PENGERTIAN NALURI

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Psikologi

Secara awan istilah insting diartikan bermacam-macam. Sebagai contoh, istilah ini dapat merujuk pada suatu inpuls untuk melakukan tindakan tertentu tanpa kesadaran, dan tidak berhubungan dengan hasil didikan atau instruksi/arahan yang jelas. Ada pula yang mengartikan naluri sebagai suatu kecenderungan, sikap atau intuisi yang dibawa seseorang mahkluk hidup sejak lahir. Lalu adapula pendapat yang mengartikan naluri sebagai motif, dorongan, atau energi yang melandasi perilaku tertentu yang menjalankan fungsi-fungsi vital tertentu. Keragaman makna ini menyulitkan pembahasannya secara ilmiah. Berikut akan kita simak sejumlah rumusan mengenai naluri dari sejumlah ilmuwan sosial. Darwin secara umum pembahasan ilmiah mengenai naluri menggunakan pengertian yang dirumuskan oleh Darwin. Darwin sendiri tertarik menelaah naluri berdasarkan fakta adanya tindakan mental tertentu yang berlangsung begitu saja dan penyebabnya pun tidak diketahui oleh orang yang bersangkutan. Ia menggunakan istilah naluri untuk merujuk pada impuls-impuls yang mendorong burung bermigrasi, kebiasaan hewan untuk melolong (misalnya anjing) dalam situasi tertentu, besarnya kemungkinan seseorang merasakan simpati terhadap kemalangan orang lain, dan sebagainya. Sebenarnya pengertian yang digunakan Darwin tidaklah satu. melainkan ia mencoba mengkombinasikan beberapa makna untuk berbagai keperluan analisis. Sebagai contoh, dalam kajiannya mengenai pola perilaku genetis, Darwin mengartikan naluri sebagai sesuatu yang terpisah dari pengalaman hidup. Namun ketika ia mempelajari proses belajar mahkluk hidup, ia justru menyebut dorongan untuk belajar itu sebagai naluri. Hubungan antara transmisi herediter/turunan dengan perkembangan ontogenetik merupakan alasan yang bisa diterima bagi dipadukannya berbagai pengertian naluri seperti yang dilakukan oleh Darwin. Ada anjing tertentu yang membawa bakat sebagai gembala domba, namun anda tidak bisa memperoleh jasanya yang berarti jika anda tidak melatihnya.
Dalam bukunya yang berjudul The Descent of Man (1971). Darwin khusus membahas mengenai naluri sebagai sumber perasaan, keinginan, dan harapan. Sebagai dorongan tindakan, naluri terwujud sebagai perilaku itu sendiri, khususnya jika ada tujuan yang hendak dicapai. Namun jika naluri dinyatakan sebagai dorongan untuk berperilaku, maka kita tidak bisa mengharapkan banyak informasi berharga darinya. Kajian mengenai naluri harus dilakukan dengan melibatkan berbagai variabel fisiologis yang dalam penelitian tentang perilaku hewan terbukti punya relevansi yang tinggi. Namun para pengamat masih mempertanyakan kesahihan eksperimen perilaku hewan tersebut karena sulit dipastikan apakah hewan itu memiliki tujuan tertentu yang hendaknya dicapainya secara sadar. Bagi Darwin hal itu tidak menjadi persoalan karena ia lebih mementingkan kesinambungan psikologis antara hewan dan manusia. Selain Darwin, sumber kajian penting lainnya tentang naluri adalah Freud, McDougall dan etologi klasik. Freud memiliki beberapa teori mengenai naluri. Dalam versi awalnya ia memandang kejiwaan sebagai suatu dorongan yang pada dasarnya bersifat biologis yang ada dalam setiap mahkluk hidup yang melandasi perilakunya untuk mempertahankan diri dan ber-reproduksi. Belakangan ia mempertajam konsepsinya itu berdasarkan struktur kejiwaan yang dirumuskannya terbagi menjadi id, ego dan superego, serta dorongan-dorongan saingannya seperti nafsu, akomodasi dan moralitas. Dari konsepsinya inilah Freud merumuskan konsepsi naluri hidup (eros) dan kematian (thanatos). Bagi Freud tujuan-tujuan nyata sesungguhnya bukanlah landasan perilaku karena pengalaman seperti itu berlangsung melalui ego yang cenderung menekan atau mengabaikan ekspresi natural, dan lebih terpaku pada batasan-batasan sosial. Hanya dengan teknik psikoanalisis asosiasi seperti itu dapat dijabarkan secara jelas guna mengungkap dinamika internal dalam perilaku manusia.
Meskipun demikian, Freud tidak banyak berupaya untuk membuat validasi empiris yang berdiri sendiri bagi teori-teorinya, la juga berpendapat bahwa naluri merupakan suatu jenis energi tersembunyi yang sekurang-kurangnya analog dengan energi fisik dan adakalanya berfungsi sebagai agen intensional yang mendorong seseorang melakukan strategi tertentu guna mencapai tujuannya. Pendekatan psikoanalis seperti ini dikritik karena kekurangan dukungan empiris dan konsistensi konseptual. Kritik lain juga menyebut terlalu terpakunya model-model Freud dengan gagasan biologi abad 19 (misalnya hukum rekapitulasi biogenetik Haeckel, dan gagasan sifat-sifat turunan yang dirumuskan oleh Lamarcks), dan juga pemikiran-pemikiran antropologi vang sudah ketinggalan zaman (Kicher, 1992; Sullowav. 1992). Jadi dalam teori-teori naluri, sumbangsih psikoanalisis sangat diragukan. Tanpa menga¬baikan pengaruh biologis terhadap perilaku dan kehidupan mental, para analisis seperti Homey (1937) dan para teorisi “hubungan objek” dari Inggris (misalnya Guntrip, 1961) lebih menekankan peran masyarakat, kebudayaan, dan hubungan antar-pribadi bagi perkembangan, diferensiasi dan dinamika kejiwaan. McDougall dalam karyanya yang berjudul Introduction to Social Psychology (1908) William McDougall mengartikan naluri sebagai: “suatu disposisi psikologis turunan atau bawaan yang menentukan seseorang dalam merumuskan persepsi, memberi perhatian atau memberi respon terhadap berbagai pengalaman emosional atau dalam menghadapi suatu obyek tertentu, untuk kemudian melakukan tindakan atau perilaku tertentu yang muncul begitu saja akibat adanya impuls terhadap obyek atau pengalaman tadi”. la melihat adanya hubungan erat antara tiga aspek naluri yang pada dasarnya bersifat netral. Ia percaya bahwa sistem tersebut bersifat psikofisik namun ia mengartikan persepsi, emosi dan impuls sebagai suatu manifestasi mental yang selalu memberi pengaruh terhadap tindakan, kontrol dan arah tindakan secara sengaja. Meskipun McDougall mengakui kedudukan tersendiri naluri, ia kurang dapat memaparkan pendapatnya itu secara jelas karena ia tidak mengaitkannya dengan pengalaman nyata. Itu berarti, aspek empirisnya pun terbatas. Kelemahan ini tidak dapat diperbaikinya meskipun ia sudah melakukan serangkaian modifikasi, antara lain dengan mengaitkan konsep naluri dengan unsur-unsur kognitif dan konatif yang menjadi pusat kekuatan emosi. Dalam konteks ini ia melihat naluri sebagai suatu bentuk emosi karena hal itu mengungkap apa dan bagaimana seseorang harus bertindak dalam menghadapi sesuatu melalui proses pemahaman yang kompleks. McDougall juga memberikan daftar jenis-jenis emosi primer yang paling erat hubungannya dengan naluri manusia. Uraian ini disertai pula dengan spekulasi tentang arti penting adaptif dan aspek evolusionernya. Kemunculan analisis ini membangkitkan minat untuk mempelajari naluri dalam disiplin ilmu psikologi dan bidang-bidang studi lainnya. Ini membuat daftar pengertian naluri semakin panjang dan ragamnya pun semakin kaya. Setiap orang memunculkan respon emosi yang berbeda sehingga upaya klasifikasinya sangat sulit dilakukan. Konsepsi McDougall tentang hakikat psikofisik naluri mendorongnya untuk melacak hubungan sebab-akibat antara niat dengan tindakan. Namun lagi-lagi teori dan spekulasinya ini tidak ditopang oleh korelasi empiris atau uji eksperimental yang memadai. Para kritisi behaviourist mendapat angin untuk mengembangkan pemikiran anti-naluri yang dipelopori oleh Dunlap (1919) yang pada intinya berpendapat bahwa teori McDougall kurang ilmiah dan bahwa naluri itu sendiri bukan merupakan suatu konsepsi ilmiah. Akan tetapi pada perkembangan selanjutnya, mereka mulai melihat potensi akademis dalam analisis tentang naluri, meskipun mereka tetap berpendapat bahwa hal itu harus senantiasa dilakukan berdasarkan serangkaian pengujian empiris yang metodenya dapat diterima. Teori McDougall pun mulai ditinggalkan oleh penganutnya, dan dewasa ini orang yang mempercayainya sangatlah sedikit.

PENGERTIAN NALURI | ok-review | 4.5