang cukup kokoh, khususnya di bidang organisasi industri (10; itu sendiri. Perkembangan ini mendapat cap sebagai 10 baru’. Ciri pokoknya adalah penggunaan teori permainan dan struktur yang mendasarinya serta asumsi-asumsi perilaku dalam menentukan hasil akhir. Tradisi mendeskripsikan angka-angka pun berkembang. Mengikuti Shcelling (1960) dan lain-lain, pemikiran strategis mulai mengadakan analisis secara meluas dalam model-model formal. Bahkan ada yang mengatakan cakupannya terlalu luas; jika sebuah penjelasan teoretis yang cocok bisa diciptakan untuk setiap fakta tak lazim yang sudah terbukti tidak signifikan, maka teori itu sudah terlalu jauh menyimpang. Pada gilirannya, perkembangan-perkembangan ini mengarah pada sikap yang lebih moderat dalam kerja empiris, dengan kesadaran bahwa analisis lintas-industri hanya valid jika kondisi- kondisinya dibatasi.
Situasi-situasi yang amat spesifik, sebagaimana ditemukan, misalnya, dalam pasar-pasar lelang, mungkin dapat dimanfaatkan untuk menguji prediksi-prediksi yang lebih sempit (lihat misalnya Hendriks dan Porter 1988), sementara prediksi yang lebih lemah mungkin bisa diterapkan untuk hal yang lebih umum. Namun keteraturan-keteraturan umum tertentu, yang sudah disepakati hampir semua ilmuwan di bidang ini, bisa diterima. Salah satunya adalah bahwa perusahaan dalam sektor- sektor industri yang relatif terkonsentrasi rata-rata setara atau lebih seragam dalam ukuran daripada perusahaan-perusahan dalam sektor industri yang kurang terkonsentrasi. Harus diakui bahwa ada sejumlah pandangan minoritas mengenai hal ini, di mana yang paling terkenal adalah Mazhab Chicago. Secara umum, mazhab ini menolak sebagian besar analisis mendetail dari pendekatan mainstream. Pandangan Chicago menyatakan bahwa kolusi antara pemain-pemain yang kuat dalam pasar akan membawa keuntungan yang tinggi namun membawa dampak sosial yang tidak dikehendaki. Aliran ini meletakkan titik berat pada praktek-praktek yang lebih luas cakupannya (misalnya pengaturan-pengaturan kontrak vertikal yang melibatkan perjanjian yang eksklusif), dengan logika efisiensi, bukan logika strategis. Para ilmuwan 10 juga memberi pengaruh non-akademik. Kebijakan kompetisi di AS dan Uni Eropa misalnya. Kebijakan itu (sesuai dengan mazhab Chicago) memandang bahwa kolusi adalah sesuatu yang harus ditangani secara keras. Dari sudut analisis mainstream, kebijakan ini hanya memanfaatkan variasi struktrual dari industri sebagai indikator kapan aksi-aksi perusahaan diharapkan lebih bersifat sosial. Para ilmuwan 10 juga memberi pengaruh terhadap rancangan peraturan ekonomi dan gerakan deregulasi. Terakhir, analisis 10 ternyata juga memiliki pengaruh substansial terhadap teori perdagangan internasional, misalnya dalam menjelaskan perdagangan intra-industri, strategi penggunaan hambatan-hambatan tarif dan non-tarif, serta sejumlah manipulasi unsur-unsur makroekonomi.

PENGERTIAN ORGANISASI INDUSTRI | ok-review | 4.5