PENGERTIAN MELAYU JAMBI

By On Friday, April 4th, 2014 Categories : Antropologi

PENGERTIAN MELAYU JAMBI – Salah satu dari tujuh suku bang­sa asal di Propinsi Jambi. Orang Melayu Jambi lebih banyak berdiam di Kota Madia Jambi, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Jabung, dan Kabupaten Bungo Tebo. Sebagian dari ketujuh suku bangsa asal itu di­kategorikan sebagai Melayu Tua (Proto-Melayu), dan lainnya Melayu Muda (Deutero Melayu). Suku bangsa Melayu Jambi tergolong Melayu Muda, yang sudah mendapat pengaruh kebudayaan luar, seperti kebu­dayaan Hindu, Islam, Eropa, dll.
Pada pertengahan abad ke-7, Kerajaan Jambi te­lah mengirim utusan kerajaannya ke negeri Cina. Pada bagian akhir abad ini pula I-Tsing, pendeta Budha dari Cina, singgah di Jambi. Sejak abad ke-7 sampai 15, agama Hindu-Budha menjadi anutan orang Melayu Jambi. Di Muara Jambi, yang terletak sekitar 30 kilo­meter ke arah timur laut kota Jambi, terdapat kom­pleks percandian yang sangat luas. Candi-candi de­ngan ukuran besar dan kecil berjumlah tidak kurang dari 30 buah. Candi-candi ini diperkirakan berasal dari abad ke-11 dan 14.
Pada abad ke-15, masyarakat Melayu Jambi mu­lai mendapat pengaruh Islam. Sejak itu agama Hindu- Budha secara berangsur-angsur tergeser oleh agama Islam. Akhirnya seperti yang terwujud sekarang, agama Islam menjadi anutan orang Melayu Jambi, dan mereka adalah pemeluk yang taat.
Orang Melayu Jambi adalah salah satu kelompok pemakai bahasa Melayu. Bahasa yang digunakan oleh orang Melayu Jambi mengalami perubahan dalam waktu dan keadaan setempat, sehingga men­jadi salah satu dialek bahasa Melayu. Ciri-ciri dialek Melayu Jambi, antara lain, vokal a pada akhir kata tertentu dalam bahasa Indonesia terdengar sebagai vo­kal o pada dialek Melayu Jambi. Contohnya, mata – mato, say o, lad a – lado, dsb.
Sebelum orang Melayu Jambi mengenal tulisan La­tin seperti sekarang, mereka telah mengenal dan meng­gunakan tulisan Pallawa dan tulisan Arab. Aksara Arab sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari se­bagai alat untuk memperoleh pengetahuan dan komu­nike; si. Aksara Arab itu lazim mereka kenal dengan nama tulisan “Arab Gundul” atau “Arab Melayu,” yang menunjukkan perbedaan tertentu dengan tulis­an aksara Arab untuk menuliskan kata-kata bahasa Melayu. Tulisan ini digunakan sejak masa kerajaan atau kesultanan Melayu yang lalu.
Bercocok tanam di ladang merupakan jenis mata pencaharian yang cukup penting bagi masyarakat Me­layu Jambi pada masa kini. Mereka juga mengenal mata pencaharian menangkap ikan, berburu, meramu hasil hutan, berdagang, bersawah, menjadi pegawai negeri, ABRI, buruh, dsb. Untuk jenis mata penca­harian tradisional seperti berladang, menangkap ikan, dan berburu, mereka mengembangkan alat dan tekno­logi tersendiri misalnya dalam penangkapan ikan di­gunakan tuba akar, taiman, ambat, tangkul, kacar, sukam, lukah, r awe, cemeti k, takalak, dsb.
Orang Melayu Jambi mengenal dan menggolongkan perladangan dalam beberapa bentuk, yaitu pere- lak, kebun mudo, umo renah, dan umo talang. Pere- lak ialah sebidang tanah di sekitar desa Ckampung) yang ditanami berjenis-jenis tanaman untuk meme­nuhi kebutuhan dapur sehari-hari, seperti cabai, ku­nyit, serai, laos, tomat, kacang gulai, ubi rambat, ubi kayu, dan pisang. Kebun mudo ialah sebidang tanah yang ditanami satu jenis tanaman muda tertentu, mi­salnya pisang, kedelai, atau kacang tanah. Umo renah ialah ladang cukup luas yang ditanami padi dengan selingan tanaman muda, seperti cabai, tomat, terong, labu, ketimun. Di sekitar ladang itu mereka juga me­nanam tanaman keras seperti duku, durian, karet, dsb. Umo talang adalah ladang jauh di tengah hutan, yang biasanya ditanami padi. Di sini mereka juga mena­nam tanaman keras, seperti karet dan durian. Mereka juga membuat rumah yang dihuni selama menunggu panen padi. Setelah panen, ladang tersebut akan men­jadi kebun karet atau kebun durian.
Dalam bercocok tanam di ladang sering dilaksana­kan upacara gotong royong, yang dikenal dengan na­ma katalang-petang. Upacara ini dilaksanakan pada musim bertanam atau pada waktu panen padi. Pemilik ladang yang ladangnya cukup luas mengundang dan menyediakan makanan bagi warga kampungnya, ter­utama kaum muda-mudi. Upacara adat ini berlang­sung sehari semalam. Para undangan datang pada sore hari dengan mengenakan pakaian bagus, sebab pada malam harinya akan berlangsung acara muda-mudi semalam suntuk. Dalam acara ini mereka berdendang, bersenandung, menampilkan tari rangguk, tari selam­pit, berdzikir, dsb. Pagi harinya mereka bekerja de­ngan selingan nyanyian dan pantun bersahut-sahut­an. Orang-orang tua biasanya menyingkir agar kaum muda-mudi mendapat kesempatan dan kebebasan un­tuk saling berkenalan. Acara ini biasanya berakhir ke­tika matahari hampir terbenam.
Masyarakat Melayu Jambi mengenal tiga jenis sa­wah, yaitu sawah payau, sawah tadah hujan, dan sa­wah pasang-surut. Sawah payau adalah sawah yang airnya berasal dari sumber mata air yang telah tersedia secara alamiah atau tanahnya sendiri memang sudah berlumpur. Sawah tadah hujan adalah sawah yang air­nya tergantung pada turunnya hujan. Sawah pasang- surut terdapat di tepi pantai dengan lahan yang di­pengaruhi oleh pasang-surutnya air laut. Untuk sa­wah jenis ini para petani membuat parit-parit dengan lebar sekitar 5-6 meter. Parit ini berfungsi sebagai sarana lalu lintas perahu pada musim pasang dan se­bagai jalan air yang akan menggenangi sawah. Se­waktu pasang surut, parit berfungsi sebagai saluran untuk mempercepat keringnya air yang tergenang di sawah.
Kelompok kekerabatan terkecil umumnya adalah keluarga inti monogami. Sistem penarikan garis ke­turunannya adalah bilateral; hubungan kekerabatan ke pihak laki-laki dan perempuan setara. Pencarian jodoh lebih cenderung antara anggota satu kampung atau dusun. Pembatasan jodoh tidak terlalu ketat, ke­cuali antara orang-orang yang bersaudara kandung. Komuniti kecil atau kesatuan hidup setempat, yang dikenal dengan nama kampung, dipimpin oleh kepala kampung.

PENGERTIAN MELAYU JAMBI | ok-review | 4.5