PENGERTIAN MASYARAKAT SIPIL ATAU MADANI

By On Tuesday, October 8th, 2013 Categories : Antropologi

Hegel melihat kandungan masyarakat sipil itu terutama ditentukan oleh permainan bebas kekuatan-kekuatan ekonomi dan pencarian jati diri individual. Ini merupakan sebuah konsep lama dalam pemikiran sosial dan politik yang belakangan ini bangkit kembali, terutama di Eropa Timur (meskipun konsep itu juga bangkit kembali di Barat). Secara tradisional, tepatnya sampai pada abad 18, istilah tersebut kurang lebih sekedar terjemahan istilah Romawi societas civilis, atau istilah Yunani koinonia politike. Istilah tersebut sinonim dengan” masyarakat politik”. Ketika Locke berbicara tentang “pemerintahan politik”. Adalah Hegel yang berjasa mengembangkan makna moderen dari konsep masyarakat sipu Dalam bukunya yang berjudul Philosophy of Right, masyarakat sipil adalah wadah kehidupan etis yang terletak di antara kehidupan keluarga dan kehidupan kewarganegaraan. Sebagaimana para ekonom Inggris. Namun masyarakat sipil juga mencakup lembaga-lembaga sosial dan kenegaraan yang mewadahi dan mengatur kehidupan ekonomi, yang selanjutnya memicu proses pendidikan bagi gagasan kehidupan kenegaraan secara rasional. Jadi kekhasan masyarakat sipil telah melampaui universalitas negara. Sementara itu Marx, meskipun mengakui r.uang budi intelektualnya kepada Hegel, mempersempit makna masyarakat sipil itu untuk perjelas gagasannya sendiri mengenai pemilikan pribadi dan hubungan-hubungan rasa Marx mengatakan “anatomi masyarakat sipil harus dilihat dalam kerangka ekonomi politik”. Pembatasan ini sesungguhnya mengancam kegunaan istilah itu sendiri. Untuk apa lagi kita perlu konsep masyarakat sipil kalau istilah ekonomi atau “masyarakat” sudah cukup untuk menggambarkan segala kondisi yang menyangkut kehidupan kenegaraan dan politik secara keseluruhan? Dalam tulisan-tulisan berikutnya, Marx bahkan mencampakkan istilah tersebut, dan menggantinya dengan dikotomi sederhana” masyarakat-negara”. Para ilmuwan lainnya, tidak hanya mereka yang dipengaruhi oleh Marx, juga kian kehilangan minat untuk mempertahankan konsep masyarakat sipil. Istilah “masyarakat politik” yang digunakan Alexis de Tocqueville dalam karyanya yang berjudul Democracy in America (1835-40) menghidupkan kembali istilah masyarakat sipil yang kali ini diartikannya sebagai pendidikan kewarganegaraan. Namun Tocqueville tidak cukup bersungguh-sungguh untuk menghidupkan istilah yang pada masa itu pun sudah dianggap ketinggalan zaman. Sejak paruh kedua abad 19 istilah “masyarakat sipil” digunakan secara serampangan. Antonio Gramsci dalam kumpulan tulisan berjudul Prison Notebooks (1971 (1929-35]), mencoba menyelamatkan konsep tersebut di awal abad 20. Gramsci. meskipun tetap berpegang pada orientasi dasar Marxis, kembali ke gagasan kembali konsep tersebut agar maknanya pulih sebagaimana mestinya. Lebih jauh dari Hegel dengan memisahkan makna masyarakat sipil dari ekonomi dan semata-mata mengaitkannya dengan negara. Masyarakat sipil dinyatakan sebagai bagian dari negara yang terlepas dari pemaksaan atau aturan-aturan formal, meskipun tetap mengandung unsur rekayasa seperti lazimnya institusi politik. Konsep terhadap masyarakat. Disamping itu, masyarakat sipil juga merupakan arena di mana hegemoni itu sendiri dapat ditentang atau digoyahkan secara sah. Selama dekade-dekade radikal 1960-andan 1970-an, konsep masyarakat sipil dari Gramsci itulah yang sangat disukai, khususnya oleh mereka yang mencoba menentang struktur penguasa di masyarakat tanpa melalui konfrontasi politik langsung (mereka lebih memilih perang saraf budaya secara bergerilya). Kebudayaan dan pendidikan merupakan lahan di mana hegemoni dapat ditentang dan diakhiri.
Nafas baru juga ditiupkan bagi konsep tersebut oleh serangkaian perubahan bertahap di Eropa T engah dan Timur pada akhir 1970-an dan 1980- an. Para pembangkang di kawasan tersebut kembali menggunakan konsep masyarakat sipil sebagai senjata untuk menentang segala bentuk kesewenang-wenangan. Contoh gerakan Solidaritas di Polandia mengisayaratkan adanya model oposisi dan regenerasi yang dapat secara efektif digunakan sebagai wahana memperjuangkan perubahan tanpa harus melakukan bentrokan secara sia-sia dengan penguasa yang tentunya jauh lebih kuat. Menjelang keberhasilan revolusi anti-komunis di seluruh kawasan itu di tahun 1989, konsep masyarakat sipil menjadi sangat populer. Bagi banyak kalangan intelektual, konsep tersebut menjanjikan suatu rute aman menuju kondisi pasca komunis, yakni suatu masyarakat pluralis yang mereka yakini lebih baik sekalipun bentuk detilnya tidak mereka ketahui. Para intelektual Barat pun juga terkesan dengan konsep tersebut. Bagi mereka konsep itu merupakan suatu perspektif baru untuk mengatasi masalah lama di seputar demokrasi dan partisipasi politik di berbagai masyarakat yang proses politiknya serba tertutup dan terbatas. Jadi jelaslah bahwa konsep masyarakat sipil telah bangkit kembali. Seperti halnya pada abad 18, kini kita merasakan lagi perlunya mendefinisikan dan membedakan ruang lingkup kemasyarakatan yang terpisah dari cakupan kenegaraan. Kewarganegaraan nampaknya tergantung pada praktek partisipasi aktif anggota masyarakat di berbagai lembaga non-kenegaraan sebagai landasan bagi mereka untuk berpartisipasi dalam lembaga-lembaga politik resmi. Inilah yang sesungguhnya dikemukakan oleh Tocqueville mengenai demokrasi Amerika. Baginya, hal tersebut merupakan suatu pelajaran yang harus diperhatikan oleh masyarakat lainnya. Pertanyaan yang masih harus dijawab berkenaan dengan “masyarakat sipil”, adalah apakah konsep itu hanya merupakan suatu himbauan atau slogan, ataukah hal itu memang mengandung substansi yang berarti dalam menunjang penciptaan lembaga-lembaga konkret yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan.

PENGERTIAN MASYARAKAT SIPIL ATAU MADANI | ok-review | 4.5